BREAKING Selamat datang di FolksInsight.com I Informasi Berbasis Data, Perspektif Berbasis Fakta.
MARKET LIVE
Columbus | Sedikit berawan | 5°C

Viral Sahur Full Protein Katanya Tahan Lapar Seharian? Dokter Gizi Bongkar Faktanya!

Viral Sahur Full Protein Katanya Tahan Lapar Seharian? Dokter Gizi Bongkar Faktanya!
Lebih lanjut, Johanes mengungkapkan bahwa banyak orang keliru memahami sumber rasa lapar saat berpuasa. Ia menjelaskan bahwa salah satu penyebab cepat lapar justru berasal dari konsumsi karbohidrat sederhana dalam jumlah besar saat sahur. "Malahan konsumsi karbohidrat yang banyak dan rendah serat seperti nasi putih cenderung meningkatkan rasa lapar 1-2 jam setelah sahur," jelasnya.
FolksInsight.com - Tren pola makan saat sahur sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak warganet yang mengklaim bahwa mengonsumsi makanan tinggi protein, atau bahkan full protein tanpa karbohidrat, mampu membuat tubuh lebih tahan lapar selama menjalankan ibadah puasa. Namun, benarkah strategi tersebut efektif dan aman bagi kesehatan?

Dokter spesialis gizi, Johanes Chandrawinata, angkat bicara mengenai tren yang tengah viral ini. Saat dihubungi pada Jumat, 27 Februari, ia menjelaskan bahwa mengonsumsi protein saja saat sahur sebenarnya tidak berbahaya, selama jenis protein yang dipilih tepat. "Jika hanya mengonsumsi protein saja saat sahur, sebaiknya protein yang rendah lemak, sebenarnya tidak masalah," ujar Johanes.
Ads

Menurutnya, protein memang memiliki efek kenyang yang lebih lama dibandingkan karbohidrat sederhana. Hal ini disebabkan oleh proses pencernaan protein yang cenderung lebih lambat, sehingga dapat memperpanjang rasa kenyang dan membantu menahan lapar lebih lama. Namun, Johanes menekankan bahwa kualitas protein menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan. Konsumsi protein tinggi lemak justru berisiko menimbulkan masalah lain, seperti gangguan pencernaan atau rasa tidak nyaman saat berpuasa.

Lebih lanjut, Johanes mengungkapkan bahwa banyak orang keliru memahami sumber rasa lapar saat berpuasa. Ia menjelaskan bahwa salah satu penyebab cepat lapar justru berasal dari konsumsi karbohidrat sederhana dalam jumlah besar saat sahur. "Malahan konsumsi karbohidrat yang banyak dan rendah serat seperti nasi putih cenderung meningkatkan rasa lapar 1-2 jam setelah sahur," jelasnya.

Fenomena ini terjadi karena karbohidrat sederhana dapat meningkatkan gula darah dengan cepat, namun kemudian turun secara drastis dalam waktu relatif singkat. Penurunan gula darah yang cepat inilah yang sering memicu rasa lapar lebih awal di pagi hari, sehingga membuat tubuh terasa lemas dan ingin segera makan.

Meski demikian, Johanes tidak serta-merta menganjurkan pola makan ekstrem yang sepenuhnya menghilangkan karbohidrat dari menu sahur. Menurutnya, pola makan saat sahur tetap sebaiknya mengacu pada prinsip gizi seimbang. Tubuh tetap membutuhkan kombinasi makronutrien seperti karbohidrat, protein, dan lemak dalam proporsi yang tepat. Menghilangkan salah satu komponen secara total tanpa alasan medis tertentu bukanlah pendekatan yang ideal untuk jangka panjang.
Ads

Bagi mereka yang ingin mengurangi konsumsi karbohidrat sederhana, Johanes menyarankan untuk memilih jenis karbohidrat kompleks yang diserap secara perlahan oleh tubuh. Dengan demikian, energi yang dihasilkan akan lebih stabil dan rasa kenyang dapat bertahan lebih lama. "Karbohidrat yang baik adalah karbohidrat lepas lambat yaitu yang diserap perlahan oleh tubuh, seperti nasi merah, talas, nasi campur jagung. Porsinya 1/4 piring diameter 20 cm," paparnya.

Kesimpulannya, sahur dengan menu tinggi protein memang dapat membantu menahan lapar, namun bukan berarti karbohidrat harus dihilangkan sepenuhnya. Kuncinya adalah memilih jenis dan proporsi makanan yang tepat, serta memastikan asupan gizi tetap seimbang agar tubuh tetap bugar menjalani ibadah puasa hingga waktu berbuka tiba.
Ads

FolksVoice

Lihat Semua
Sony Novian

Sony Novian

Co-Founder of Katagonia Language Solutions

Eksklusif 06 Mar 2026

Di Balik Mikrofon: Hal-Hal yang Tidak Pernah Didengar Publik dari Seorang Interpreter

Tapi tahukah Anda? Semua itu terbayar lunas ketika dua pihak yang berbeda bahasa bisa berjabat tangan dengan hangat, ketika kontrak senilai miliaran rupiah ditandatangani, atau ketika misi kemanusiaan berhasil dijalankan. Di balik mikrofon, saya tidak mencari tepuk tangan. Saya hanya ingin dunia ini sedikit lebih terhubung.

Sony Novian

Sony Novian

Co-Founder of Katagonia Language Solutions

Eksklusif 06 Mar 2026

Ketika Bahasa Menjadi Jembatan, Bukan Sekadar Kata

Dalam banyak pertemuan internasional yang saya hadiri, saya sering menyaksikan bagaimana satu kata yang diterjemahkan dengan nuansa yang sedikit berbeda dapat mengubah suasana sebuah diskusi. Bahasa tidak hanya membawa makna, tetapi juga emosi, konteks, dan kadang juga strategi.

Berita Terkait

Komentar 0 Komentar

Tulis Komentar

Anda harus login untuk berkomentar.

Login / Daftar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!