DUNIA
Internasional
Pasca Khamenei Tumbang, Iran Umumkan Pembentukan Dewan Kepemimpinan Sementara
Tim Redaksi
06 Mar 2026 03:12
2,205 kali
Gambar Ilustrasi
Berdasarkan konstitusi Iran, Dewan Kepemimpinan Sementara ini terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, dan seorang ulama senior dari Dewan Penjaga Konstitusi, Alireza Arafi . Ketiganya kini memegang mandat untuk menjalankan tugas dan wewenang pemimpin tertinggi secara kolektif hingga pengganti tetap Khamenei ditetapkan.
FolksInsight.com - Iran resmi membentuk badan pemerintahan sementara yang beranggotakan tiga orang untuk memimpin negara menyusul gugurnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Dewan Kepemimpinan Sementara ini akan menjalankan roda pemerintahan hingga pemimpin baru terpilih melalui mekanisme konstitusional yang berlaku.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, mengkonfirmasi langkah cepat pemerintah dalam mengatasi kekosongan kepemimpinan pasca serangan yang menewaskan Khamenei. "Sebuah badan baru telah dibentuk yang terdiri dari tiga orang. Jadi mereka akan bertanggung jawab sampai pemimpin baru terpilih. Mereka sedang bekerja untuk mempersiapkan landasan bagi pemilihan pemimpin baru," kata Takht-Ravanchi kepada wartawan, Kamis (5/3/2026).
Berdasarkan konstitusi Iran, Dewan Kepemimpinan Sementara ini terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, dan seorang ulama senior dari Dewan Penjaga Konstitusi, Alireza Arafi . Ketiganya kini memegang mandat untuk menjalankan tugas dan wewenang pemimpin tertinggi secara kolektif hingga pengganti tetap Khamenei ditetapkan.
Sementara itu, proses pemilihan pemimpin tertinggi baru tengah berlangsung di internal Majelis Pakar Iran. Anggota Majelis Pakar, Mohsen Qomi, menyatakan bahwa lembaga yang bertugas memilih pemimpin negara ini sedang bekerja untuk menuntaskan proses suksesi. Mahmoud Rajabi, anggota presidium badan negara, menambahkan bahwa informasi final mengenai hasil pemilihan tersebut akan diumumkan oleh sekretariat Majelis Pakar.
Di tengah dinamika politik internal Iran, situasi keamanan regional justru semakin memanas. Amerika Serikat dikabarkan tengah mempertimbangkan operasi militer terhadap Iran yang dapat berlangsung setidaknya 100 hari atau hingga September mendatang, demikian laporan surat kabar Politico. Bahkan, Menteri Perang AS Pete Hegseth pada Rabu (4/3/2026) merevisi jadwal operasi militer menjadi delapan pekan dari sebelumnya empat hingga lima pekan.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah menetapkan tenggat waktu empat hingga lima minggu untuk menyelesaikan serangan terhadap Iran, jika diperlukan. Komando Pusat AS (CENTCOM) bahkan dilaporkan meminta tambahan perwira intelijen militer ke markas besarnya di Tampa, Florida, untuk mendukung operasi terkait Iran.
Situasi ini menempatkan Iran pada titik kritis, di mana transisi kepemimpinan domestik harus berjalan di tengah tekanan militer eksternal yang semakin intensif. Dunia kini menanti siapa sosok yang akan menggantikan Khamenei serta bagaimana arah kebijakan Teheran ke depan di tengah pusaran konflik dengan AS dan Israel.