DUNIA
Internasional
Perang Melawan Iran Baru Sehari, Anggaran Militer AS Langsung Jebol Hampir Rp12 Triliun
Tim Redaksi
04 Mar 2026 01:21
163 kali
Gambar Ilustrasi
Para analis militer mengakui bahwa menghitung total biaya perang secara keseluruhan bukanlah perkara mudah. Namun, data yang muncul dari berbagai lembaga riset menunjukkan beban ekonomi yang harus ditanggung wajib pajak Amerika terus membengkak seiring konflik yang memasuki hari keempat.
FolksInsight.com - Amerika Serikat tercatat telah menggelontorkan dana sekitar 779 juta dolar AS atau setara Rp12,2 triliun (kurs Rp15.700) dalam 24 jam pertama serangan terhadap Iran yang dimulai pada Sabtu (28/3/2026). Angka tersebut merupakan estimasi yang dirilis oleh Anadolu Agency berdasarkan analisis biaya operasi militer awal.
Pengeluaran fantastis tersebut belum termasuk biaya mobilisasi militer besar-besaran yang dilakukan Washington menjelang serangan. Menurut laporan Wall Street Journal, reposisi armada udara serta pengerahan lebih dari 12 kapal perang ke kawasan Timur Tengah telah menelan biaya mencapai 630 juta dolar AS. Artinya, total pengeluaran awal AS untuk operasi ofensif terhadap Iran telah menembus angka 1,4 miliar dolar AS hanya dalam hitungan hari.
Para analis militer mengakui bahwa menghitung total biaya perang secara keseluruhan bukanlah perkara mudah. Namun, data yang muncul dari berbagai lembaga riset menunjukkan beban ekonomi yang harus ditanggung wajib pajak Amerika terus membengkak seiring konflik yang memasuki hari keempat.
Pusat Keamanan Amerika Baru (Center for a New American Security) merinci bahwa pengoperasian satu kelompok kapal induk tempur, seperti USS Gerald Ford yang saat ini bertugas di kawasan, membutuhkan biaya sekitar 6,5 juta dolar AS per hari. Biaya tersebut mencakup bahan bakar, logistik, gaji personel, serta perawatan armada pengawal.
Selain biaya operasional rutin, militer AS juga harus menanggung kerugian material akibat insiden di lapangan. Dilaporkan setidaknya tiga unit pesawat tempur Amerika jatuh di Kuwait pada Senin (30/3/2026). Meskipun belum ada konfirmasi resmi mengenai penyebab kecelakaan, kerugian peralatan tempur tersebut dipastikan menambah panjang daftar pengeluaran militer.
Dalam perkembangannya, serangan udara terhadap Iran terus digencarkan. Pada Selasa (31/3/2026) dini hari waktu setempat, pembom siluman B-2 Amerika yang dilengkapi dengan bom seberat 2.000 pon dilaporkan menyerang fasilitas rudal balistik Iran yang dibentengi. Militer AS menyatakan bahwa serangan tersebut menegaskan kapabilitas dan tekad Amerika untuk menargetkan infrastruktur pertahanan Iran.
"Tidak ada negara yang boleh meragukan tekad Amerika," tulis pernyataan yang beredar di media sosial terkait operasi tersebut.
Surat kabar Inggris The Times dalam analisisnya menyimpulkan bahwa perang melawan Iran ini berlangsung dengan biaya yang sangat tinggi. Bahkan dengan anggaran pertahanan Amerika Serikat yang mencapai satu triliun dolar untuk tahun fiskal 2026, konflik berkepanjangan di Timur Tengah diprediksi akan menguras sumber daya secara signifikan.
Para pengamat memperkirakan jika konflik berlangsung dalam jangka waktu mingguan atau bulanan, biaya keseluruhan dapat melonjak hingga puluhan miliar dolar. Hal ini mencakup tidak hanya amunisi canggih dan operasional personel, tetapi juga potensi bantuan militer tambahan untuk sekutu di kawasan serta biaya rekonstruksi pasca-konflik.
Di tengah eskalasi ini, masyarakat internasional mulai menyoroti dampak ekonomi dari perang modern. Berbeda dengan konflik masa lalu, perang saat ini melibatkan teknologi tinggi seperti pesawat siluman dan rudal presisi yang harganya mencapai jutaan dolar per unit. Bom seberat 2.000 pon yang dijatuhkan di fasilitas Iran, misalnya, diperkirakan menghabiskan biaya puluhan ribu dolar per unit, belum termasuk biaya pengiriman dan dukungan intelijen.
Pakar ekonomi pertahanan mencatat bahwa biaya perang tidak hanya dihitung dari sisi pengeluaran langsung. Gangguan terhadap rantai pasok minyak dunia, fluktuasi pasar saham, serta potensi krisis energi juga menjadi "biaya tersembunyi" yang pada akhirnya harus ditanggung ekonomi global, termasuk Amerika Serikat sendiri.
Hingga berita ini diturunkan, militer AS maupun Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait total kerusakan atau jumlah korban terbaru. Redaksi akan terus memantau perkembangan situasi terkait konflik dan implikasi ekonominya.