NASIONAL
Peristiwa
Prabowo Kumpulkan Mantan Presiden dan Menlu, Bahas Dampak Perang AS-Iran yang Makin Panas
Tim Redaksi
04 Mar 2026 20:35
586 kali
Gambar Ilustrasi
Selain aspek geopolitik, pertemuan tersebut juga membahas implikasi ekonomi dari perang yang berkecamuk. Presiden Prabowo dan para tokoh nasional melakukan kalkulasi terhadap potensi efek perang terhadap ekonomi dunia, khususnya yang berkaitan dengan pasokan minyak dan gas. "Potensi efek dari perang ini terhadap ekonomi dunia khususnya yang menyangkut supply, oil, minyak, dan gas kita berhitung semua apa efeknya terhadap kita," kata Hassan.
FolksInsight.com - Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan khusus dengan sejumlah tokoh bangsa, termasuk mantan presiden, wakil presiden, menteri luar negeri terdahulu, serta ketua umum partai politik parlemen di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa malam (3/3/2026). Agenda utama pertemuan tersebut adalah membahas eskalasi konflik terbaru di Timur Tengah, khususnya serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, serta dampaknya terhadap Indonesia dan tatanan global.
Mantan Menteri Luar Negeri Noer Hassan Wirajuda yang turut hadir dalam pertemuan tersebut mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo memberikan paparan mendalam mengenai perkembangan situasi terkini di kawasan Teluk. "Khususnya berkaitan dengan yang selama ini sudah menjadi perhatian banyak diantara kita yaitu mengenai yang paling mutakhir tentunya perkembangan perang atau serangan Amerika dan Israel terhadap Iran," ucap Hassan di kompleks Istana Kepresidenan usai pertemuan.
Menurut Hassan, Kepala Negara secara khusus menyoroti implikasi luas dari konflik tersebut, tidak hanya terhadap Indonesia tetapi juga terhadap efektivitas tatanan dunia yang ada. Prabowo disebut menyoroti lemahnya peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam mencegah atau menghentikan agresi militer. "Ketika tatanan dunia sudah tidak lagi efektif dan tidak ada lagi peluang kepada negara yang menjadi korban serangan militer mengadu kepada siapa," tuturnya menggambarkan kekhawatiran yang dibahas dalam forum.
Hassan menambahkan bahwa sistem berbasis aturan atau rule-based order saat ini hanya tinggal konsep di atas kertas. PBB dinilai tidak lagi memiliki kekuatan memaksa, terutama jika menyangkut negara-negara besar yang terlibat konflik. Situasi ini, menurutnya, menjadi dilema serius tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi negara-negara lain di dunia.
Selain aspek geopolitik, pertemuan tersebut juga membahas implikasi ekonomi dari perang yang berkecamuk. Presiden Prabowo dan para tokoh nasional melakukan kalkulasi terhadap potensi efek perang terhadap ekonomi dunia, khususnya yang berkaitan dengan pasokan minyak dan gas. "Potensi efek dari perang ini terhadap ekonomi dunia khususnya yang menyangkut supply, oil, minyak, dan gas kita berhitung semua apa efeknya terhadap kita," kata Hassan.
Tak hanya itu, diskusi juga merambah pada perhitungan mengenai durasi konflik. Para tokoh mencermati pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya mengatakan perang akan berlangsung beberapa hari, namun kini berubah menjadi hitungan minggu. "Sebelumnya (Presiden AS) Donald Trump mengatakan berapa hari, tetapi sekarang bicara berapa minggu," ujar Hassan menirukan pembahasan dalam forum.
Isu lain yang turut mengemuka adalah posisi Indonesia dalam Board of Peace atau Dewan Perdamaian. Para tokoh mendiskusikan apakah dengan berkecamuknya perang di Iran, posisi dan mandat Indonesia dalam forum internasional tersebut akan melemah atau justru semakin relevan. "Kami bahas, tapi juga dalam konteks perkembangan mutakhir apakah dengan perang yang berkecamuk di Iran ini akan melemahkan posisi dan mandat BoP kita akan berhitung lagi sisi itu," tutup Hassan. Pertemuan ini menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam merespons dinamika global yang berdampak langsung pada kepentingan nasional.