DUNIA
Internasional
Iran Klaim Pukul Mundur Trump, Ini 10 Syarat Gencatan Senjata yang Bikin AS Harus Duduk di Meja Perundingan
Tim Redaksi
08 Apr 2026 14:11
3,308 kali
Gambar Ilustrasi
Deklarasi kemenangan dari pihak Iran ini mencuat tak lama setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan secara sepihak melalui akun Truth Social miliknya bahwa akan ada gencatan senjata sementara selama dua pekan. Trump menggambarkan penghentian perang ini sebagai "gencatan senjata dua sisi" yang berkaitan erat dengan upaya pembukaan kembali akses pelayaran di Selat Hormuz yang sempat terganggu akibat eskalasi militer. Dalam pernyataannya, Trump mengakui bahwa 10 poin proposal yang disodorkan Iran menyediakan "sebuah dasar yang bisa dilaksanakan" untuk memulai perundingan yang lebih konstruktif.
FolksInsight.com - Ketegangan di kawasan Timur Tengah memasuki babak baru yang mengejutkan. Dewan Keamanan Tertinggi Nasional Iran pada Rabu (8/4/2026) secara resmi mendeklarasikan sebuah kemenangan bersejarah atas Amerika Serikat. Teheran mengklaim telah berhasil memaksa Washington untuk menyetujui 10 poin proposal gencatan senjata yang diajukan oleh pihak Iran sebagai prasyarat untuk menghentikan pertempuran.
Menurut keterangan resmi yang dirilis oleh Sekretariat Dewan Keamanan Tertinggi Nasional Iran dan dikutip dari Middle East Eye, proposal damai yang diusung Teheran tersebut memuat sejumlah tuntutan strategis yang sangat krusial bagi kepentingan nasional dan regional mereka. Kesepuluh poin tersebut mencakup jaminan bahwa tidak akan ada lagi agresi militer terhadap wilayah Iran, penegasan kontrol penuh Republik Islam Iran atas jalur pelayaran vital Selat Hormuz, relaksasi atau pelonggaran sanksi ekonomi yang selama ini membelit, hingga tuntutan penarikan mundur pasukan Amerika Serikat dari kawasan serta permintaan pembayaran ganti rugi atas dampak yang ditimbulkan oleh konflik bersenjata.

Deklarasi kemenangan dari pihak Iran ini mencuat tak lama setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan secara sepihak melalui akun Truth Social miliknya bahwa akan ada gencatan senjata sementara selama dua pekan. Trump menggambarkan penghentian perang ini sebagai "gencatan senjata dua sisi" yang berkaitan erat dengan upaya pembukaan kembali akses pelayaran di Selat Hormuz yang sempat terganggu akibat eskalasi militer. Dalam pernyataannya, Trump mengakui bahwa 10 poin proposal yang disodorkan Iran menyediakan "sebuah dasar yang bisa dilaksanakan" untuk memulai perundingan yang lebih konstruktif.
Pihak SNSC Iran mengonfirmasi bahwa proposal tersebut disampaikan kepada Washington melalui perantaraan Pakistan. Hasilnya, Washington disebut telah menyetujui prinsip-prinsip dasar yang diajukan Teheran sebagai fondasi awal negosiasi. Rencananya, perundingan langsung antara delegasi Iran dan Amerika Serikat akan segera digelar di Islamabad, Pakistan, pada Jumat (10/4/2026). Agenda utama pertemuan tersebut adalah untuk membahas dan merampungkan detail teknis dari proposal damai tersebut. Proses negosiasi diperkirakan akan berlangsung selama 15 hari ke depan, dengan opsi perpanjangan waktu jika kedua belah pihak memandang perlu. Lebih lanjut, SNSC menekankan bahwa setiap perjanjian akhir nantinya harus diformalkan melalui suatu mekanisme internasional yang sah.
Meski suasana mulai bergerak ke arah diplomasi, Iran tetap menunjukkan sikap waspada dan tidak ingin dianggap lengah. SNSC secara eksplisit menyatakan bahwa dimulainya negosiasi ini "bukan berarti akhir dari perang". Teheran menegaskan bahwa operasi militer dan status siaga tinggi akan tetap dipertahankan. Jika dalam proses perundingan nanti tuntutan-tuntutan utama Iran tidak dipenuhi, maka kekuatan bersenjata negara itu siap melanjutkan konfrontasi militer. Pernyataan ini diperkuat dengan klaim SNSC bahwa angkatan bersenjata Iran bersama kelompok-kelompok sekutunya di kawasan telah berhasil memberikan "kekalahan besar" di pihak musuh, yang pada akhirnya mendorong pihak lawan untuk meminta gencatan senjata.
Dewan Keamanan Nasional Iran juga menyatakan bahwa tujuan utama mereka dalam perang ini adalah untuk membentuk tatanan keamanan baru di kawasan yang didasarkan pada apa yang mereka sebut sebagai prinsip "kekuatan dan supremasi". Sambil mempertahankan tekanan militer hingga hasil perundingan terkonsolidasi sepenuhnya, SNSC menyerukan persatuan nasional di dalam negeri selama periode krusial ini. Mereka juga memberikan peringatan keras bahwa setiap langkah salah perhitungan dari pihak musuh akan langsung dihadapi dengan respons kekuatan penuh dari pasukan Iran.