KESEHATAN
Kesehatan
Jangan Salah Sangka! Dokter Gizi Ungkap Obesitas Bukan Sekadar Masalah Makan Berlebihan
Tim Redaksi
05 Mar 2026 06:28
4,324 kali
"Banyak pasien yang saya temui mengalami hal ini, sudah berhasil menurunkan berat badan namun kemudian naik lagi. Faktor hormonal yang menyebabkan 'error' ini," tambahnya.
FolksInsight.com - Selama ini masyarakat kerap menganggap obesitas hanya disebabkan oleh dua hal sederhana: terlalu banyak makan dan malas berolahraga. Namun, anggapan tersebut dibantah keras oleh dokter spesialis gizi klinik, Diana Suganda, Sp.GK, M.Kes. Dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta pada Rabu, ia menegaskan bahwa obesitas adalah penyakit kronis yang kompleks dengan banyak faktor pemicu di luar kendali seseorang.
Diana Suganda menjelaskan bahwa pendekatan "makan lebih sedikit dan bergerak lebih banyak" tidak selalu berhasil bagi semua orang. Hal ini karena di dalam tubuh manusia terdapat sistem rumit yang mengatur nafsu makan, rasa lapar, dan rasa kenyang. Sistem ini dikendalikan oleh berbagai hormon yang pada sebagian orang tidak berfungsi dengan baik.
"Ada sinyal-sinyal di dalam tubuh yang tidak berfungsi dengan baik. Ini tidak hanya soal mengatur pola makan dan berolahraga. Banyak faktor yang menghambat, sehingga meskipun seseorang sudah mengatur makan dan berolahraga, berat badan bisa kembali naik," jelas Diana.
Ia menyoroti peran hormon-hormon pengatur nafsu makan yang bisa mengalami disfungsi. Pada individu dengan kondisi tertentu, meskipun secara fisik perut sudah terisi dan seharusnya merasa kenyang, sinyal ke otak untuk berhenti makan tidak tersampaikan dengan baik. Akibatnya, rasa lapar tetap muncul dan dorongan untuk terus makan sulit dikendalikan.
Fenomena lain yang diungkapkan oleh Diana adalah adanya sel memori dalam tubuh yang menyimpan "catatan" tentang berat badan tertinggi seseorang. Sel-sel ini dapat memicu tubuh untuk berusaha kembali ke berat badan tersebut setelah seseorang berhasil menurunkan berat badan. Hal ini menjelaskan mengapa banyak orang mengalami yo-yo effect, di mana berat badan turun drastis namun kemudian naik lagi melebihi sebelumnya.
"Banyak pasien yang saya temui mengalami hal ini, sudah berhasil menurunkan berat badan namun kemudian naik lagi. Faktor hormonal yang menyebabkan 'error' ini," tambahnya.
Selain faktor hormonal, kapasitas lambung dan perubahan metabolisme tubuh juga ikut berperan dalam siklus berat badan. Semua faktor ini menunjukkan bahwa obesitas bukanlah sekadar masalah kemauan atau disiplin diri, melainkan kondisi medis yang memerlukan penanganan komprehensif.
Menghadapi kompleksitas ini, Diana Suganda merekomendasikan pendekatan mindful eating atau makan dengan penuh kesadaran sebagai langkah preventif. Konsep ini mengajak seseorang untuk benar-benar memperhatikan sinyal tubuh saat makan, menikmati setiap suapan, dan berhenti ketika merasa cukup, bukan ketika piring sudah kosong.
" saat Lebaran, Natal, makanlah dengan porsi yang tepat. Dengan mengetahui kebutuhan tubuh, konsumsi makanan tidak akan berlebihan," ujarnya.
Dengan pemahaman yang lebih luas tentang obesitas sebagai penyakit multifaktorial, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam menyikapi kondisi ini. Bukan hanya sekadar menghakimi mereka yang kelebihan berat badan, tetapi juga memberikan dukungan dan mendorong penanganan medis yang tepat jika diperlukan.