FolksInsight.com - Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menyatakan bahwa perundingan mengenai Pedoman Tata Perilaku atau Code of Conduct (CoC) di Laut China Selatan antara China dan negara-negara ASEAN telah memasuki tahap krusial. Pernyataan ini disampaikan di tengah harapan agar kesepakatan akhir dapat dicapai pada tahun 2026.
Wang Yi menekankan bahwa selama ini Deklarasi Perilaku Para Pihak (Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea/DoC) yang ditandatangani pada 2002 terus dilaksanakan secara efektif. Menurutnya, semua pihak kini memiliki harapan besar untuk menyelesaikan negosiasi CoC dalam waktu dekat. “Perundingan mengenai Pedoman Tata Perilaku di Laut China Selatan kini memasuki tahap krusial. Semua pihak berharap dapat menyelesaikan perundingan pada tahun ini,” ujar Wang Yi, sebagaimana dikutip Antara.
Sengketa di Laut China Selatan telah menjadi isu sensitif di kawasan selama puluhan tahun. China mengklaim kedaulatan atas sejumlah wilayah, termasuk Kepulauan Spratly, Kepulauan Paracel, Kepulauan Pratas, serta Macclesfield Bank. Klaim tersebut tumpang tindih dengan tuntutan dari empat negara ASEAN, yaitu Brunei, Malaysia, Vietnam, dan Filipina.
Upaya mencari solusi damai dimulai sejak penandatanganan DoC pada tahun 2002 antara China dan ASEAN. Dokumen tersebut berisi komitmen bersama untuk menjaga stabilitas, mendorong penyelesaian sengketa secara damai, serta menciptakan suasana kondusif bagi dialog berkelanjutan di kawasan tersebut.
Pada 2026, Filipina yang menjabat sebagai ketua ASEAN menjadikan percepatan penyusunan CoC sebagai salah satu prioritas utama. Filipina juga sering terlibat dalam insiden dengan kapal Penjaga Pantai China di wilayah yang disengketakan, sehingga penyelesaian CoC dianggap krusial bagi Manila.
Wang Yi menilai bahwa penyelesaian CoC akan memberikan jaminan kelembagaan yang kuat untuk menjaga perdamaian dan stabilitas jangka panjang di Laut China Selatan. Ia menyatakan bahwa China memiliki keyakinan dan tekad untuk bekerja sama dengan semua pihak dalam mengatasi hambatan, mencari kesamaan pandangan, serta mengelola perbedaan secara konstruktif.
Menurut Wang, Beijing berharap konsensus dapat segera tercapai sehingga CoC dapat berfungsi sebagai pedoman efektif dalam mengelola perselisihan dan membangun kepercayaan antarnegara di kawasan. Ia juga mengklaim bahwa situasi di Laut China Selatan saat ini relatif stabil, dengan jalur pelayaran yang tetap aman dan menjamin kebebasan navigasi meskipun merupakan salah satu jalur perdagangan tersibuk di dunia.
Wang Yi mencontohkan beberapa kerja sama yang terus berjalan dalam setahun terakhir, antara lain pembahasan pengembangan bersama di laut antara China dan Indonesia, dialog maritim dengan Malaysia, serta kerja sama pembangunan perikanan berkelanjutan dengan Vietnam. Ia juga menyebutkan bahwa Penjaga Pantai China baru-baru ini membantu menyelamatkan lebih dari 10 awak kapal Filipina yang mengalami kesulitan di Laut China Selatan.
Pernyataan Wang Yi ini mencerminkan optimisme China terhadap proses negosiasi yang sedang berlangsung. Dengan memasuki tahap krusial, diharapkan kesepakatan CoC dapat menjadi langkah maju dalam meredakan ketegangan dan mempromosikan kerja sama di kawasan Laut China Selatan yang strategis.



