NASIONAL
Peristiwa
Umumkan Lebaran Lebih Awal! Muhammadiyah Tetapkan 1 Syawal Jatuh pada 20 Maret 2026
Tim Redaksi
17 Mar 2026 12:22
4,464 kali
Gambar Ilustrasi
Muhammadiyah menggunakan perhitungan astronomi atau hisab hakiki dengan prinsip, syarat, dan parameter yang terdapat dalam KHGT. Sistem ini menetapkan satu kalender Hijriah yang berlaku secara global, sehingga tanggal Hijriyah di seluruh dunia bisa sama tanpa bergantung pada pengamatan hilal di suatu wilayah tertentu. "Kami menyampaikan khususnya pada seluruh warga besar dan simpatisan Muhammadiyah dan mudah-mudahan juga bermanfaat untuk kaum muslimin," ujar Haedar.
FolksInsight.com - Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi mengumumkan bahwa Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriyah akan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan ini didasarkan pada metode hisab atau perhitungan astronomi yang mengacu pada sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan langsung keputusan tersebut dalam konferensi pers di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Senin (16/3/2026). Penetapan ini juga telah tertuang dalam Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriyah.
Muhammadiyah menggunakan perhitungan astronomi atau hisab hakiki dengan prinsip, syarat, dan parameter yang terdapat dalam KHGT. Sistem ini menetapkan satu kalender Hijriah yang berlaku secara global, sehingga tanggal Hijriyah di seluruh dunia bisa sama tanpa bergantung pada pengamatan hilal di suatu wilayah tertentu. "Kami menyampaikan khususnya pada seluruh warga besar dan simpatisan Muhammadiyah dan mudah-mudahan juga bermanfaat untuk kaum muslimin," ujar Haedar.
Haedar menjelaskan, penetapan awal Syawal dengan metode hisab KHGT ini menjadi langkah Muhammadiyah untuk memberikan kepastian dan keseragaman perhitungan kalender Hijriah di seluruh dunia. Dengan metode tersebut, penentuan awal Ramadhan dan awal Syawal tidak lagi bergantung pada pengamatan hilal di satu wilayah tertentu, melainkan pada posisi astronomis bulan yang telah memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam kalender global.
Keputusan ini menjadi pedoman resmi bagi warga Muhammadiyah dalam menyelenggarakan ibadah sholat Idul Fitri, silaturahim, dan tradisi Lebaran. Haedar mengimbau kepada seluruh warga Muhammadiyah dan simpatisan untuk melaksanakan sholat Idul Fitri di lapangan atau di masjid jika kondisi tidak memungkinkan. "Kami harapkan kepada seluruh warga simpatisan dan juga manakala berkenan untuk kaum muslimin, kami persilakan untuk melaksanakan sholat Idul Fitri di lapangan atau manakala kondisi tidak memungkinkan di suatu tempat di masjid atau di tempat-tempat yang memang bisa untuk melaksanakan sholat Id," terangnya.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia akan mengumumkan awal Syawal melalui sidang isbat yang mengombinasikan metode hisab dan rukyatul hilal atau pengamatan hilal secara langsung. Seperti halnya penetapan awal Ramadhan lalu, kemungkinan besar akan kembali terjadi perbedaan penetapan 1 Syawal antara Muhammadiyah dan pemerintah.
Menanggapi potensi perbedaan tersebut, Haedar Nashir menegaskan bahwa perbedaan metode penetapan awal Syawal tidak boleh mengurangi makna kebersamaan umat Islam dalam merayakan Idul Fitri. Ia mengajak seluruh umat Islam di Indonesia untuk saling menghormati perbedaan yang ada. "Kalau ada perbedaan dalam pelaksanaan Idul Fitri, kami menghargai dan kami mohon untuk saling menghargai dan semua tempat-tempat publik untuk dapat dijadikan tempat untuk Idul Fitri baik bagi Muhammadiyah maupun untuk warga kaum muslimin lainnya untuk melaksanakan sholat Ied," kata Haedar.
Lebih lanjut, Haedar mengajak seluruh umat Islam untuk menjadikan momentum Idul Fitri sebagai sarana menggali dan mengimplementasikan sumber-sumber pencerahan agama dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, berbangsa, dan bernegara. "Lebih dari itu substansinya, mari Idul Fitri ini (baik) dalam kesamaan ataupun perbedaan kita jadikan momentum untuk menggali, mengimplementasikan sumber-sumber pencerahan agama bagi kehidupan kita, pribadi keluarga, masyarakat berbangsa, bernegara bahkan dalam kehidupan global yang sarat tantangan dan masalah seperti sekarang ini," ungkapnya.
Dengan pengumuman ini, masyarakat khususnya warga Muhammadiyah dapat mulai mempersiapkan diri untuk merayakan Idul Fitri pada Jumat, 20 Maret 2026, sambil menunggu penetapan resmi dari pemerintah melalui sidang isbat.