00:00:00
-
-
NASIONAL Peristiwa

Sony Novian: Profesi Penerjemah Tidak Hilang oleh AI, tapi Berubah Secara Fundamental

Sony Novian: Profesi Penerjemah Tidak Hilang oleh AI, tapi Berubah Secara Fundamental

Sony menilai bahwa kecemasan terhadap AI muncul karena profesi penerjemah selama ini terlalu lama dipersempit hanya pada kemampuan teknis berbahasa. Padahal, dalam praktik industri, nilai penerjemah justru terletak pada penilaian, tanggung jawab, dan pemahaman konteks—hal-hal yang tidak bisa digantikan mesin.

Folksinsight.com – Di tengah kekhawatiran global tentang kecerdasan buatan (AI) yang disebut-sebut mengancam profesi penerjemah, Sony Novian, Ketua Umum Ikatan Agensi Jasa Bahasa (IKASA), tampil membawa narasi yang berbeda. Dalam acara Temu Penerjemah Jawa Timur (TPJ) 2026 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sony menegaskan bahwa industri jasa bahasa tidak sedang menuju kepunahan, melainkan sedang mengalami transformasi mendasar.

Pernyataan itu disampaikan Sony Novian saat menjadi pembicara dan ditemui wartawan di sela kegiatan TPJ 2026 yang digagas oleh Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) Komisariat Daerah Jawa Timur.

“Banyak laporan menyebut penerjemah sebagai profesi paling rentan terhadap AI. Tapi yang sering luput adalah fakta bahwa yang tergantikan itu tugas-tugas tertentu, bukan keseluruhan profesi,” ujar Sony.

Dari Kecakapan Bahasa ke Tanggung Jawab Profesional

Sony menilai bahwa kecemasan terhadap AI muncul karena profesi penerjemah selama ini terlalu lama dipersempit hanya pada kemampuan teknis berbahasa. Padahal, dalam praktik industri, nilai penerjemah justru terletak pada penilaian, tanggung jawab, dan pemahaman konteks—hal-hal yang tidak bisa digantikan mesin.

“AI sangat bagus untuk kecepatan dan volume. Tapi ketika terjemahan menyangkut risiko hukum, reputasi, keselamatan, atau etika, keputusan tetap harus dipegang manusia,” jelasnya.

Menurut Sony, masalah terbesar bukanlah AI, melainkan pola pikir lama yang masih menempatkan penerjemah sebagai operator produksi, diukur dari jumlah kata, tarif per jam, dan kecepatan kerja.

“Selama penerjemah memposisikan dirinya hanya sebagai pengalih kata, ia akan selalu berhadapan langsung dengan mesin dan harga murah. Tapi ketika ia memosisikan diri sebagai penjaga makna, mitigator risiko, dan mitra strategis klien, posisinya berubah total,” tegasnya.

Hierarki Nilai dalam Industri Jasa Bahasa

Dalam pemaparannya di TPJ 2026, Sony Novian memperkenalkan cara pandang tentang lapisan nilai (value layers) dalam industri jasa bahasa. Di lapisan terbawah, penerjemah bersaing langsung dengan AI gratis dan otomatisasi. Namun semakin ke atas, nilai dibangun melalui spesialisasi, sistem kerja, akuntabilitas, dan kepemimpinan ekosistem.

“Yang membuat seseorang tidak tergantikan bukanlah seberapa cepat ia bekerja, tapi seberapa besar risiko yang bisa ia tanggung dan kelola,” ujar Sony.

Ia mencontohkan perbedaan antara penerjemah yang menjual jasa “menerjemahkan dokumen” dengan profesional yang menawarkan jaminan kepastian hukum, keamanan merek, atau kepatuhan regulasi.

“Di era kata-kata bisa dihasilkan dalam hitungan detik, yang dibeli klien bukan lagi teks, tapi kepastian dan kepercayaan,” katanya.

AI sebagai Asisten, Bukan Pengambil Keputusan

Alih-alih menolak teknologi, Sony justru mendorong penerjemah dan agensi bahasa untuk mengadopsi strategi hibrida: memanfaatkan AI untuk efisiensi, namun tetap mempertahankan otoritas manusia pada tahap interpretasi dan keputusan akhir.

Ketua umum IKASA dan HIPPI DPC Jakarta Barat

Ketua umum IKASA dan HIPPI DPC Jakarta Barat

“AI itu seperti staf junior yang sangat cepat, tapi tidak bisa diserahi tanggung jawab. Otoritas tetap ada di manusia,” ujarnya.

Menurut Sony, pendekatan ini justru membuka peluang pertumbuhan baru, karena memungkinkan profesional bahasa fokus pada aspek bernilai tinggi seperti analisis konteks, komunikasi lintas budaya, dan pengelolaan risiko.

Bisnis, Etika, dan Nilai ‘Amal Usaha’

Sony juga mengaitkan transformasi industri jasa bahasa dengan nilai etis. Ia mengapresiasi konsep ‘amal usaha’ yang dipegang Universitas Muhammadiyah Malang, bisnis sebagai perpanjangan misi dan nilai, bukan sekadar pencarian keuntungan.

“Profesi yang tidak mampu menopang kesejahteraan pelakunya tidak akan mampu melayani masyarakat dengan baik. Harga yang adil, standar kualitas, dan etika kerja bukan strategi bisnis semata, tapi amanah,” ujarnya.

Baginya, keberlanjutan ekonomi dan integritas profesional bukan dua hal yang bertentangan, melainkan saling menguatkan.

Ekosistem, Bukan Karier Sendiri-Sendiri

Sebagai Ketua Umum IKASA, Sony Novian menegaskan bahwa masa depan industri jasa bahasa tidak dibangun oleh individu yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan oleh ekosistem yang sehat—agensi, organisasi profesi, akademisi, dan pelaku industri.

“Networking bukan soal jual diri. Dalam tradisi kita, itu ta’awun, saling menguatkan. Reputasi dibangun dari kontribusi dan keandalan, bukan dari promosi kosong,” katanya.

Ia mendorong penerjemah untuk aktif berorganisasi, membangun sistem, dan berbagi pengetahuan lintas generasi agar industri tidak kehilangan memori institusionalnya.

Manusia Tetap di Pusat Masa Depan Industri

Menutup refleksinya, Sony Novian menegaskan bahwa masa depan industri bahasa tetap human-led.

“AI bisa memproses informasi, tapi tidak bisa memikul tanggung jawab. Ia tidak bisa membangun kepercayaan, menanggung risiko, atau membuat keputusan etis,” ujarnya.

Dalam dunia yang semakin otomatis dan bising, Sony percaya peran penerjemah justru akan semakin penting—sebagai penyedia kejelasan, makna, dan tanggung jawab.

“Yang akan bertahan bukan yang paling cepat, tapi yang paling relevan,” pungkasnya. (*)

#HIPPI #IKASA #TPJ #HPI

Berita Terkait