EKONOMI
Bisnis
Perang AS-Iran Bikin Genting! Harga Minyak Dunia Tembus USD 100 per Barel, Tertinggi Sejak Invasi Ukraina
Tim Redaksi
09 Mar 2026 08:16
5,039 kali
Gambar Ilustrasi
Lonjakan harga minyak langsung berdampak pada pasar saham global. Indeks Dow Jones Industrial Average merosot tajam 851,6 poin atau sekitar 2 persen. Indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 1,73 persen dan 1,65 persen.
FolksInsight.com - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran resmi mendorong harga minyak mentah dunia menembus level psikologis USD 100 per barel pada Minggu, 8 Maret 2026. Lonjakan ini sekaligus mencatatkan rekor tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022 lalu, memicu kekhawatiran global akan krisis energi berkepanjangan.
Melansir CNN, harga minyak mentah melonjak tajam seiring meningkatnya kekhawatiran investor bahwa perang yang berkobar di kawasan Timur Tengah akan berdampak panjang pada pasokan energi dunia. Kekhawatiran utama adalah potensi pembatasan aliran distribusi minyak dari kawasan yang memasok sebagian besar kebutuhan dunia.
Harga minyak mentah acuan jenis Brent tercatat mengalami kenaikan signifikan sebesar 12,63 persen ke level USD 104 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS juga melonjak 14,7 persen, mencerminkan kepanikan yang melanda pasar energi global.
Wall Street Terkoreksi
Lonjakan harga minyak langsung berdampak pada pasar saham global. Indeks Dow Jones Industrial Average merosot tajam 851,6 poin atau sekitar 2 persen. Indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 1,73 persen dan 1,65 persen.
Penurunan ini disebabkan oleh kekhawatiran pasar keuangan akan guncangan energi yang berpotensi memicu inflasi baru di AS dan negara-negara maju lainnya. Lonjakan harga minyak dan gas yang berkepanjangan dapat memperburuk masalah keterjangkauan biaya hidup di Amerika, yang pada gilirannya akan mempengaruhi stabilitas politik.
Trump Sebut Gangguan Kecil
Di tengah kepanikan global, Pemerintahan Donald Trump mencoba meredam kekhawatiran publik. Trump menyebut lonjakan harga bensin sebagai "gangguan kecil" dan mengatakan bahwa lonjakan harga minyak yang terjadi adalah "pengalihan" atau detour yang sudah diproyeksikan sebelumnya.
Menteri Energi Chris Wright dalam program "State of the Union" di CNN menyatakan bahwa AS tidak berencana untuk menyerang industri minyak Iran atau situs infrastruktur energi lainnya. Pernyataan ini dimaksudkan untuk menenangkan pasar yang cemas akan eskalasi lebih lanjut.
Ancaman Iran atas Selat Hormuz
Namun, pernyataan kontras datang dari Iran. Seorang pejabat senior Iran memperingatkan bahwa konflik telah memasuki "fase baru" setelah serangan Israel. Pejabat tersebut memberi sinyal bahwa Iran mungkin akan membalas dengan menyerang infrastruktur energi di kawasan tersebut dalam beberapa hari mendatang.
"Iran tidak akan melepaskan kendali atas Selat Hormuz sampai target yang diinginkan tercapai," ujar pejabat tersebut.
Selat Hormuz adalah jalur air sempit yang dikendalikan oleh Iran, di mana sekitar 20 persen minyak dunia melintas setiap harinya. Iran telah mengancam akan menyerang setiap kapal tanker minyak yang melewati selat tersebut, yang secara efektif dapat menghentikan lalu lintas energi global.
Produksi Minyak Terhambat
Kondisi ketidakpastian ini membuat para produsen minyak tidak lagi memiliki ruang untuk menyimpan minyak yang mereka pompa. Akibatnya, banyak produsen kini mulai mengurangi hasil produksinya hingga situasi keamanan di kawasan membaik.
Dengan harga yang terus melambung dan ancaman gangguan pasokan yang nyata, dunia kini bersiap menghadapi krisis energi baru yang berpotensi memperlambat pemulihan ekonomi global.