DUNIA
Internasional
Iran Tuduh AS dan Israel Dalangi Infiltrasi Pasukan Kurdi, Perang Darat Mengintai!
Tim Redaksi
06 Mar 2026 02:29
319 kali
Gambar Ilustrasi
Kabar ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Wakil Kepala Staf Perdana Menteri Kurdistan, Aziz Ahmad, dengan tegas membantah laporan bahwa pasukan Kurdi mulai bergerak ke Iran. "Tidak ada satu pun warga Kurdi Irak yang telah melintasi perbatasan. Ini benar-benar palsu," tulisnya di media sosial X .
FolksInsight.com - Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru yang lebih kompleks. Sumber-sumber dari Israel dan Amerika Serikat mengonfirmasi kepada The Jerusalem Post bahwa pasukan Kurdi telah memulai operasi darat di wilayah barat Iran. Langkah ini disebut-sebut sebagai bagian dari upaya membuka front baru melawan Teheran di tengah gempuran udara yang terus berlanjut .
Pasukan Kurdi yang bermarkas di perbatasan Iran-Irak selama ini dikenal sebagai salah satu kelompok oposisi bersenjata paling terkemuka yang menentang rezim Teheran. Dengan ribuan anggota yang tersebar di wilayah Kurdistan Irak, mereka dinilai memiliki kapabilitas untuk melakukan gerilya di daerah perbatasan. Menurut sumber-sumber Kurdi, pasukan ini telah bersiap sejak beberapa hari terakhir untuk berpartisipasi dalam operasi darat di Iran barat, dengan tujuan menekan pasukan keamanan Iran dan memaksa mereka menyebar ke berbagai wilayah .
Kabar ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Wakil Kepala Staf Perdana Menteri Kurdistan, Aziz Ahmad, dengan tegas membantah laporan bahwa pasukan Kurdi mulai bergerak ke Iran. "Tidak ada satu pun warga Kurdi Irak yang telah melintasi perbatasan. Ini benar-benar palsu," tulisnya di media sosial X .
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga membantah laporan tersebut. Dalam pernyataan resminya, IRGC menyatakan bahwa informasi itu ditujukan untuk "merusak keamanan dan stabilitas di Iran." IRGC memperingatkan bahwa setiap upaya infiltrasi akan mendapat respons keras dari pasukan Iran .
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, juga angkat bicara. Ia membantah bahwa pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan untuk mempersenjatai pejuang Kurdi guna memicu pemberontakan di Iran. Ia menegaskan bahwa klaim tersebut "tidak memiliki dasar faktual" .
Meski demikian, berbagai sumber menyebutkan bahwa CIA dilaporkan sedang bernegosiasi dengan beberapa kelompok Kurdi. Tujuannya adalah menggunakan Kurdi untuk melemahkan pasukan Iran dan memungkinkan protes rakyat. Selain itu, AS berharap Kurdi bisa membantu mereka merebut dan mengendalikan Iran utara, sehingga menciptakan zona penyangga bagi Israel .
Di tengah simpang siur informasi ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengambil langkah diplomatik. Pada Kamis (5/3/2026), ia menelepon Kepala Persatuan Patriotik Kurdistan (PUK) di Irak, Bafel Talabani, untuk membahas "pergerakan teroris" di sepanjang perbatasan. Araghchi menekankan pentingnya memperkuat kerja sama guna menjaga keamanan perbatasan sesuai kesepahaman bilateral .
Dalam percakapan tersebut, Talabani menyampaikan belasungkawa atas syahidnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan seluruh korban agresi Amerika-Zionis. Ia juga menyoroti langkah-langkah yang diambil untuk memperkuat keamanan perbatasan dan menekankan kerja sama untuk mencegah tindakan destabilisasi .
Sementara itu, Iran tidak tinggal diam. Kementerian Intelijen Iran mengumumkan bahwa pasukannya telah melancarkan operasi gabungan dengan IRGC yang menargetkan posisi pejuang Kurdi di dekat perbatasan barat. Operasi "pre-emptive" ini disebut berhasil menghancurkan markas dan gudang amunisi milik kelompok yang dituduh bersiap memasuki Iran dengan dukungan AS dan Israel .
"Kelompok teroris separatis bermaksud memasuki negara melalui perbatasan barat, dengan dukungan musuh Amerika dan Zionis, dan melakukan serangan di daerah perkotaan dan perbatasan," demikian pernyataan kementerian tersebut. "Sebagian besar posisi dan fasilitas mereka hancur dan kerugian besar menimpa mereka" .
Seorang pejabat Kurdi mengungkapkan bahwa situasi di lapangan masih belum aman untuk bergerak. "Kami tidak bisa bergerak jika udara di atas kami tidak dibersihkan. Kami perlu melihat gudang senjata [pasukan keamanan Iran] dihancurkan. Kalau tidak, itu akan menjadi bunuh diri," kata Hanna Hussein Yazdan Pana, juru bicara Partai Kebebasan Kurdistan (PAK) .
Dengan saling bantah dan klaim yang bertolak belakang, situasi di perbatasan Iran-Irak masih diselimuti ketidakpastian. Yang jelas, eskalasi konflik telah memasuki dimensi baru yang berpotensi memicu perang saudara di Iran dan mengobarkan seluruh kawasan Timur Tengah .