NASIONAL
Peristiwa
Rekomendasi BIN Cs Jadi Penentu! Ekspor Beras ke Saudi Tertahan Perang Timur Tengah
Tim Redaksi
04 Mar 2026 19:10
3,854 kali
Gambar Ilustrasi
Rizal menyatakan bahwa Bulog telah mengajukan permintaan penilaian keamanan secara resmi kepada Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). "Kalau sesuai jadwal, rencananya pemberangkatan tanggal 7 (Maret). Tapi kita mengikuti dinamika perkembangan geopolitik yang ada di sana. Kami juga sudah bersurat ke BAIS TNI, ke BIN, kemudian ke Kemenlu untuk meminta asesmen terkait pemberangkatan beras haji Indonesia ini," kata Rizal di Gudang Bulog Kanwil DKI Jakarta dan Banten, Jakarta Utara, Rabu (4/3/2026).
FolksInsight.com - Rencana ekspor beras perdana Perum Bulog ke Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan jemaah haji Indonesia masih menggantung di tengah eskalasi konflik yang memanas di Timur Tengah. Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menunggu hasil asesmen dari tiga lembaga tinggi negara sebelum memutuskan waktu pengiriman. Pasalnya, jalur distribusi menuju Arab Saudi saat ini berada dalam situasi genting akibat penutupan Selat Hormuz oleh Garda Revolusi Iran (IRGC) setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
Rizal menyatakan bahwa Bulog telah mengajukan permintaan penilaian keamanan secara resmi kepada Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). "Kalau sesuai jadwal, rencananya pemberangkatan tanggal 7 (Maret). Tapi kita mengikuti dinamika perkembangan geopolitik yang ada di sana. Kami juga sudah bersurat ke BAIS TNI, ke BIN, kemudian ke Kemenlu untuk meminta asesmen terkait pemberangkatan beras haji Indonesia ini," kata Rizal di Gudang Bulog Kanwil DKI Jakarta dan Banten, Jakarta Utara, Rabu (4/3/2026).

Meski secara teknis seluruh persiapan pengiriman telah rampung, pemerintah memilih untuk mengedepankan aspek keselamatan. Pemerintah tetap mendorong agar ekspor dapat berjalan sesuai rencana, namun keputusan akhir soal keberangkatan kapal akan sangat bergantung pada rekomendasi dari tiga institusi tersebut. "Untuk proses kelanjutannya kita mengikuti perkembangan dinamika di lapangan. Jadi kita menunggu informasi lebih lanjut dari asesmen dari tiga institusi tersebut," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa target pengiriman tetap menuju Pelabuhan Jeddah, Arab Saudi. Ia optimistis ekspor masih memungkinkan dilakukan meskipun situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah sedang memanas. Namun, optimisme ini tetap dibarengi kehati-hatian mengingat risiko keamanan jalur laut yang harus dilalui.
Pemerintah melalui Bulog menyiapkan total 2.280 ton beras premium untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia di Arab Saudi tahun ini. Program ekspor ini merupakan tindak lanjut dari keputusan rapat koordinasi terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Pangan pada 23 Februari 2026 lalu. Nilai transaksi ekspor diperkirakan mencapai sekitar Rp38 miliar, dan pengiriman direncanakan menggunakan tiga perusahaan pelayaran, yakni Hyundai, Wan Hai, dan kapal lokal.
Rizal menjelaskan bahwa beras yang akan diekspor merupakan beras premium hasil panen baru dari Jawa Barat dan Jawa Tengah. Proses pengolahannya dilakukan di empat fasilitas modern, yaitu pabrik Wilmar di Serang dan Mojokerto, pabrik Bulog di Karawang, serta fasilitas pengolahan di Subang. Beras tersebut diolah dengan standar sangat tinggi, yakni tingkat patahan di bawah 5 persen dan kadar air di bawah 14 persen, menjadikannya lebih unggul dibandingkan beras premium biasa.

Namun, rencana ambisius ini harus berhadapan dengan realitas pahit konflik berskala besar. Selat Hormuz, jalur laut yang menjadi pintu masuk utama menuju Teluk Persia dan Arab Saudi, saat ini ditutup oleh IRGC. Penutupan ini merupakan respons langsung terhadap serangan militer gabungan AS dan Israel ke Iran. Dengan tertutupnya jalur vital tersebut, semua pengiriman melalui laut menuju kawasan Teluk, termasuk Arab Saudi, otomatis terhambat. Kini, nasib ribuan ton beras untuk jemaah haji Indonesia berada di tangan rekomendasi BIN, BAIS, dan Kemenlu. Jika situasi dinilai aman, ekspor perdana ini akan segera terealisasi; jika tidak, pengiriman harus ditunda hingga badai konflik mereda.