DUNIA
Internasional
Kronologi Baru! Kapal Iran Ditembak AS Usai Latihan di India, 87 Kru Tewas
Tim Redaksi
05 Mar 2026 19:53
389 kali
Gambar Ilustrasi
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengonfirmasi bahwa sebuah kapal selam Amerika meluncurkan torpedo dan menenggelamkan kapal perang Iran tersebut. Hegseth bahkan menyebut operasi ini sebagai penenggelaman kapal musuh pertama oleh kapal selam AS menggunakan torpedo sejak Perang Dunia II .
FolksInsight.com - Insiden mematikan terjadi di perairan internasional dekat Sri Lanka, di mana sebuah kapal perang Iran ditenggelamkan oleh torpedo Amerika Serikat. Yang mengejutkan, kapal tersebut diketahui baru saja selesai mengikuti latihan militer bersama Angkatan Laut India di Teluk Benggala dan sedang dalam perjalanan pulang, bukan dalam posisi bertempur. Serangan ini dilaporkan menewaskan sedikitnya 87 personel angkatan laut Iran.
Kapal fregat bernama IRIS Dena ini merupakan bagian dari Armada Selatan Angkatan Laut Iran dan dilengkapi dengan berbagai persenjataan canggih, termasuk rudal permukaan-ke-udara, rudal anti-kapal, meriam, dan torpedo. Menurut laporan yang dihimpun, kapal ini membawa sekitar 180 awak saat insiden terjadi di Samudra Hindia, tepatnya sekitar 44 mil laut dari pesisir pantai Galle, Sri Lanka, atau berjarak sangat jauh dari lokasi pertempuran utama di Teluk Arab .
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengonfirmasi bahwa sebuah kapal selam Amerika meluncurkan torpedo dan menenggelamkan kapal perang Iran tersebut. Hegseth bahkan menyebut operasi ini sebagai penenggelaman kapal musuh pertama oleh kapal selam AS menggunakan torpedo sejak Perang Dunia II .
"Sebuah kapal selam Amerika menenggelamkan kapal perang Iran yang mengira dirinya aman di perairan internasional. Sebaliknya, kapal itu ditenggelamkan oleh torpedo," kata Hegseth dalam konferensi pers di Pentagon.
Insiden ini memicu reaksi keras dan pertanyaan tajam dari berbagai pihak. Wes Bryant, mantan ahli penargetan operasi khusus angkatan udara AS, meragukan justifikasi serangan tersebut. Ia mempertanyakan apakah kapal perang Iran saat itu secara aktif menimbulkan ancaman atau sedang terlibat dalam permusuhan.
"Anda tidak bisa mengatakan bahwa kapal perang ini merupakan ancaman langsung bagi siapa pun. Dengan menargetkannya, apakah pemerintahan Trump mengatakan bahwa ancaman langsung itu adalah seluruh pemerintah dan militer Iran? Jika demikian, itu adalah contoh yang sangat berbahaya dari tindakan militer yang berlebihan," ujar Bryant, yang juga mantan kepala penilaian dampak sipil di Pentagon, menegaskan bahwa serangan terhadap IRIS Dena adalah ilegal.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui platform media sosial X, mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai "kekejaman di laut" yang dilakukan 2.000 mil dari perbatasan Iran. Ia menegaskan bahwa IRIS Dena sedang berlayar di perairan internasional sebagai tamu Angkatan Laut India saat diserang tanpa peringatan .
"Ingat kata-kata saya: AS akan sangat menyesali preseden yang telah mereka tetapkan," ancam Araghchi .
Sementara itu, Sri Lanka, yang berada di dekat lokasi kejadian, bergerak cepat melakukan operasi penyelamatan. Menurut Menteri Luar Negeri Sri Lanka, Vijitha Herath, penjaga pantai menerima panggilan darurat dari IRIS Dena pada pukul 5.08 pagi waktu setempat. Awak kapal menggambarkan insiden tersebut sebagai ledakan hebat .
"Pada pukul 6 pagi kami mengirimkan kapal angkatan laut dan pada pukul 7 pagi kapal angkatan laut kedua," kata Herath. Ia menegaskan bahwa Sri Lanka memiliki kewajiban untuk menanggapi panggilan bantuan sebagai negara penandatangan konvensi internasional tentang pencarian dan penyelamatan maritim .
Operasi gabungan Angkatan Laut dan Angkatan Udara Sri Lanka berhasil menyelamatkan 32 pelaut yang ditemukan dalam kondisi luka parah. Mereka segera dilarikan ke Rumah Sakit Karapitiya di Galle untuk mendapatkan perawatan intensif. Sayangnya, tim penyelamat juga menemukan puluhan jenazah awak kapal yang mengapung di perairan .
Serangan ini terjadi di tengah memanasnya konflik antara Iran melawan AS dan Israel yang sebelumnya banyak berlangsung di Timur Tengah. Insiden di perairan Sri Lanka ini menandai meluasnya zona konflik hingga ke kawasan Asia Selatan .