EKONOMI
Market
Perang AS-Iran Bikin Investor Kabur! IHSG Anjlok 1,62%, Rupiah Ikut Terkapar
Tim Redaksi
06 Mar 2026 19:47
4,689 kali
Gambar Ilustrasi
Dari sisi eksternal, para pelaku pasar saat ini tengah menanti rilis data inflasi (CPI) dan tenaga kerja (NFP) AS yang akan menjadi acuan kebijakan The Fed ke depan. Selain itu, kejelasan mengenai resolusi atau justru eskalasi lebih lanjut dari konflik Timur Tengah juga menjadi perhatian utama.
FolksInsight.com - Dampak negatif dari eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran mulai terasa di pasar keuangan domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat, 6 Maret 2026, ditutup ambles di zona merah. Pelemahan ini dipicu oleh aksi jual besar-besaran yang dilakukan investor di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Mengutip data perdagangan, IHSG ditutup melemah 124,85 poin atau 1,62 persen ke posisi 7.585,68. Tak hanya IHSG, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga ikut terpuruk dengan koreksi 11,77 poin atau 1,49 persen ke level 776,04.
Head of Research PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menjelaskan bahwa pelemahan ini merupakan dampak dari perubahan sentimen investor yang lebih memilih bermain aman. "Investor cenderung risk-off dan defensif. Investor menghindari instrumen berisiko tinggi dengan melikuidasi saham big caps dan merotasi ke aset safe haven seperti emas dan dolar AS," ujar Wafi di Jakarta, Jumat.
Menurutnya, ada dua faktor utama yang memicu sikap hati-hati ini. Pertama, konflik di kawasan Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, bahkan cenderung meningkat. Kedua, tingginya imbal hasil (yield) US Treasury yang disebabkan oleh ekspektasi pasar bahwa suku bunga The Fed akan tetap bertahan tinggi dalam waktu yang lebih lama.
Dari sisi eksternal, para pelaku pasar saat ini tengah menanti rilis data inflasi (CPI) dan tenaga kerja (NFP) AS yang akan menjadi acuan kebijakan The Fed ke depan. Selain itu, kejelasan mengenai resolusi atau justru eskalasi lebih lanjut dari konflik Timur Tengah juga menjadi perhatian utama.
Sementara dari dalam negeri, tekanan terhadap pasar modal dan nilai tukar rupiah semakin berat setelah lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings memangkas outlook kredit Indonesia menjadi negatif. Keputusan ini memicu depresiasi nilai tukar rupiah dan mendorong arus modal asing keluar (capital outflow) secara masif dari pasar keuangan domestik.
Sepanjang hari perdagangan, IHSG konsisten berada di zona merah. Dimulai sejak pembukaan hingga penutupan sesi pertama, indeks tak pernah mampu beranjak ke wilayah positif. Kondisi serupa berlanjut hingga perdagangan sesi kedua berakhir.
Tekanan jual terlihat menyapu seluruh sektor saham. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua sebelas sektor mengalami pelemahan. Sektor industri menjadi yang paling terpukul dengan koreksi terdalam mencapai 3,67 persen. Disusul sektor barang konsumen nonprimer yang ambles 3,54 persen dan sektor energi yang melemah 2,80 persen.
Meski mayoritas saham memerah, beberapa saham justru mencatatkan penguatan. Saham SKBM, ALKA, TPIA, ICON, dan EURO masuk dalam jajaran top gainers. Sebaliknya, saham-saham seperti KOTA, RODA, LAND, ENRG, dan ENZO tercatat sebagai yang paling terkoreksi.
Secara keseluruhan, frekuensi perdagangan saham mencapai 1.946.837 kali transaksi dengan volume 34,18 miliar lembar saham senilai Rp17,77 triliun. Dari total saham yang diperdagangkan, hanya 168 saham yang berhasil menguat, sementara 555 saham lainnya terpuruk di zona merah, dan 94 saham stagnan.
Di tengah gejolak domestik, bursa saham regional Asia justru mencatatkan penguatan. Indeks Nikkei menguat 0,62 persen, Shanghai naik 0,38 persen, Hang Seng melesat 1,72 persen, dan Strait Times terapresiasi tipis 0,03 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan yang dialami IHSG lebih dipengaruhi oleh faktor internal dan sentimen spesifik terkait peringkat kredit Indonesia.