EKONOMI
Finansial
Darurat Energi Melanda Asia! 7 Negara Alami Krisis BBM Imbas Perang di Timur Tengah
Tim Redaksi
28 Mar 2026 14:07
4,623 kali
Gambar Ilustrasi
Filipina menjadi salah satu negara yang paling terdampak. Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. resmi mendeklarasikan status darurat energi nasional menyusul terganggunya pasokan bahan bakar minyak dan gas akibat perang yang berkecamuk. Status darurat ini berlaku selama satu tahun dan diambil sebagai respons langsung terhadap konflik serta penutupan Selat Hormuz.
FolksInsight.com - Krisis bahan bakar minyak (BBM) mulai melanda sejumlah negara di Asia sebagai dampak langsung dari konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang meletus sejak akhir Februari 2026. Berbagai negara pun terpaksa mengambil langkah-langkah darurat untuk mengatasi kelangkaan pasokan dan lonjakan harga energi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah ini memicu kekacauan pada rantai pasok energi global setelah Iran mengambil langkah tegas dengan menutup Selat Hormuz untuk kapal-kapal yang berafiliasi dengan AS dan Israel. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran yang mengangkut sekitar sepertiga perdagangan minyak mentah dunia. Penutupan ini tidak hanya menyebabkan kelangkaan pasokan, tetapi juga memicu lonjakan harga minyak yang membebani negara-negara pengimpor energi di Asia.
Filipina menjadi salah satu negara yang paling terdampak. Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. resmi mendeklarasikan status darurat energi nasional menyusul terganggunya pasokan bahan bakar minyak dan gas akibat perang yang berkecamuk. Status darurat ini berlaku selama satu tahun dan diambil sebagai respons langsung terhadap konflik serta penutupan Selat Hormuz.
Marcos juga memperingatkan ancaman serius terhadap ketersediaan dan stabilitas pasokan energi negaranya seiring dengan ketidakpastian yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah. Deklarasi darurat ini memberi kewenangan lebih luas kepada pemerintah untuk mengatur distribusi dan konsumsi energi di tengah situasi krisis.
Vietnam juga tak luput dari dampak krisis ini. Maskapai nasional Vietnam Airlines terpaksa mengambil langkah drastis dengan memangkas hampir dua lusin penerbangan domestik setiap pekan mulai April 2026. Kebijakan ini diambil menyusul terbatasnya pasokan bahan bakar pesawat (avtur) dan lonjakan harga yang membuat biaya operasional membengkak.
Otoritas penerbangan sipil Vietnam menyatakan bahwa lonjakan harga avtur telah terjadi sejak tiga pekan terakhir. Kenaikan ini memicu kekhawatiran akan kelangkaan pasokan dalam negeri yang dapat mengganggu operasional penerbangan secara lebih luas. Tak hanya avtur, harga solar di Vietnam juga melonjak drastis hingga 105 persen, dari 19.270 dong (sekitar Rp12.420) menjadi 39.660 dong (sekitar Rp25.467) per liter.
Di Thailand, dampak krisis BBM mulai dirasakan hingga ke sektor transportasi publik. Layanan taksi di Bandara Suvarnabhumi, bandara internasional utama Thailand, mulai mengalami gangguan imbas kelangkaan bahan bakar di Negeri Gajah Putih tersebut. Sejumlah pengemudi taksi bahkan terpaksa menghentikan operasional secara bertahap karena kesulitan mendapatkan pasokan BBM untuk kendaraan mereka.
Negara-negara Asia lainnya juga turut merasakan tekanan dari krisis energi ini. Berbagai strategi pun diterapkan untuk mengurangi konsumsi dan menjaga pasokan yang tersedia. Beberapa negara mulai memberlakukan kebijakan kerja dari rumah bagi aparatur sipil negara untuk mengurangi penggunaan BBM, sementara negara lain menerapkan pembatasan pembelian BBM untuk mengendalikan konsumsi di tengah ketidakpastian pasokan.
Krisis yang melanda tujuh negara Asia ini menunjukkan betapa rentannya kawasan tersebut terhadap guncangan geopolitik di Timur Tengah. Dengan ketergantungan yang tinggi pada impor energi, setiap eskalasi konflik di kawasan produsen minyak berpotensi menimbulkan efek berantai yang langsung dirasakan oleh masyarakat dan sektor industri di Asia.