NASIONAL
Peristiwa
Kesedihan Mendalam: Praka Farizal Gugur Kena Mortir Israel Saat Tengah Salat Isya di Lebanon, Ini Kronologi Lengkapnya
Tim Redaksi
31 Mar 2026 19:47
1,844 kali
Gambar Ilustrasi
Serangan yang menewaskan Farizal ini merupakan salah satu dari dua insiden beruntun yang menimpa pasukan UNIFIL di Lebanon Selatan. Insiden pertama yang merenggut nyawa Praka Farizal terjadi pada Ahad, 29 Maret, disusul serangan kedua terhadap rombongan pasukan UNIFIL pada Senin, 30 Maret yang mengakibatkan dua prajurit TNI lainnya gugur.
FolksInsight.com - Momen pilu menyelimuti kepergian Prajurit Kepala (Praka) Farizal Rhomadhon, prajurit TNI yang gugur dalam misi perdamaian di Lebanon. Komandan Brigade Infanteri (Danbrigif) 25/Siwah Kolonel Inf Dimar Bahtera mengungkapkan bahwa almarhum terkena serangan mortir tentara Israel ketika tengah menjalankan ibadah salat Isya.
Dimar menjelaskan bahwa Farizal yang merupakan prajurit dari Yonif 113/JS Brigif 25/Siwah itu berada di pos jaga pasukan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dekat Adchit Al Qusayr saat insiden nahas terjadi pada Minggu, 29 Maret 2026 waktu setempat.
“Jadi ketika salat Isya, yang bersangkutan sedang melaksanakan salat dan di situ sedang ada mortir artileri yang jatuh di samping masjid,” kata Dimar saat ditemui di rumah duka di Ledok, Lendah, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Selasa, 31 Maret 2026.
Serangan yang menewaskan Farizal ini merupakan salah satu dari dua insiden beruntun yang menimpa pasukan UNIFIL di Lebanon Selatan. Insiden pertama yang merenggut nyawa Praka Farizal terjadi pada Ahad, 29 Maret, disusul serangan kedua terhadap rombongan pasukan UNIFIL pada Senin, 30 Maret yang mengakibatkan dua prajurit TNI lainnya gugur.
Dimar menuturkan bahwa saat ini jenazah Praka Farizal masih berada di East Sector Headquarters (HQ). Rencananya, akan segera dilaksanakan salat jenazah dan penghormatan terakhir oleh rekan-rekan satu regu almarhum sebelum proses evakuasi ke rumah sakit di Beirut.
“Baru nanti direncanakan untuk dievakuasi ke rumah sakit di Beirut, kalau tidak salah. Nanti di situ baru dilakukan autopsi standar yang rumah sakit lebih lengkap,” terangnya.
Proses autopsi, menurut Dimar, akan dilaksanakan oleh pihak PBB dengan fasilitas rumah sakit yang lebih lengkap di Beirut. Ia memperkirakan proses tersebut kemungkinan baru dapat dilakukan pada Rabu, 1 April 2026, jika situasi keamanan di wilayah tersebut kondusif.
“Nah, itu (autopsi) kemungkinan baru bisa dilakukan besok jika keadaannya kondusif. Nah, setelah itu baru nanti dilaksanakan proses repatriasi oleh PBB,” imbuhnya.
Dimar menjelaskan bahwa tahapan repatriasi atau pemulangan jenazah ke Indonesia memiliki prosedur yang harus dipenuhi oleh PBB, termasuk kelengkapan dokumen. Setelah seluruh mekanisme terpenuhi, jenazah baru akan diterbangkan ke Tanah Air.
“Tahapan repatriasi itu ada beberapa tahapan yang harus dilakukan di PBB, dokumen-dokumen. Nah, setelah itu mekanismenya cukup, baru nanti diterbangkan ke Indonesia,” sambung Dimar.
Mengingat situasi konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah dan pembatasan penerbangan sipil, penerbangan jenazah nantinya kemungkinan akan melalui negara sekitar seperti Mesir atau Yordania. Proses ini telah dikoordinasikan dan ditangani langsung oleh Kementerian Luar Negeri bersama Atase Pertahanan.
“Sehingga harus melibatkan melalui bandara-bandara di negara sekitar dan sudah langsung di-handle sama Kementerian Luar Negeri sama Atase Pertahanan,” katanya.
Setibanya jenazah di Indonesia, rencananya akan dilaksanakan proses penghormatan kepada pahlawan yang gugur. Lokasi penghormatan kemungkinan akan digelar di Markas Besar TNI, markas Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP), atau Kantor Kementerian Pertahanan.
Dimar menyampaikan bahwa pemakaman almarhum akan dilaksanakan di Kulon Progo sesuai dengan permintaan keluarga. Upacara penghormatan dan pemakaman secara militer akan dipimpin langsung oleh Dimar yang mendapat amanat dari pimpinan tertinggi negara.
“Pemakamannya di sini (Kulon Progo) sesuai dengan permintaan keluarga. Penghormatan dari negara itu ada upacara kehormatan, penghormatan pemakaman secara militer. Dan nanti saya rencananya yang akan memimpin upacara. Saya langsung diutus dari pimpinan, dari Presiden, dari Panglima TNI, dari Kasad,” ujarnya.