NASIONAL
Peristiwa
Pemerintah Angkat Bicara! Harga Minit Jagad Mumbul, BBM Subsidi Tetap Aman
Tim Redaksi
05 Mar 2026 19:56
4,701 kali
Gambar Ilustrasi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa pemerintah masih akan memantau perkembangan konflik dan dampaknya terhadap harga minyak mentah dunia sebelum mengambil keputusan lebih lanjut. Ia menegaskan bahwa asumsi makro dalam APBN masih menjadi acuan utama.
FolksInsight.com - Konflik geopolitik yang memanas di Timur Tengah telah mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia. Namun, pemerintah Indonesia memastikan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terkait harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Melalui pernyataan resmi dua menteri, ditegaskan bahwa harga BBM subsidi seperti Pertalite saat ini belum akan mengalami kenaikan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa pemerintah masih akan memantau perkembangan konflik dan dampaknya terhadap harga minyak mentah dunia sebelum mengambil keputusan lebih lanjut. Ia menegaskan bahwa asumsi makro dalam APBN masih menjadi acuan utama.
"Belum (menaikkan harga BBM subsidi). Kan (asumsi makro) APBN kita kemarin di 70 dolar AS per barel (ICP). Jadi kita tunggu saja," kata Airlangga saat ditemui di Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Menanggapi kemungkinan konflik yang berkepanjangan, Airlangga mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyiapkan sejumlah skenario antisipasi. "Sampai kapan, ya perang bisa tiga bulan, bisa enam bulan, bisa lebih. Jadi kita masing-masing (menyiapkan) ada skenario," ujarnya.
Senada dengan Airlangga, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, juga memberikan pernyataan serupa. Ia menegaskan bahwa harga BBM subsidi, khususnya Pertalite, tidak akan bergejolak meskipun harga minyak dunia meroket akibat perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.
"Kalau harga BBM yang subsidi, yang bensin Pertalite, itu mau (harga minyak dunia) naik berapa pun, tetap harganya sama sebelum ada perubahan dari pemerintah," ujar Bahlil dalam Konferensi Pers Perkembangan Terkini Timur Tengah dan Implikasi Terhadap Sektor ESDM, yang digelar di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta.
Namun, Bahlil memberikan catatan bahwa untuk BBM nonsubsidi seperti Pertamax, akan mengalami penyesuaian harga mengikuti fluktuasi pasar. Saat ini, harga minyak mentah dunia tercatat telah naik ke kisaran 78-80 dolar AS per barel, melebihi asumsi makro APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel.
Sebagai negara pengimpor minyak dengan kebutuhan sekitar 1 juta barel per hari, lonjakan harga ini tentu membawa konsekuensi pada APBN. Potensi pembengkakan subsidi energi yang harus ditanggung negara menjadi perhatian serius. Di sisi lain, Indonesia juga mendapatkan tambahan pendapatan dari kenaikan harga ini berkat produksi minyak dalam negeri yang mencapai sekitar 600 ribu barel per hari.
"Karena Indonesia kan berkontribusi kurang lebih sekitar 600 ribu barel per hari. Nah, selisih ini yang sedang kami hitung," ucap Bahlil, menjelaskan kompleksitas perhitungan yang sedang dilakukan pemerintah.
Bahlil menekankan bahwa perhitungan dampak kenaikan harga minyak dunia akan dilakukan dengan sangat hati-hati, mengingat kaitannya yang erat dengan subsidi energi di dalam negeri. Kesalahan dalam perhitungan dapat berakibat fatal pada anggaran negara.
Kabar baiknya, setelah menggelar rapat Dewan Energi Nasional, pemerintah memastikan bahwa hingga saat ini belum ada rencana untuk menaikkan harga BBM bersubsidi. Masyarakat dapat menjalankan ibadah puasa dan merayakan hari raya dengan tenang tanpa dibayangi kekhawatiran kenaikan harga BBM.
"Sampai dengan kami rapat tadi, belum ada (kenaikan harga BBM subsidi), jadi aman-aman saja. Hari raya yang baik, puasa yang baik, insya Allah belum ada kenaikan harga BBM," kata Bahlil menutup pernyataannya.
Dengan pernyataan resmi dari dua menteri ini, masyarakat diharapkan tidak termakan isu-isu tidak bertanggung jawab terkait kenaikan BBM. Pemerintah berkomitmen untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, terutama di bulan suci Ramadan dan menjelang Hari Raya Idulfitri.