EKONOMI
Finansial
Gawat! Rupiah Tembus Rp17.090 per Dolar AS, Terlempar Imbas Perang dan Minyak Melonjak
Tim Redaksi
09 Mar 2026 10:40
2,173 kali
Gambar Ilustrasi
Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia sangat rentan terhadap gejolak harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak akan memperlebar defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan, serta meningkatkan tekanan inflasi. Kondisi ini pada gilirannya mendorong investor asing untuk melepas aset-aset rupiah dan beralih ke dolar AS sebagai aset safe haven.
FolksInsight.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) resmi menembus level psikologis Rp17 ribu pada perdagangan awal pekan ini, Senin, 9 Maret 2026. Pelemahan tajam ini dipicu oleh sentimen global yang memanas akibat perang antara AS-Israel melawan Iran, yang memicu lonjakan harga minyak dunia.
Melansir data Bloomberg, pada pukul 09.03 WIB, rupiah terpantau melemah 84 poin atau 0,50 persen ke level Rp17.090 per dolar AS. Angka ini jauh melemah dibandingkan penutupan perdagangan Jumat pekan lalu, 6 Maret 2026, yang masih berada di level Rp16.925 per dolar AS.
Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), menempatkan rupiah di posisi Rp16.919 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya.
Mata Uang Asia Bervariasi
Di tengah pelemahan rupiah, mata uang di kawasan Asia bergerak bervariasi. Yen Jepang tercatat menguat 0,62 persen, baht Thailand menguat 0,44 persen, dan peso Filipina menguat 0,66 persen. Namun, yuan China melemah 0,08 persen dan won Korea Selatan melemah 0,15 persen.
Minyak Tembus USD 100, Pemicu Kepanikan Global
Tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari lonjakan harga minyak mentah dunia yang resmi menembus level USD 100 per barel pada Minggu, 8 Maret 2026. Ini merupakan rekor tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022.
Melansir CNN, lonjakan harga minyak terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran investor bahwa perang yang diinisiasi AS dan Israel ke Iran akan berdampak panjang, terutama pada aliran distribusi minyak dari Timur Tengah. Ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi momok yang menakutkan pasar energi global.
Harga minyak mentah acuan jenis Brent tercatat melonjak 12,63 persen ke level USD 104 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS juga naik signifikan sebesar 14,7 persen.
Dampak Berantai bagi Indonesia
Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia sangat rentan terhadap gejolak harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak akan memperlebar defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan, serta meningkatkan tekanan inflasi. Kondisi ini pada gilirannya mendorong investor asing untuk melepas aset-aset rupiah dan beralih ke dolar AS sebagai aset safe haven.
Dengan rupiah yang sudah tembus Rp17 ribu, pelaku pasar kini mencermati langkah Bank Indonesia untuk menstabilkan mata uang. Intervensi di pasar valas dan penyesuaian suku bunga menjadi opsi yang mungkin diambil untuk mencegah pelemahan lebih lanjut.