NASIONAL
Peristiwa
Perang AS Vs Iran Berimbas ke Bali, Ribuan WNA Terancam Overstay, Imigrasi Turun Tangan
Tim Redaksi
04 Mar 2026 04:46
2,042 kali
Ilustrasi
Menghadapi situasi darurat ini, Kantor Imigrasi Ngurah Rai bergerak cepat dengan mengeluarkan kebijakan khusus. Para WNA yang terdampak pembatalan penerbangan tidak akan dikenakan denda overstay, meskipun mereka terpaksa tinggal lebih lama dari izin yang diberikan.
FolksInsight.com - Konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran ternyata membawa dampak langsung ke Pulau Dewata. Ribuan wisatawan mancanegara (WNA) yang tengah berlibur di Bali terancam overstay atau melebihi batas izin tinggal setelah penerbangan mereka ke Timur Tengah dibatalkan secara massal.
Pembatalan keberangkatan ini terjadi sejak Sabtu (28/2/2026), bertepatan dengan dimulainya serangan militer gabungan AS dan Israel ke Iran. Akibatnya, ribuan penumpang dengan tujuan akhir Doha, Dubai, dan Abu Dhabi terpaksa mengubur rencana perjalanan mereka.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Bali, Felucia Sengky Ratna, mengungkapkan bahwa data terbaru mencatat jumlah penumpang terdampak mencapai ribuan orang. Pada 28 Februari 2026 tercatat 1.802 penumpang mengalami pembatalan, disusul 1.316 penumpang pada 1 Maret, dan 1.308 penumpang pada 2 Maret 2026.
Menghadapi situasi darurat ini, Kantor Imigrasi Ngurah Rai bergerak cepat dengan mengeluarkan kebijakan khusus. Para WNA yang terdampak pembatalan penerbangan tidak akan dikenakan denda overstay, meskipun mereka terpaksa tinggal lebih lama dari izin yang diberikan.
"Kami juga memberikan layanan Izin Tinggal Keadaan Terpaksa (ITKT)," ujar Felucia Sengky Ratna di Denpasar, Selasa (3/3/2026).
Kebijakan ini merujuk pada Surat Edaran Direktorat Jenderal Imigrasi nomor IMI-590.GR.01.01 tahun 2025. Felucia menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk respons cepat pemerintah dalam menghadapi situasi force majeure global yang berdampak pada wisatawan di Bali.
Kepala Kantor Imigrasi Ngurah Rai, Bugie Kurniawan, menindaklanjuti arahan tersebut dengan menyiapkan mekanisme pelayanan yang cepat dan responsif di lapangan. Pihaknya membuka layanan khusus bagi WNA yang membutuhkan perpanjangan ITKT.
Bugie memastikan bahwa para WNA tidak perlu khawatir dengan status keimigrasian mereka selama menunggu jadwal penerbangan yang baru. "Silakan datang ke Kantor Imigrasi Ngurah Rai kapan pun untuk mengurus perpanjangan ITKT," katanya.
Adapun persyaratan yang wajib dibawa oleh WNA saat mengajukan layanan ITKT meliputi paspor asli, surat keterangan pembatalan penerbangan dari pihak maskapai, dan bukti tiket penerbangan yang telah dibatalkan.
Hingga 2 Maret 2026, tercatat sebanyak 35 permohonan perpanjangan ITKT telah masuk ke Kantor Imigrasi Ngurah Rai. Namun, angka ini diprediksi akan terus bertambah seiring masih banyaknya WNA yang terdampak dan belum mengurus administrasi keimigrasian mereka.
Selain memilih memperpanjang ITKT, beberapa WNA yang terdampak juga mengambil opsi untuk tetap berangkat ke luar wilayah Indonesia dengan mengubah tujuan mereka ke negara yang dinilai lebih aman.
Kantor Imigrasi Ngurah Rai juga memberikan kelonggaran khusus bagi WNA yang sudah akan berangkat namun tidak sempat mengurus perpanjangan ITKT di kantor imigrasi. Bagi penumpang dengan kondisi tersebut, mereka akan mendapatkan pembebasan biaya denda overstay di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Bandara.
Syaratnya cukup sederhana, yaitu dengan melampirkan surat keterangan (declaration) resmi dari otoritas bandara atau pihak maskapai penerbangan terkait yang membuktikan bahwa mereka terdampak pembatalan.
Untuk mempermudah koordinasi, Imigrasi Ngurah Rai telah membuka posko layanan bantuan (helpdesk) di bandara. Posko ini didirikan untuk memberikan informasi yang akurat, mengarahkan WNA yang kebingungan, serta mendata penumpang terdampak yang membutuhkan fasilitas keimigrasian.
Langkah responsif ini diharapkan dapat meringankan beban para wisatawan yang terjebak situasi geopolitik di luar kendali mereka, sekaligus menjaga citra Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia yang ramah dan siap menghadapi situasi darurat.