BREAKING Selamat datang di FolksInsight.com I Informasi Berbasis Data, Perspektif Berbasis Fakta.
MARKET LIVE
Columbus | Langit cerah | 10°C

Sudah 3 Bulan Lebih, Ribuan Warga Sumut Masih Bertahan di Pengungsian

Sudah 3 Bulan Lebih, Ribuan Warga Sumut Masih Bertahan di Pengungsian
Ribuan pengungsi tersebut saat ini tersebar di dua kabupaten dari total 20 kabupaten/kota yang sebelumnya terlanda bencana. Konsentrasi pengungsi terbanyak berada di Kabupaten Tapanuli Tengah, dengan jumlah mencapai 2.564 jiwa. Sementara itu, Kabupaten Tapanuli Selatan masih menampung 452 jiwa pengungsi.
FolksInsight.com - Lebih dari tiga bulan pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda Provinsi Sumatera Utara (Sumut), ribuan warga ternyata masih belum bisa kembali ke rumah mereka. Data terbaru mencatat, ribuan jiwa masih bertahan di lokasi pengungsian hingga awal Maret 2026.

Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Sumatera Utara merilis data terbaru terkait dampak bencana yang terjadi pada 27 November 2025 lalu. Tercatat sebanyak 3.016 jiwa dari 754 kepala keluarga (KK) masih mengungsi hingga saat ini.
Ads

Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebutkan bahwa angka ini merupakan data sementara yang diterima pihaknya dari lapangan.

"Berbagai upaya penanganan bencana telah dilakukan masing-masing wilayah dan sejumlah pemangku kebijakan terkait," ujar Sri Wahyuni dalam keterangan resminya.

Ribuan pengungsi tersebut saat ini tersebar di dua kabupaten dari total 20 kabupaten/kota yang sebelumnya terlanda bencana. Konsentrasi pengungsi terbanyak berada di Kabupaten Tapanuli Tengah, dengan jumlah mencapai 2.564 jiwa. Sementara itu, Kabupaten Tapanuli Selatan masih menampung 452 jiwa pengungsi.

Banjir bandang dan longsor yang menerjang Sumut pada akhir November 2025 lalu merupakan salah satu bencana terbesar yang melanda provinsi tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur selama berhari-hari menyebabkan sejumlah sungai meluap dan memicu pergerakan tanah di daerah perbukitan.
Ads

Data Pusdalops Sumut mencatat setidaknya 20 kabupaten/kota yang terdampak langsung oleh bencana alam tersebut. Wilayah-wilayah yang terlanda antara lain Kota Medan, Kota Tebingtinggi, Kota Binjai, Kota Padangsidimpuan, dan Kota Sibolga. Selain itu, sejumlah kabupaten seperti Deliserdang, Serdangberdagai, Langkat, Humbang Hasundutan, dan Pakpak Bharat juga tidak luput dari amukan banjir dan longsor.

Meskipun bencana telah berlalu lebih dari tiga bulan, proses pemulihan pascabencana masih terus berjalan. Pemerintah daerah bersama berbagai instansi terkait terus berupaya melakukan normalisasi lingkungan, pembangunan kembali infrastruktur yang rusak, serta memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi.
Ads

Lambatnya proses relokasi dan rehabilitasi rumah warga yang rusak berat diduga menjadi salah satu penyebab masih lamanya masa pengungsian. Selain itu, kekhawatiran akan potensi bencana susulan juga membuat sebagian warga enggan kembali ke tempat tinggal mereka yang berada di zona rawan.

Pemerintah Provinsi Sumut sendiri terus mendorong pemerintah kabupaten/kota untuk mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Dukungan logistik dan bantuan kemanusiaan juga terus disalurkan kepada para pengungsi guna meringankan beban mereka selama berada di tempat pengungsian.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa dampak bencana alam tidak berhenti saat air surut atau tanah berhenti bergerak. Pemulihan kehidupan para korban membutuhkan waktu panjang serta kerja keras dan kolaborasi semua pihak.

FolksVoice

Lihat Semua
Sony Novian

Sony Novian

Co-Founder of Katagonia Language Solutions

Eksklusif 06 Mar 2026

Di Balik Mikrofon: Hal-Hal yang Tidak Pernah Didengar Publik dari Seorang Interpreter

Tapi tahukah Anda? Semua itu terbayar lunas ketika dua pihak yang berbeda bahasa bisa berjabat tangan dengan hangat, ketika kontrak senilai miliaran rupiah ditandatangani, atau ketika misi kemanusiaan berhasil dijalankan. Di balik mikrofon, saya tidak mencari tepuk tangan. Saya hanya ingin dunia ini sedikit lebih terhubung.

Sony Novian

Sony Novian

Co-Founder of Katagonia Language Solutions

Eksklusif 06 Mar 2026

Ketika Bahasa Menjadi Jembatan, Bukan Sekadar Kata

Dalam banyak pertemuan internasional yang saya hadiri, saya sering menyaksikan bagaimana satu kata yang diterjemahkan dengan nuansa yang sedikit berbeda dapat mengubah suasana sebuah diskusi. Bahasa tidak hanya membawa makna, tetapi juga emosi, konteks, dan kadang juga strategi.

Berita Terkait

Komentar 0 Komentar

Tulis Komentar

Anda harus login untuk berkomentar.

Login / Daftar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!