EKONOMI
Bisnis
Konflik Timur Tengah Memanas, Biaya Ekspor Minyak Sawit RI Melonjak 50 Persen!
Tim Redaksi
12 Mar 2026 20:05
1,669 kali
Gambar Ilustrasi
"Ekspor minyak sawit tidak akan berhenti karena komoditas ini merupakan kebutuhan utama bagi banyak negara," tegas Eddy. Ia mencontohkan, pengiriman ke negara-negara konsumen besar seperti Amerika Serikat, India, dan China sejauh ini dilaporkan masih berjalan lancar tanpa hambatan berarti, meskipun dengan biaya yang membengkak.
FolksInsight.com - Eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran di kawasan Timur Tengah mulai berdampak langsung pada industri sawit nasional. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) melaporkan bahwa biaya untuk mengirimkan minyak kelapa sawit ke pasar global mengalami kenaikan drastis, mencapai 50 persen akibat situasi geopolitik yang tidak menentu tersebut.
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, mengungkapkan bahwa meskipun arus ekspor minyak sawit secara umum masih berjalan, para pengusaha kini harus menanggung beban operasional yang jauh lebih berat. Lonjakan ini terutama terjadi pada dua komponen utama pengiriman, yaitu biaya logistik dan premi asuransi kapal. "Kenaikan biaya logistik dan asuransi itu (sebesar) 50 persen kira-kira," ujar Eddy saat ditemui di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, pada Rabu (11/3).
Menurut Eddy, sebagian besar pengiriman yang saat ini masih berlangsung merupakan pengapalan dari kontrak-kontrak lama yang telah disepakati sebelum konflik memanas. Hal ini menjelaskan mengapa volume ekspor secara keseluruhan belum menunjukkan penurunan yang signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Para pengusaha, kata dia, tetap berkomitmen memenuhi pesanan karena minyak sawit merupakan komoditas vital yang permintaannya tetap tinggi.
"Ekspor minyak sawit tidak akan berhenti karena komoditas ini merupakan kebutuhan utama bagi banyak negara," tegas Eddy. Ia mencontohkan, pengiriman ke negara-negara konsumen besar seperti Amerika Serikat, India, dan China sejauh ini dilaporkan masih berjalan lancar tanpa hambatan berarti, meskipun dengan biaya yang membengkak.
Namun, situasi berbeda terjadi untuk pengiriman yang ditujukan ke negara-negara di kawasan Teluk. Eddy menjelaskan, rute pelayaran yang melewati Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital pengiriman minyak dan komoditas dunia, kini menjadi area berisiko tinggi. Akibatnya, ekspor ke sejumlah tujuan di kawasan itu terpaksa dihentikan sementara waktu.
"Tujuan ekspor yang sulit dijangkau adalah yang melewati Selat Hormuz itu berhenti sementara. Uni Emirat Arab, Iran, itu (pengirimannya) berhenti," ungkap Eddy. Kendati demikian, ia memastikan bahwa dampak dari penghentian sementara ini tidak akan terlalu mempengaruhi kinerja ekspor nasional secara keseluruhan. Pasalnya, porsi ekspor ke negara-negara yang melewati Selat Hormuz relatif kecil dibandingkan dengan volume ekspor ke pasar utama lainnya.
Meski demikian, GAPKI belum dapat menghitung secara pasti berapa besar potensi penurunan volume ekspor yang disebabkan oleh konflik ini. Eddy mengaku masih menunggu perkembangan situasi dalam beberapa waktu ke depan. "Dampak yang lebih jelas kemungkinan baru terlihat setelah data ekspor hingga akhir Maret tersedia," katanya.
Para analis memprediksi jika konflik berkepanjangan, bukan hanya biaya logistik yang akan terpukul, tetapi juga rantai pasok global. Situasi ini menjadi perhatian serius pemerintah dan pelaku usaha untuk mulai mencari rute alternatif atau melakukan diversifikasi pasar guna meminimalisir risiko di masa mendatang. Para pengusaha berharap stabilitas keamanan global dapat segera pulih agar aktivitas ekspor dapat kembali normal dengan biaya yang lebih terkendali.
Sumber: CNN