BREAKING Selamat datang di FolksInsight.com I Informasi Berbasis Data, Perspektif Berbasis Fakta.
MARKET LIVE
Columbus | Sedikit berawan | 5°C

MUI Peringatkan Ancaman Nyata bagi Ekonomi Indonesia Jika Selat Hormuz Ditutup, Ini Langkah yang Harus Segera Diambil

MUI Peringatkan Ancaman Nyata bagi Ekonomi Indonesia Jika Selat Hormuz Ditutup, Ini Langkah yang Harus Segera Diambil
"Dengan memperkuat ketahanan pangan nasional, kami berharap dampaknya bisa diminimalkan. Yang terpenting, kita harus memastikan dampak ekonomi tidak berkembang menjadi masalah keamanan domestik," tegas Cholil Nafis.

FolksInsight.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) angkat bicara soal eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang dinilai berpotensi memberikan dampak serius terhadap perekonomian nasional. Lembaga keagamaan tertinggi di Indonesia itu mendesak pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk segera memperkuat ketahanan pangan sebagai langkah antisipatif menghadapi ketidakpastian global yang kian memanas.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua MUI, Cholil Nafis, di Jakarta pada Selasa. Menurutnya, Indonesia tidak bisa bersikap pasif menghadapi dinamika geopolitik di Timur Tengah yang sewaktu-waktu bisa bergejolak lebih jauh dan merambat ke berbagai sektor kehidupan masyarakat dalam negeri.

Ancaman Nyata dari Selat Hormuz

Ads

Salah satu skenario yang paling diwaspadai oleh MUI adalah kemungkinan penutupan Selat Hormuz apabila konflik di Timur Tengah terus mengalami eskalasi. Selat strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu merupakan jalur utama distribusi minyak mentah dunia. Jika akses tersebut terganggu, harga minyak global diprediksi akan melonjak tajam dalam waktu singkat.

Bagi Indonesia, situasi ini bukan sekadar ancaman abstrak. Sebagai negara yang hingga kini masih bergantung pada impor bahan bakar minyak untuk memenuhi kebutuhan domestiknya, kenaikan harga minyak dunia secara langsung akan memukul daya beli masyarakat, mendorong inflasi, dan menekan berbagai sektor industri nasional.

"Dengan memperkuat ketahanan pangan nasional, kami berharap dampaknya bisa diminimalkan. Yang terpenting, kita harus memastikan dampak ekonomi tidak berkembang menjadi masalah keamanan domestik," tegas Cholil Nafis.

Ketahanan Pangan sebagai Benteng Pertahanan Ekonomi

MUI menekankan bahwa penguatan ketahanan pangan bukan hanya urusan pertanian semata, melainkan merupakan fondasi stabilitas nasional yang menyeluruh. Ketika gejolak eksternal melanda, negara yang memiliki cadangan dan produksi pangan yang kuat akan jauh lebih tahan terhadap tekanan ekonomi dibandingkan negara yang bergantung pada impor.

Dalam konteks ini, seruan MUI menjadi pengingat bahwa investasi di sektor pangan — mulai dari peningkatan produksi beras, jagung, kedelai, hingga komoditas strategis lainnya — harus dijadikan prioritas nasional yang tidak boleh ditunda. Stabilitas pangan adalah kunci untuk mencegah krisis ekonomi merembet menjadi kerusuhan sosial yang mengancam keamanan dalam negeri.

Indonesia Harus Bicara Satu Suara

Di luar aspek ekonomi, MUI juga menyoroti pentingnya kesatuan sikap Indonesia dalam merespons konflik yang tengah berlangsung di Timur Tengah. Nafis menegaskan bahwa seluruh elemen bangsa perlu menyuarakan posisi yang sama: mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan, menuntut penghentian segala bentuk kekerasan, dan mendorong tercapainya perdamaian yang berkelanjutan.

Ads

Dalam hal ini, MUI memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif Presiden Prabowo Subianto yang berambisi menjadi mediator dalam konflik tersebut. Bagi MUI, langkah diplomasi tersebut sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi perdamaian sekaligus merupakan amanat konstitusi Indonesia untuk turut berperan aktif dalam menjaga ketertiban dan perdamaian dunia.

"Kami mendukung upaya Presiden Prabowo untuk bertindak sebagai penengah, karena dalam Islam, memediasi antara pihak yang bertikai adalah tindakan yang sangat mulia," ujar Nafis.

Politik Luar Negeri Bebas Aktif Tetap Jadi Pegangan

Meski memberikan dukungan atas peran mediasi Indonesia, MUI mengingatkan agar pemerintah tetap berpegang teguh pada prinsip politik luar negeri yang bebas dan aktif. Artinya, Indonesia tidak boleh terseret ke dalam keberpihakan yang justru merugikan kepentingan nasional maupun membahayakan posisi diplomatik di kancah internasional.

Ads

Nafis menekankan bahwa dukungan MUI bersifat realistis dan terukur. "Kami mendukung sepenuhnya tanpa bersikap pesimis, dan tetap realistis dengan kapasitas dan saluran diplomatik yang ada," katanya. Indonesia, lanjutnya, harus memanfaatkan jalur-jalur diplomasi yang tersedia secara optimal tanpa melampaui kapasitas yang dimiliki.

MUI Kecam Serangan, Minta Semua Pihak Menahan Diri

Terkait dengan dinamika konflik yang terus berkembang, MUI secara tegas mengecam serangan yang ditujukan kepada Iran. Namun dalam waktu bersamaan, lembaga ini juga meminta agar respons balasan dari pihak manapun dilakukan secara proporsional dan tidak melampaui batas.

Kekhawatiran terbesar MUI adalah jika konflik ini meluas hingga mengganggu negara-negara tetangga atau — yang paling dihindari — berdampak pada dua kota paling suci dalam Islam, yakni Makkah dan Madinah.

"Konflik ini tidak boleh dibiarkan berkembang menjadi konflik regional atau memicu konflik global," tegas Nafis dengan nada serius.

MUI menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa pada dasarnya seluruh umat manusia mendambakan dunia yang damai dan stabil. Oleh karena itu, setiap langkah yang diambil — baik di dalam maupun di luar negeri — harus selalu diarahkan untuk meredam, bukan memperkeruh, situasi yang sudah sangat kompleks ini. Indonesia, dengan posisi geopolitisnya yang strategis dan rekam jejak diplomasinya, dinilai memiliki peran penting yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

FolksVoice

Lihat Semua
Sony Novian

Sony Novian

Co-Founder of Katagonia Language Solutions

Eksklusif 06 Mar 2026

Di Balik Mikrofon: Hal-Hal yang Tidak Pernah Didengar Publik dari Seorang Interpreter

Tapi tahukah Anda? Semua itu terbayar lunas ketika dua pihak yang berbeda bahasa bisa berjabat tangan dengan hangat, ketika kontrak senilai miliaran rupiah ditandatangani, atau ketika misi kemanusiaan berhasil dijalankan. Di balik mikrofon, saya tidak mencari tepuk tangan. Saya hanya ingin dunia ini sedikit lebih terhubung.

Sony Novian

Sony Novian

Co-Founder of Katagonia Language Solutions

Eksklusif 06 Mar 2026

Ketika Bahasa Menjadi Jembatan, Bukan Sekadar Kata

Dalam banyak pertemuan internasional yang saya hadiri, saya sering menyaksikan bagaimana satu kata yang diterjemahkan dengan nuansa yang sedikit berbeda dapat mengubah suasana sebuah diskusi. Bahasa tidak hanya membawa makna, tetapi juga emosi, konteks, dan kadang juga strategi.

Berita Terkait

Komentar 0 Komentar

Tulis Komentar

Anda harus login untuk berkomentar.

Login / Daftar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!