NASIONAL
Peristiwa
Luhut Buka Suara soal Perang Iran vs AS-Israel: Lawan Tangguh, Dampaknya Bisa Jebol APBN Kita!
Tim Redaksi
06 Mar 2026 19:07
4,823 kali
Gambar Ilustrasi
"Meskipun ada beberapa pimpinan Iran yang terbunuh dalam perang, tetap tidak ada sinyal yang menunjukkan pelemahan serangan Teheran," ujar Luhut. Berdasarkan pengamatannya, pria yang juga mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi ini memprediksi bahwa konflik tidak akan berakhir dalam waktu dekat. "Saya melihat perang ini tidak akan selesai dalam empat minggu atau satu bulan ke depan," imbuhnya.
FolksInsight.com - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, angkat bicara mengenai konflik berkepanjangan antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Dalam analisisnya, Luhut menilai Iran bukanlah lawan yang mudah. Bahkan, ia menyoroti ketangguhan negara tersebut yang tak menunjukkan tanda-tanda pelemahan meski sejumlah pemimpinnya gugur di medan perang. Lebih jauh, Luhut juga memperingatkan dampak serius konflik ini terhadap perekonomian Indonesia, terutama dari sisi energi dan APBN.
Melalui unggahan di akun Instagram resminya @luhut.pandjaitan pada Jumat, 6 Maret 2026, Luhut mengungkapkan bahwa kekuatan utama Iran terletak pada persenjataannya, khususnya kemampuan roket dan drone yang menjadi kunci dalam dinamika perang. Ia juga menyoroti karakter bangsa Iran yang sejak ribuan tahun tidak pernah dijajah dan dikenal sebagai bangsa pejuang atau fighter.
"Meskipun ada beberapa pimpinan Iran yang terbunuh dalam perang, tetap tidak ada sinyal yang menunjukkan pelemahan serangan Teheran," ujar Luhut. Berdasarkan pengamatannya, pria yang juga mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi ini memprediksi bahwa konflik tidak akan berakhir dalam waktu dekat. "Saya melihat perang ini tidak akan selesai dalam empat minggu atau satu bulan ke depan," imbuhnya.
Lebih lanjut, Luhut menyoroti potensi ancaman terbesar bagi Indonesia, yaitu terganggunya jalur distribusi energi global. Ia mengingatkan bahwa Iran dapat saja menutup Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital pengiriman minyak dunia. Sebagian impor minyak mentah Indonesia juga bergantung pada kawasan Timur Tengah yang melewati selat tersebut.
Kekhawatiran ini langsung berdampak pada proyeksi harga minyak. Luhut menyebut harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga US$100 per barel. Saat ini saja, harga sudah berada di level US$78 per barel, angka yang sudah melampaui asumsi Indonesia Crude Price (ICP) yang ditetapkan pemerintah dalam APBN 2026, yakni sebesar US$70 per barel. "Padahal kita bikin di APBN US$70 ya. Jadi ini yang harus kita amati. Kalau sampai (perang) ini berkelanjutan, lama, harga minyak naik. Itu betul-betul harus kita cermati," tegasnya.
Menghadapi skenario terburuk tersebut, Luhut mengimbau pemerintah untuk segera melakukan perhitungan detail dan akurat. Pemerintah perlu mengetahui secara pasti berapa lama cadangan Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia dapat bertahan. Jika cadangan hanya cukup untuk 30 hari, maka langkah selanjutnya adalah memetakan sumber impor minyak alternatif.
"Dari mana kita harus import minyak, berapa cost-nya, berapa selisihnya, apa dampaknya pada APBN. Kita juga diskusi-diskusi terbuka di Dewan Ekonomi. Kita dengarkan pendapat-pendapat, bagaimana ini. Nanti kita berikan pendapat kita pada pemerintah," papar Luhut.
Di tengah ketidakpastian global ini, Luhut mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap bersatu dan mendukung pemerintah. Menurutnya, soliditas nasional sangat diperlukan agar setiap kebijakan yang diambil dapat efektif menjaga stabilitas ekonomi dan sosial di dalam negeri.