KESEHATAN
Medis
Jangan Pasrah! Penyakit GERD Ternyata Bisa Sembuh Total, Asalkan...
Tim Redaksi
06 Mar 2026 20:23
4,172 kali
Gambar Ilustrasi
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Prof Ari, rata-rata penderita GERD adalah pria dengan kebiasaan merokok, mengalami obesitas, dan berusia di atas 40 tahun. Namun, ia mengingatkan bahwa saat ini anak-anak pun tak luput dari ancaman GERD. Pola makan tidak sehat, paparan makanan mengandung keju dan coklat sejak bayi, serta kebiasaan buruk langsung tidur setelah makan menjadi pemicu utamanya.
FolksInsight.com - Selama ini banyak penderita GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) mengira bahwa penyakit yang menyebabkan rasa terbakar di dada ini tidak bisa disembuhkan dan harus hidup dengan obat seumur hidup. Anggapan itu ternyata keliru. Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, menegaskan bahwa GERD sesungguhnya bisa sembuh.
Kunci utama kesembuhan GERD terletak pada kemauan penderita untuk mengubah gaya hidup dan mengurangi faktor risiko penyebabnya, disertai pengobatan yang tuntas. "Obatnya tadi menghilangkan gejala juga komplikasi, gaya hidup, kalau dia merokok stop merokok, kalau dia (minum) alkohol juga stop, berat badan penting untuk diturunkan, kemudian diet rendah lemak. Jadi ini memang mesti diturunkan," jelas Prof Ari dalam acara diskusi kesehatan bersama Primaya Hospital, Kamis, 5 Maret 2026.
Siapa yang Paling Berisiko?
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Prof Ari, rata-rata penderita GERD adalah pria dengan kebiasaan merokok, mengalami obesitas, dan berusia di atas 40 tahun. Namun, ia mengingatkan bahwa saat ini anak-anak pun tak luput dari ancaman GERD. Pola makan tidak sehat, paparan makanan mengandung keju dan coklat sejak bayi, serta kebiasaan buruk langsung tidur setelah makan menjadi pemicu utamanya.
"Makan coklat keju yang berlebihan sejak kecil, kemudian juga kebiasaan makan langsung tidur. Dan sekarang cenderung anak-anak ini juga kurang bergerak karena gadget, kurangin gadget, jadi artinya mereka harus sering di playground," paparnya.
Mengubah Gaya Hidup adalah Kunci
Prof Ari menekankan bahwa perubahan gaya hidup bukan sekadar saran, melainkan keharusan. Menerapkan pola makan sehat, berolahraga teratur, menurunkan berat badan hingga mencapai ideal, tidur cukup, dan mengelola stres dengan baik adalah langkah-langkah fundamental yang dapat mengurangi keparahan GERD secara signifikan.
Deteksi Dini dengan Endoskopi
Untuk memastikan diagnosis dan melihat tingkat keparahan GERD, dokter biasanya akan merekomendasikan tindakan endoskopi. Prosedur ini bertujuan melihat seberapa parah luka pada usus dan memeriksa celah katup lambung yang seharusnya menahan cairan asam agar tidak naik ke kerongkongan.
Prof Ari menyarankan agar pasien yang sering mengalami nyeri dada dan ulu hati, rasa terbakar di dada (heartburn), serta muntah berulang, segera melakukan endoskopi. Selain untuk mendeteksi GERD, endoskopi juga penting untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kanker pada usus akibat luka kronis yang tidak diobati.
Harapan Baru dengan Obat P-CAB
Di samping perubahan gaya hidup, pengobatan medis juga berperan penting. Penderita GERD perlu meminum obat penekan asam lambung hingga tuntas, tidak hanya saat gejala kambuh. Kabar baiknya, saat ini telah hadir obat golongan baru bernama P-CAB (Potassium-Competitive Acid Blockers), seperti Vonoprazan, Tegoprazan, dan Fexuprazan.
"Sekarang ini sudah eranya P-CAB. Jadi melihat bahwa memang akhirnya karena kita 20 persen pasien-pasien yang diobatin dengan obat yang sebelumnya itu gagal. Jadi ini menjadi harapan baru buat penderita GERD, ada obat baru," ungkap Prof Ari.
Dengan kombinasi pengobatan yang tepat, perubahan gaya hidup disiplin, dan deteksi dini melalui endoskopi, mimpi untuk sembuh total dari GERD bukan lagi sekadar angan-angan. Kuncinya ada pada kemauan kuat penderita untuk berubah dan konsisten menjalani pengobatan hingga tuntas.