DUNIA
Internasional
Baru Enam Hari Perang, Anggaran Pertempuran AS Lawan Iran Jebol Rp180 Triliun!
Tim Redaksi
13 Mar 2026 10:19
3,611 kali
Gambar Ilustrasi
Diperkirakan, Gedung Putih dalam waktu dekat akan mengajukan permintaan pendanaan tambahan untuk membiayai perang yang terus berlanjut. Beberapa ajudan Kongres memperkirakan nilai pengajuan tersebut bisa mencapai 50 miliar dolar AS atau sekitar Rp800 triliun. Namun, sejumlah pejabat menilai angka tersebut kemungkinan masih terlalu rendah mengingat kebutuhan logistik dan amunisi yang terus membengkak.
FolksInsight.com - Perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang baru berlangsung kurang dari sepekan ternyata telah menguras kantong pemerintah AS dalam jumlah yang fantastis. Pemerintahan Presiden Donald Trump memperkirakan bahwa biaya yang dihabiskan selama enam hari pertama operasi militer telah mencapai sedikitnya 11,3 miliar dolar AS atau setara dengan Rp180,8 triliun (asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS).
Angka yang mencengangkan ini disampaikan oleh pejabat pemerintahan Trump dalam sebuah pengarahan tertutup yang digelar pekan ini. Sumber yang mengetahui jalannya pertemuan pada Rabu (11/3/2026) mengungkapkan bahwa informasi tersebut diberikan kepada para senator dalam sesi khusus pada Selasa. Namun demikian, angka tersebut baru sekadar gambaran awal dan belum mencakup seluruh biaya konflik secara keseluruhan. Para anggota parlemen sebelumnya memang mendesak pemerintah untuk memberikan informasi yang lebih rinci mengenai operasi militer di Timur Tengah.
Diperkirakan, Gedung Putih dalam waktu dekat akan mengajukan permintaan pendanaan tambahan untuk membiayai perang yang terus berlanjut. Beberapa ajudan Kongres memperkirakan nilai pengajuan tersebut bisa mencapai 50 miliar dolar AS atau sekitar Rp800 triliun. Namun, sejumlah pejabat menilai angka tersebut kemungkinan masih terlalu rendah mengingat kebutuhan logistik dan amunisi yang terus membengkak.
Hingga saat ini, pemerintah AS belum memberikan penilaian publik yang komprehensif mengenai total biaya konflik maupun estimasi berapa lama perang akan berlangsung. Dalam kunjungannya ke Kentucky pada Rabu, Trump hanya menyatakan bahwa Amerika Serikat saat ini "memenangkan perang", namun menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlanjut hingga tujuan mereka tercapai. Pernyataan ini memicu spekulasi bahwa konflik diprediksi masih akan berlangsung lama.
Kampanye militer terhadap Iran sendiri dimulai pada 28 Februari lalu melalui serangan udara yang dilancarkan AS bersama Israel. Agresi tersebut hingga kini dilaporkan telah menewaskan sekitar 2.000 orang, yang sebagian besar merupakan warga Iran dan Lebanon, setelah pertempuran meluas hingga ke wilayah Lebanon. Selain memakan korban jiwa, perang ini juga memicu gejolak di pasar energi global serta mengganggu sektor transportasi internasional.
Dari total biaya 11,3 miliar dolar AS yang telah dikeluarkan, sebagian besar digunakan untuk membiayai serangan udara masif di awal konflik. Pejabat pemerintah menyampaikan kepada anggota parlemen bahwa sekitar 5,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp89,6 triliun nilai amunisi telah digunakan hanya dalam dua hari pertama operasi militer. Artinya, dalam waktu 48 jam pertama, AS sudah membakar habis hampir setengah dari total anggaran enam hari perang.
Penggunaan amunisi yang begitu masif dalam waktu singkat ini mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan anggota Kongres. Mereka menyuarakan bahwa agresi berkepanjangan dapat menguras persediaan militer Amerika Serikat. Kekhawatiran ini muncul di tengah tekanan besar terhadap industri pertahanan yang saat ini juga berupaya memenuhi berbagai permintaan senjata dari berbagai pihak.
Pekan lalu, Trump bahkan mengadakan pertemuan khusus dengan para eksekutif dari tujuh kontraktor pertahanan terkemuka. Pertemuan ini digelar di tengah upaya Pentagon yang berusaha keras untuk mempercepat produksi dan mengisi kembali stok amunisi militer yang mulai menipis. Dengan kondisi ini, perang melawan Iran dipastikan tidak hanya memakan korban jiwa, tetapi juga menguras kekuatan ekonomi dan logistik negara adidaya tersebut.