DUNIA
Internasional
Konflik Memanas! Rudal Iran Hantam Pangkalan AS di Arab Saudi, 10 Tentara Terluka dan Pesawat Rusak
Tim Redaksi
28 Mar 2026 14:04
1,423 kali
Gambar Ilustrasi
Situasi di kawasan semakin memanas setelah Israel melancarkan serangan besar-besaran yang menargetkan situs nuklir dan berbagai fasilitas persenjataan milik Iran. Sebagai bentuk balasan, Teheran mengambil langkah yang tidak biasa dengan mengusir dua kapal kontainer milik China dari perairan Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia.
FolksInsight.com - Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memuncak setelah serangan rudal yang diluncurkan Iran menghantam Pangkalan Udara Pangeran Sultan yang berlokasi di Arab Saudi. Serangan tersebut mengakibatkan 10 tentara Amerika Serikat (AS) yang tengah berada di pangkalan itu mengalami luka-luka.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, dua dari sepuluh tentara AS tersebut dilaporkan menderita luka serius. Selain korban jiwa, sejumlah pesawat pengisi bahan bakar milik Amerika Serikat yang terparkir di pangkalan juga turut mengalami kerusakan akibat serangan ini.
Mengutip laporan The Wall Street Journal pada Jumat (27/3), serangan yang dilancarkan Iran tidak hanya mengandalkan rudal balistik, tetapi juga melibatkan kawanan pesawat tanpa awak atau drone yang menyasar fasilitas militer strategis tersebut.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) merilis data terkini yang menunjukkan bahwa selama empat pekan terakhir sejak perang dengan Iran pecah, lebih dari 300 tentara Amerika telah mengalami luka-luka. Angka ini mencerminkan tingginya intensitas konflik yang berkecamuk di kawasan tersebut.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, memperkirakan bahwa perang dengan Iran masih akan berlanjut dalam dua hingga empat pekan ke depan. Namun, ia menegaskan bahwa tantangan terbesar yang akan dihadapi setelah konflik usai adalah upaya mencegah Iran memberlakukan kebijakan sepihak terkait biaya cukai terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
"Langkah tersebut ilegal dan berbahaya bagi dunia," ucap Rubio seperti dikutip dari Anadolu Agency.
Situasi di kawasan semakin memanas setelah Israel melancarkan serangan besar-besaran yang menargetkan situs nuklir dan berbagai fasilitas persenjataan milik Iran. Sebagai bentuk balasan, Teheran mengambil langkah yang tidak biasa dengan mengusir dua kapal kontainer milik China dari perairan Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia.
Dampak dari eskalasi konflik ini mulai terasa di sektor ekonomi global. Harga minyak dunia melonjak tajam hingga melampaui angka US$100 per barel, menambah beban bagi negara-negara pengimpor energi. Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat justru merosot setelah Presiden Donald Trump memutuskan untuk menghentikan sementara serangan terhadap sektor energi Iran, sebuah langkah yang memicu ketidakpastian di pasar.
Kelompok yang berafiliasi dengan Iran juga mengklaim telah meretas akun email pribadi Direktur FBI, Kash Patel, menunjukkan bahwa konflik ini telah merambah ke ranah siber.
Iran terus melakukan serangan balasan atas agresi AS dan Israel di wilayahnya. Gelombang drone dan rudal diluncurkan tidak hanya ke Israel, tetapi juga ke sejumlah negara seperti Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang selama ini menjadi lokasi penempatan aset militer Amerika Serikat.
Selain menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang signifikan, konflik yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 ini telah mengacaukan pasar global dan memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi. Jalur penerbangan internasional di kawasan tersebut juga mengalami pemutusan secara masif akibat pembatasan yang diberlakukan oleh berbagai negara untuk menghindari risiko serangan.