NASIONAL
Politik
Tawaran Damai Prabowo untuk Perang Iran vs AS: Ditunggu atau Diabaikan?
Tim Redaksi
04 Mar 2026 17:34
2,808 kali
Gambar Ilustrasi
"Yang pasti Indonesia ingin ada dalam posisi bahwa bagaimana kita bisa menjadi jembatan dari perbedaan, menawarkan kesiapan kami, menawarkan diri kami," ujar Sugiono menegaskan komitmen Indonesia. Ia kembali mengulangi bahwa jika kedua belah pihak menghendaki, Presiden Prabowo siap untuk segera menjalankan peran sebagai juru damai.
FolksInsight.com - Upaya Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi penengah dalam konflik memanas antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel masih menggantung tanpa kepastian. Menteri Luar Negeri Sugiono mengungkapkan bahwa proposal damai dari Indonesia telah secara resmi disampaikan kepada kedua belah pihak, namun baik Washington maupun Teheran masih belum memberikan lampu hijau. Kedua negara adidaya itu memilih untuk mengambil sikap wait and see terlebih dahulu.
"Saya berkomunikasi dengan kedua belah pihak, pihak AS dan pihak Iran," ucap Sugiono di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa malam, 3 Maret 2026. Ia menambahkan bahwa dalam komunikasi tersebut, AS dan Iran mengaku masih akan memantau perkembangan situasi di kawasan Timur Tengah sebelum mengambil keputusan lebih lanjut. "Kita tunggu bagaimana nanti, karena mereka mengatakan akan lihat situasinya beberapa hari dan beberapa minggu ke depan," jelasnya.
Sugiono memaparkan bahwa tawaran mediasi ini telah disampaikan secara langsung melalui sambungan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Dalam percakapan tersebut, Sugiono tidak hanya menyampaikan niat baik Presiden Prabowo, tetapi juga menyatakan keprihatinan dan penyesalan atas gagalnya perundingan yang berujung pada eskalasi kekerasan di kawasan Teluk. Ia menegaskan bahwa fokus utama Indonesia adalah mendinginkan situasi dan menurunkan ketegangan.
Menurut Sugiono, gagasan yang dibawa Indonesia untuk menjadi jembatan perdamaian mendapatkan respons yang cukup terbuka dari Menlu Iran. "Dan ini merupakan pandangan-pandangan yang juga beliau (Araghchi) terima," kata Sugiono. Meski demikian, politikus Partai Gerindra ini menekankan bahwa kesediaan Indonesia sebagai mediator sepenuhnya bergantung pada persetujuan kedua pihak yang bertikai.
"Yang pasti Indonesia ingin ada dalam posisi bahwa bagaimana kita bisa menjadi jembatan dari perbedaan, menawarkan kesiapan kami, menawarkan diri kami," ujar Sugiono menegaskan komitmen Indonesia. Ia kembali mengulangi bahwa jika kedua belah pihak menghendaki, Presiden Prabowo siap untuk segera menjalankan peran sebagai juru damai.
Namun, sikap hati-hati justru datang dari perwakilan Iran di Indonesia. Sebelumnya, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menyampaikan apresiasinya atas inisiatif Indonesia. Akan tetapi, ia mengakui bahwa belum ada komunikasi lanjutan yang lebih konkret dari pihak Indonesia terkait teknis mediasi. Pihak Iran pun belum dapat menilai apakah rencana tersebut akan berdampak signifikan terhadap dinamika konflik yang berkembang.
"Apakah di situasi seperti ini mediasi bisa membuahkan hasil atau tidak, saya tidak bisa menjawabnya. Tetapi komunikasi dan interaksi antar pejabat senior pemerintahan kedua negara tentu memungkinkan dan dapat dilakukan," kata Boroujerdi di kediaman resminya di Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 2 Maret 2026. Pernyataan ini mencerminkan optimismenya yang tipis, namun juga keraguan akan efektivitas mediasi di tengah ketegangan yang masih tinggi.
Menanggapi sikap Iran yang masih gamang itu, Sugiono memilih untuk mengembalikan keputusan sepenuhnya kepada kedua negara yang berkonflik. "Seperti yang disampaikan bahwa jika kedua belah pihak berkeinginan, ya, Pak Presiden bersedia untuk menjadi mediator. Tetapi kalau misalnya ada pandangan seperti itu, ya, kami kembalikan kepada mereka," tuturnya. Dengan situasi yang masih belum menentu, tawaran damai Indonesia pun masih terkatung-katung, menunggu momentum yang tepat dari dinamika perang di Timur Tengah.