FolksInsight.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan di Jakarta, Kamis (5/3/2026). Mata uang Garuda turun 13 poin atau sekitar 0,08 persen menjadi Rp16.905 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp16.892 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pelaku pasar global. Risiko konflik terbuka yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang mendorong tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Menurut Rully, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar AS yang masih berlanjut dan mendekati level 100. Kondisi tersebut membuat investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman, sehingga menekan nilai tukar mata uang lain terhadap dolar AS.
Ketegangan geopolitik semakin meningkat setelah Iran menyatakan tidak memiliki rencana untuk melakukan perundingan dengan Amerika Serikat. Mengutip laporan Sputnik, Mohammad Mokhber yang merupakan ajudan mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, pada Rabu (4/3/2026) menyampaikan bahwa Iran tidak lagi menaruh kepercayaan kepada Amerika Serikat dalam hubungan kedua negara.
Dalam pernyataannya, Mokhber juga menegaskan bahwa Iran memiliki pengalaman panjang menghadapi konflik bersenjata, merujuk pada Perang Iran–Irak yang berlangsung selama delapan tahun sejak 1980 hingga 1988. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi modal bagi Iran untuk menghadapi situasi konflik yang mungkin terjadi saat ini.
Situasi semakin memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan tidak akan membiarkan serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu sebelumnya. Serangan tersebut dilaporkan menargetkan sejumlah lokasi di Iran, termasuk wilayah ibu kota Teheran.
Serangan tersebut mengakibatkan kerusakan pada sejumlah fasilitas serta menimbulkan korban di kalangan warga sipil. Televisi pemerintah Iran bahkan mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan gugur dalam serangan tersebut.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan menggunakan rudal yang diarahkan ke wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. IRGC menuduh serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel turut menyasar fasilitas sipil seperti sekolah, rumah sakit, stadion, restoran, hingga gedung pernikahan dengan tujuan menimbulkan kepanikan di masyarakat.
Menurut pernyataan IRGC, jumlah korban jiwa warga sipil akibat serangan tersebut dilaporkan telah melampaui 700 orang. Kondisi ini turut meningkatkan kekhawatiran global dan berdampak pada pergerakan pasar keuangan, termasuk nilai tukar mata uang di berbagai negara.
Selain faktor eksternal, sentimen domestik juga memengaruhi pergerakan rupiah. Penurunan outlook rating oleh lembaga pemeringkat Fitch menambah kehati-hatian pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi dalam negeri. Meski demikian, minat investor terhadap obligasi pemerintah Indonesia masih terbilang cukup tinggi.
Rully menjelaskan bahwa peningkatan minat investor terutama terjadi pada obligasi dengan tenor pendek hingga menengah. Hal ini dinilai membantu menahan tekanan pelemahan rupiah agar tidak bergerak lebih dalam.
Ia menyebutkan bahwa penurunan yield paling besar terjadi pada obligasi tenor tujuh tahun yang turun sebesar 4,4 basis poin. Sementara itu, obligasi tenor delapan tahun turun 4,1 basis poin, tenor sembilan tahun turun 3,1 basis poin, dan tenor sepuluh tahun turun sebesar 2,1 basis poin.
Menurut Rully, obligasi pemerintah Indonesia masih menawarkan tingkat imbal hasil yang menarik di tengah kondisi pasar global yang tidak menentu. Selain itu, likuiditas di pasar obligasi domestik juga dinilai masih cukup tinggi sehingga tetap diminati investor.
Sementara itu, data Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia pada hari yang sama menunjukkan pergerakan berbeda. Kurs referensi tersebut justru menguat ke posisi Rp16.886 per dolar AS, dibandingkan dengan posisi sebelumnya di level Rp16.911 per dolar AS.
Pergerakan rupiah yang dipengaruhi dinamika global dan domestik menunjukkan bahwa pasar keuangan Indonesia masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik internasional. Para pelaku pasar pun terus mencermati perkembangan situasi global serta kebijakan ekonomi yang dapat memengaruhi stabilitas nilai tukar di masa mendatang.
FolksVoice
Lihat Semua
Sony Novian
Co-Founder of Katagonia Language Solutions
Di Balik Mikrofon: Hal-Hal yang Tidak Pernah Didengar Publik dari Seorang Interpreter
Tapi tahukah Anda? Semua itu terbayar lunas ketika dua pihak yang berbeda bahasa bisa berjabat tangan dengan hangat, ketika kontrak senilai miliaran rupiah ditandatangani, atau ketika misi kemanusiaan berhasil dijalankan. Di balik mikrofon, saya tidak mencari tepuk tangan. Saya hanya ingin dunia ini sedikit lebih terhubung.
Sony Novian
Co-Founder of Katagonia Language Solutions
Ketika Bahasa Menjadi Jembatan, Bukan Sekadar Kata
Dalam banyak pertemuan internasional yang saya hadiri, saya sering menyaksikan bagaimana satu kata yang diterjemahkan dengan nuansa yang sedikit berbeda dapat mengubah suasana sebuah diskusi. Bahasa tidak hanya membawa makna, tetapi juga emosi, konteks, dan kadang juga strategi.
Berita Terkait
Tulis Komentar
Anda harus login untuk berkomentar.
Login / DaftarBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!



