KESEHATAN
Medis
Dokter Muda di Cianjur Gugur Usai Tertular Campak, Sempat Tetap Bekerja 3 Hari Meski Demam dan Batuk
Tim Redaksi
30 Mar 2026 16:34
1,821 kali
Gambar Ilustrasi
Pada 18 Maret, AMW mulai merasakan gejala awal berupa demam, flu, dan batuk. Mengetahui kondisinya yang mulai terganggu, ia pun sempat meminta izin untuk tidak berdinas dan diizinkan beristirahat oleh pihak rumah sakit. Namun, meskipun telah merasakan gejala awal tersebut, AMW tetap memilih untuk masuk kerja pada 19 hingga 21 Maret 2026.
FolksInsight.com - Sebuah kabar duka datang dari dunia kesehatan Indonesia. Seorang dokter internship berinisial AMW (25) yang tengah menjalani program magang di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pagelaran, Cianjur, meninggal dunia setelah terpapar virus campak. Berdasarkan hasil penelusuran awal Kementerian Kesehatan, dokter muda tersebut diduga terinfeksi saat menjalankan tugas mulianya menangani pasien.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, Andi Saguni, mengungkapkan bahwa berdasarkan penelusuran epidemiologis, AMW kemungkinan besar sudah terpapar virus campak sebelum tanggal 18 Maret 2026, saat gejala awal mulai muncul. Hal ini disampaikan Andi dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin, 30 Maret 2026.
"Berdasarkan penelusuran, yang bersangkutan kemungkinan sudah terinfeksi sebelum tanggal 18 Maret," sorot Andi kepada awak media. Tanggal tersebut menjadi titik awal munculnya keluhan kesehatan yang dialami oleh sang dokter.
Pada 18 Maret, AMW mulai merasakan gejala awal berupa demam, flu, dan batuk. Mengetahui kondisinya yang mulai terganggu, ia pun sempat meminta izin untuk tidak berdinas dan diizinkan beristirahat oleh pihak rumah sakit. Namun, meskipun telah merasakan gejala awal tersebut, AMW tetap memilih untuk masuk kerja pada 19 hingga 21 Maret 2026.
Selama tiga hari berturut-turut itu, ia menjalankan tugasnya, termasuk menangani pasien campak, dengan alasan merasa tubuhnya masih cukup fit untuk bekerja. Dedikasinya sebagai tenaga medis di tengah kondisi yang kurang sehat ini justru membawa risiko yang fatal.
Kondisi kesehatan AMW terus memburuk. Pada 21 Maret, muncul ruam pada kulitnya, yang merupakan salah satu gejala khas dari penyakit campak. Meski gejala klasik tersebut sudah muncul, ia masih tetap bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk menangani pasien suspek campak. Setelah itu, barulah ia mengajukan cuti karena kondisi kesehatannya semakin menurun drastis.
Memasuki 24 Maret, AMW menginformasikan kepada rekan-rekannya melalui pesan WhatsApp bahwa dirinya positif terkena campak, disertai dengan munculnya ruam yang semakin meluas di tubuhnya. Informasi ini menjadi alarm bagi rekan-rekannya bahwa kondisinya sudah cukup serius.
Penurunan kondisi kesehatan AMW terjadi dengan sangat cepat. Pada 25 Maret pukul 22.00 WIB, keluarga membawa AMW ke IGD RSUD Cianjur karena ia mengalami penurunan kesadaran yang telah berlangsung sejak satu jam sebelumnya. Saat tiba di rumah sakit, kondisi AMW sudah sangat kritis.
Tim medis mencatatkan kondisi akral dingin pada tubuh AMW, dengan tekanan darah 90/60 mmHg, denyut nadi mencapai 144 kali per menit, serta saturasi oksigen yang sangat rendah, yakni hanya 35 persen. Segera setelah itu, tim medis memberikan bantuan oksigen sungkup dengan aliran 15 liter per menit, namun saturasi oksigennya hanya meningkat menjadi 50 persen.
Pada Kamis, 26 Maret 2026, dini hari pukul 00.30 WIB, AMW dirujuk ke ruang Intensive Care Unit (ICU) untuk mendapatkan perawatan intensif. Namun, kondisinya tidak kunjung membaik meskipun telah mendapatkan penanganan optimal. Pada pukul 08.15 WIB, tim medis melakukan tindakan intubasi untuk membantu pernapasannya.
Upaya maksimal dari tim medis pun belum mampu menyelamatkan nyawa AMW. Beberapa jam setelah intubasi, tepatnya pada pukul 11.30 WIB, dokter muda yang penuh dedikasi ini dinyatakan meninggal dunia.
Sehari setelah kejadian tersebut, tepatnya pada 27 Maret 2026, Kementerian Kesehatan bersama Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat melakukan penelusuran epidemiologis untuk mengidentifikasi sumber penularan serta mencegah kasus serupa terjadi di lingkungan tenaga medis lainnya.