KESEHATAN
Medis
Waspada! Kasus DBD di Jakarta Tembus 10 Ribu Lebih, Remaja dan Anak Sekolah Jadi Sasaran Utama
Tim Redaksi
13 Mar 2026 10:15
2,627 kali
Gambar Ilustrasi
Secara global, dengue memang masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama di wilayah tropis dan subtropis seperti Asia Tenggara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa pada tahun 2024 saja, terdapat sekitar 14,6 juta kasus dengue di seluruh dunia dengan angka kematian mencapai 12.000 jiwa. Angka ini menunjukkan bahwa penyakit ini bukanlah sekadar demam biasa, melainkan wabah yang perlu ditangani secara serius dan berkelanjutan.
FolksInsight.com - Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi momok menakutkan di Ibu Kota. Sepanjang tahun 2025, DKI Jakarta mencatatkan angka kasus yang memprihatinkan dengan total 10.244 kasus. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini terbukti tidak pandang bulu, meski data terbaru menunjukkan kelompok usia remaja dan anak-anak sekolah menjadi yang paling rentan terpapar.
Data yang dirilis oleh otoritas kesehatan DKI Jakarta mengungkapkan bahwa dari total kasus tersebut, 53,1 persen di antaranya dialami oleh laki-laki, sementara 46,9 persen sisanya menyerang perempuan. Komposisi ini menunjukkan bahwa hampir tidak ada perbedaan signifikan dalam risiko penularan berdasarkan gender.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah distribusi kasus berdasarkan kelompok usia. Ternyata, remaja dengan rentang usia 12 hingga 18 tahun menempati posisi pertama sebagai kelompok paling berisiko terkena DBD. Peringkat kedua ditempati oleh anak-anak usia 5 hingga 11 tahun. Artinya, kelompok usia sekolah, mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas, adalah yang paling rentan menjadi korban keganasan virus dengue.
Temuan ini memberikan petunjuk penting bagi para orang tua dan tenaga pendidik. Aktivitas di luar rumah yang tinggi, mobilitas yang besar, serta lingkungan sekolah yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, diduga kuat menjadi faktor utama penyebab tingginya angka kasus pada kelompok usia produktif ini. Genangan air di sekitar sekolah, kebiasaan menggantung pakaian, serta kurangnya kewaspadaan saat beraktivitas di luar rumah dapat menjadi celah bagi nyamuk untuk berkembang biak dan menggigit.
Secara global, dengue memang masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama di wilayah tropis dan subtropis seperti Asia Tenggara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa pada tahun 2024 saja, terdapat sekitar 14,6 juta kasus dengue di seluruh dunia dengan angka kematian mencapai 12.000 jiwa. Angka ini menunjukkan bahwa penyakit ini bukanlah sekadar demam biasa, melainkan wabah yang perlu ditangani secara serius dan berkelanjutan.
Di Indonesia, dampak dengue tidak hanya dirasakan dari sisi kesehatan, tetapi juga dari sisi ekonomi. Data dari BPJS Kesehatan mencatat bahwa pada tahun 2024 terdapat lebih dari 1 juta kasus rawat inap akibat dengue di luar kejadian luar biasa (KLB). Total biaya penanganan yang harus ditanggung untuk mengobati para pasien ini mencapai angka yang fantastis, yaitu hampir Rp3 triliun. Beban ini tentu menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dan masyarakat.
Di tengah tingginya kasus DBD, kebutuhan akan darah untuk transfusi pasien pun meningkat drastis. Hal ini menjadi perhatian khusus Palang Merah Indonesia (PMI), terutama menjelang periode mudik Lebaran. Ketua Pengurus PMI Kota Jakarta Timur, H.R. Krisdianto, mengungkapkan kekhawatirannya karena jumlah pendonor darah cenderung menurun selama bulan Ramadan. Banyak masyarakat yang khawatir kondisi fisiknya akan melemah setelah mendonorkan darah saat sedang berpuasa.
Padahal, di saat seperti ini, ketersediaan darah sangat vital untuk menyelamatkan nyawa pasien DBD yang mengalami penurunan trombosit drastis. PMI terus mengimbau masyarakat untuk tetap mendonorkan darah dengan memilih waktu yang tepat, misalnya setelah berbuka puasa atau menjelang sahur, agar kondisi tubuh tetap terjaga. Dengan tingginya kasus yang mencapai 10 ribu lebih di Jakarta, kewaspadaan dan partisipasi aktif semua pihak, termasuk para orang tua, guru, dan masyarakat umum, sangat diperlukan untuk memutus mata rantai penularan DBD.