EKONOMI
Keuangan
Menteri Keuangan Pastikan Harga Pertalite dan Solar Tidak Naik hingga Akhir 2026: "Masyarakat Tak Usah Ribut!"
Tim Redaksi
07 Apr 2026 07:48
2,692 kali
Gambar Ilustrasi
"Kami siap tidak menaikkan sampai akhir tahun untuk BBM subsidi dengan asumsi harga minyak US$100 per barel sampai akhir tahun sudah dihitung. Jadi masyarakat tidak usah ribut, tidak usah takut. Kita sudah hitung," ujar Purbaya dalam rapat bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Senin (6/4).
FolksInsight.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memberikan jaminan bahwa harga Pertalite dan Solar, dua jenis bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026. Kepastian ini disampaikan di tengah situasi harga minyak dunia yang tengah melonjak akibat konflik geopolitik global yang memanas.
Purbaya menegaskan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai perhitungan skenario secara matang untuk menjaga stabilitas harga energi di dalam negeri. Ia memastikan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir karena langkah antisipasi sudah disiapkan sejak awal, bahkan sebelum lonjakan harga minyak dunia terjadi.
"Kami siap tidak menaikkan sampai akhir tahun untuk BBM subsidi dengan asumsi harga minyak US$100 per barel sampai akhir tahun sudah dihitung. Jadi masyarakat tidak usah ribut, tidak usah takut. Kita sudah hitung," ujar Purbaya dalam rapat bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Senin (6/4).
Menurut penjelasan Purbaya, langkah antisipasi telah dilakukan sejak awal ketika harga minyak mulai menunjukkan tren kenaikan yang signifikan. Pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan, langsung bergerak cepat dengan melakukan simulasi terhadap berbagai kemungkinan harga minyak global. Setiap kali harga minyak naik ke level tinggi, pihaknya langsung melakukan evaluasi dan perhitungan untuk masing-masing skenario harga.
Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026, asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) ditetapkan sebesar US$70 per barel. Namun, pemerintah tidak berhenti pada angka tersebut. Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah juga telah menyiapkan skenario jika harga minyak dunia melonjak ke level yang lebih tinggi, yaitu US$80, US$90, hingga US$100 per barel. Semua perhitungan tersebut didasarkan pada rata-rata harga tahunan, bukan pada pergerakan harga harian yang fluktuatif.
Lebih lanjut, Purbaya menyampaikan bahwa dengan asumsi harga minyak rata-rata mencapai US$100 per barel sepanjang tahun 2026, kondisi fiskal atau keuangan negara Indonesia tetap terjaga dengan aman. Ia memproyeksikan bahwa defisit anggaran masih akan berada di bawah batas aman yang ditetapkan, yaitu 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Menurut perhitungan pemerintah, defisit diperkirakan hanya sekitar 2,92 persen.
Purbaya juga menambahkan bahwa APBN akan berperan sebagai bantalan atau penyangga untuk meredam dampak kenaikan harga energi global terhadap daya beli masyarakat. Dengan kata lain, negara akan menanggung sebagian beban kenaikan harga agar masyarakat tidak merasakan langsung tekanan dari gejolak pasar dunia. Selain itu, pemerintah juga mengandalkan potensi tambahan penerimaan negara dari sektor lain, salah satunya adalah dari kenaikan harga komoditas ekspor seperti batu bara di pasar internasional yang ikut terdongkrak akibat krisis energi.
Dengan demikian, masyarakat diharapkan tidak perlu panik atau melakukan pembelian BBM secara berlebihan karena pemerintah telah memastikan harga Pertalite dan Solar tetap stabil hingga akhir tahun 2026.