DUNIA
Internasional
Diam-diam Senang? Rusia Akui Iran Tak Minta Bantuan Senjata Lawan AS-Israel
Tim Redaksi
07 Mar 2026 05:53
1,309 kali
Gambar Ilustrasi
Peskov menambahkan bahwa Rusia menghormati pilihan Iran yang tidak meminta bantuan persenjataan di tengah konflik. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kedekatan hubungan kedua negara tidak akan berubah.
FolksInsight.com - Di tengah gempuran gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari lalu, publik internasional bertanya-tanya: akankah Rusia, sebagai sekutu dekat Teheran, turun tangan memberikan bantuan persenjataan? Jawaban mengejutkan datang langsung dari Kremlin.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa Rusia sama sekali tidak menerima permintaan bantuan militer dari Iran selama perang berlangsung. Pernyataan ini disampaikan Peskov pada Kamis, 5 Maret 2026, menjawab pertanyaan wartawan terkait kemungkinan Moskow mengirim senjata ke Teheran.
"Dalam hal ini, tidak ada permintaan dari pihak Iran. Posisi konsisten kami diketahui secara umum dan tidak ada perubahan dalam hal ini," kata Peskov.
Peskov menambahkan bahwa Rusia menghormati pilihan Iran yang tidak meminta bantuan persenjataan di tengah konflik. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kedekatan hubungan kedua negara tidak akan berubah.
Hubungan Erat Rusia-Iran
Kedekatan Moskow dan Teheran memang bukan rahasia. Tahun lalu, kedua negara mengikat kesepakatan kemitraan strategis yang akan berlangsung selama 20 tahun ke depan. Rusia juga sedang membangun dua fasilitas nuklir baru di Bushehr, satu-satunya situs pembangkit tenaga nuklir di Iran.
Sebagai imbalan, Iran diketahui memasok Rusia dengan drone kamikaze Shahed yang digunakan dalam perang melawan Ukraina. Hubungan timbal balik ini membuat banyak pihak mengira Rusia akan segera mengulurkan tangan ketika Iran diserang.
Mengapa Rusia Menahan Diri?
Pengamat menilai keengganan Rusia membantu Iran bukan tanpa alasan. Moskow saat ini masih disibukkan dengan perang berkepanjangan melawan Ukraina yang telah menguras sumber daya militer dan ekonomi.
Kepala ahli strategi geopolitik di BCA Research, Matt Gerken, berpandangan bahwa perang di Ukraina telah mengikis kemampuan Rusia untuk memproyeksikan kekuatan di luar perbatasannya. Militer Rusia, kata dia, sudah kewalahan, sementara perekonomiannya terus tertekan oleh sanksi negara-negara Barat.
Akibatnya, pengaruh Moskow di kawasan Timur Tengah pun kian berkurang. Rusia tidak lagi memiliki kapasitas dan sumber daya untuk terlibat dalam konflik baru di kawasan yang jauh dari rumah.
Rusia Diuntungkan dengan Konflik?
Presiden Transversal Consulting, Ellen Wald, bahkan melihat sisi lain dari situasi ini. Menurutnya, Rusia tampaknya malah bersyukur dengan eskalasi konflik di Timur Tengah.
"Mengapa? Karena perhatian dunia dan Presiden AS Donald Trump kini terfokus pada Iran," ujar Wald. Dengan kata lain, tekanan terhadap Rusia di Ukraina bisa berkurang karena AS harus membagi fokus ke Timur Tengah.
Dengan Iran yang tidak meminta bantuan dan Rusia yang sedang kewalahan, konflik Timur Tengah kali ini benar-benar menjadi ujian bagi aliansi strategis kedua negara. Apakah hubungan erat di atas kertas akan terbukti ketika salah satu sedang dalam bahaya? Jawabannya tampaknya masih misteri.