folksinsight.com – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan besar terhadap berbagai sektor industri, termasuk profesi penerjemah dan juru bahasa. Kemampuan AI menghasilkan terjemahan secara cepat memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana masa depan profesi bahasa di tengah perubahan tersebut.
Isu tersebut menjadi salah satu topik utama dalam kegiatan Interpreting: Practitioner Series – Elevate Your Skills with Insights and Training from Professional Interpreters yang diselenggarakan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Kamis (24/6). Kegiatan yang berlangsung di Gedung Dewi Sartika, Kampus UNJ, menghadirkan praktisi industri bahasa serta pelaku usaha jasa profesional untuk berbagi pengalaman kepada mahasiswa.
Salah satu pembicara, Sony Novian, Co-Founder Katagonia Language Solutions sekaligus Ketua Umum Ikatan Agensi Jasa Bahasa (IKASA), menilai bahwa perkembangan AI tidak serta-merta menghilangkan profesi penerjemah maupun interpreter. Menurutnya, teknologi lebih banyak menggantikan pekerjaan yang bersifat rutin, sedangkan aspek yang membutuhkan pemahaman konteks, budaya, hingga pertimbangan profesional masih memerlukan peran manusia.
Dalam pemaparannya, Sony menjelaskan pentingnya perubahan cara pandang para profesional bahasa terhadap layanan yang mereka tawarkan. Ia menilai penerjemah tidak lagi cukup hanya menjual kemampuan menerjemahkan kata demi kata, tetapi perlu menghadirkan nilai tambah melalui keahlian analisis, mitigasi risiko komunikasi, serta pemahaman terhadap kebutuhan klien di berbagai sektor.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk mulai membangun spesialisasi di bidang tertentu, seperti hukum, kesehatan, bisnis, maupun komunikasi korporasi. Menurutnya, spesialisasi dapat meningkatkan daya saing sekaligus memperkuat posisi profesional bahasa di tengah perkembangan teknologi.
Selain itu, Sony menekankan bahwa AI sebaiknya dipandang sebagai alat bantu yang dapat meningkatkan produktivitas, bukan sebagai ancaman yang harus dihindari. Teknologi dinilai efektif dalam penyusunan draf awal maupun pekerjaan berulang, sementara proses validasi, interpretasi konteks, serta pengambilan keputusan akhir tetap membutuhkan kompetensi manusia.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya membangun jejaring profesional melalui organisasi maupun asosiasi industri. Menurutnya, kolaborasi dalam ekosistem profesi membuka peluang terhadap proyek yang lebih besar, penerapan standar mutu, hingga pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
Pada sesi berikutnya, Andri Manik, wirausahawan muda yang juga aktif di Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Jakarta serta Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Jakarta Barat, membahas peluang dan tantangan membangun usaha di sektor jasa.
Andri menjelaskan bahwa bisnis jasa menawarkan peluang pertumbuhan yang cukup besar karena bergantung pada kompetensi dan kualitas pelayanan. Namun di sisi lain, pelaku usaha juga harus siap menghadapi berbagai tantangan, mulai dari persaingan pasar, pengelolaan hubungan dengan klien, hingga dinamika kondisi ekonomi.
Menurutnya, membangun usaha membutuhkan kesiapan mental, kemampuan komunikasi, dan konsistensi dalam menjaga kualitas layanan. Ia mengingatkan bahwa ekspektasi terhadap dunia kewirausahaan perlu dibangun secara realistis karena prosesnya tidak selalu berjalan mudah.
Dalam sesi diskusi, Andri juga menyinggung pentingnya keseimbangan antara profesionalisme dan pengembangan diri. Ia berpandangan bahwa tantangan dalam dunia kerja dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran, selama tetap dikelola secara sehat dan bertanggung jawab. Pandangan tersebut kemudian memunculkan beragam tanggapan dari peserta dan berkembang menjadi diskusi interaktif bersama mahasiswa.
Secara umum, kedua narasumber sepakat bahwa profesi bahasa sedang mengalami transformasi sebagai dampak perkembangan teknologi digital. Kemampuan linguistik dinilai tetap penting, namun perlu dilengkapi dengan kompetensi lain seperti pemahaman industri, komunikasi strategis, kemampuan beradaptasi terhadap teknologi, serta pengembangan jejaring profesional.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni UNJ diharapkan memperoleh gambaran mengenai perubahan kebutuhan industri sekaligus mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja yang semakin terdigitalisasi. AI dipandang bukan sebagai akhir dari profesi bahasa, melainkan sebagai momentum untuk meningkatkan kompetensi dan menghadirkan layanan yang memiliki nilai tambah bagi masyarakat maupun dunia usaha.
Redaksi FolksInsight




