DUNIA
Global
Piala Dunia 2026 Terancam Batal? Profesor Olahraga Beberkan Skenario Terburuk di Balik Perang
Tim Redaksi
07 Mar 2026 03:20
2,859 kali
Gambar Ilustrasi
"Dengan hanya tiga bulan tersisa sebelum Piala Dunia, penundaan turnamen ke tahun depan tampaknya tidak mungkin," kata Chadwick seperti dilansir dari Sport Bible. "Secara logistik, ekonomi, dan politik, akan menjadi tantangan besar menjadwal ulang. Selama konflik tetap terkendali di Timur Tengah, sulit membenarkan atau menjelaskan penundaan tersebut."
FolksInsight.com - Hanya tinggal tiga bulan menjelang kick-off, gelaran Piala Dunia 2026 yang akan diselenggarakan secara bersama-sama oleh Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada kini dihadapkan pada ancaman yang tak terduga: eskalasi konflik global. Seorang profesor olahraga terkemuka memprediksi bahwa turnamen terakbar di dunia ini bisa saja ditunda jika perang yang sedang berkecamuk di Timur Tengah meluas hingga ke Eropa dan Amerika Utara.
Profesor Simon Chadwick, mantan direktur penelitian Piala Dunia 2022 yang kini mengajar di Universitas Leeds, Inggris, memberikan analisisnya mengenai potensi penundaan tersebut. Meski ia menilai kemungkinannya kecil saat ini, Chadwick mengingatkan bahwa situasi geopolitik dapat berubah dengan cepat.
"Dengan hanya tiga bulan tersisa sebelum Piala Dunia, penundaan turnamen ke tahun depan tampaknya tidak mungkin," kata Chadwick seperti dilansir dari Sport Bible. "Secara logistik, ekonomi, dan politik, akan menjadi tantangan besar menjadwal ulang. Selama konflik tetap terkendali di Timur Tengah, sulit membenarkan atau menjelaskan penundaan tersebut."
Namun, situasi yang berkembang dalam sepekan terakhir menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Perang antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat terus meluas. Presiden AS Donald Trump dilaporkan mendorong negara-negara Eropa untuk ikut berpartisipasi dalam koalisi militer melawan Iran.
Skenario Perang Global
Jika Eropa benar-benar turun tangan dan pada saat yang sama sekutu-sekutu Iran seperti Rusia, China, dan Korea Utara juga ikut ambil bagian, maka perang yang menghancurkan dunia bisa saja terjadi. Kondisi inilah yang menjadi titik kritis bagi penyelenggaraan Piala Dunia.
"Namun, jika serangan meluas ke Eropa dan Amerika Utara, masalah ini akan meningkat dan menjadi jauh lebih serius," ucap Chadwick. "Selain itu, jika perjalanan udara terganggu atau pasokan minyak terpengaruh secara signifikan, pertimbangan praktis mungkin memaksa FIFA dan AS untuk memikirkan pengaturan alternatif."
Gangguan pada rute penerbangan global dan krisis pasokan energi akan membuat mobilisasi tim, ofisial, dan jutaan suporter menjadi mustahil dilakukan. Dalam skenario terburuk, penundaan menjadi opsi yang tak terhindarkan meskipun sangat rumit.
Trump Tak Akan Mau Kalah
Namun, Chadwick juga menyoroti faktor politik yang sangat sensitif, terutama bagi tuan rumah utama, Amerika Serikat. Presiden Donald Trump, yang dikenal dengan sikap nasionalismenya yang kuat, diprediksi akan menolak keras gagasan penundaan.
"Namun demikian, ada dugaan bahwa Donald Trump dan pemerintahannya akan sangat menentang penjadwalan ulang, karena mereka kemungkinan akan menganggapnya sebagai penyerahan diri," jelas Chadwick.
Dalam pandangan Chadwick, penundaan Piala Dunia 2026 di negara sendiri akan dianggap sebagai indikasi bahwa AS kalah dari Iran. Citra ini tentu tidak ingin ditunjukkan oleh pemerintahan Trump di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Meski demikian, Chadwick menegaskan bahwa skenario penundaan tetap harus dipertimbangkan sebagai sebuah kemungkinan, meskipun untuk saat ini turnamen masih lebih mungkin untuk tetap berlangsung sesuai rencana.
"Penundaan harus menjadi kemungkinan, meskipun setidaknya untuk saat ini, turnamen tampaknya lebih mungkin untuk tetap berlangsung sesuai rencana," pungkasnya.
Dunia kini menanti dengan cemas. Bukan hanya nasib perdamaian global yang dipertaruhkan, tetapi juga pesta sepak bola terbesar umat manusia yang tinggal tiga bulan lagi.