NASIONAL
Peristiwa
Harmoni di Bulan Suci! Cap Go Meh dan Ramadhan Berdampingan Indah di Singkawang
Tim Redaksi
06 Mar 2026 01:34
1,597 kali
Gambar Ilustrasi
Pada 3 Maret lalu, ribuan warga dan wisatawan memadati pusat Kota Singkawang untuk menyaksikan kemeriahan Cap Go Meh. Atraksi barongsai yang lincah, arak-arakan budaya yang semarak, hingga ritual tatung yang mistis kembali menjadi magnet utama yang menarik perhatian. Kemeriahan tahun ini kian istimewa dengan hadirnya Extrajoss untuk ketiga kalinya bersama kreator kondang Bobon Santoso merayakan Festival Cap Go Meh.
FolksInsight.com - Awal Maret 2026 menjadi momen istimewa bagi Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Dua momentum besar umat beragama berlangsung hampir bersamaan: umat Islam menjalankan ibadah puasa Ramadhan, sementara warga keturunan Tionghoa merayakan Cap Go Meh sebagai puncak sekaligus penutup rangkaian perayaan Imlek. Yang membuatnya luar biasa, keduanya berjalan beriringan dengan penuh harmoni tanpa gesekan sedikit pun.
Pada 3 Maret lalu, ribuan warga dan wisatawan memadati pusat Kota Singkawang untuk menyaksikan kemeriahan Cap Go Meh. Atraksi barongsai yang lincah, arak-arakan budaya yang semarak, hingga ritual tatung yang mistis kembali menjadi magnet utama yang menarik perhatian. Kemeriahan tahun ini kian istimewa dengan hadirnya Extrajoss untuk ketiga kalinya bersama kreator kondang Bobon Santoso merayakan Festival Cap Go Meh.
Di sisi lain, suasana berbeda namun tak kalah khusyuk terlihat di berbagai masjid dan musala. Umat Islam tetap menjalankan ibadah puasa dengan tenang. Tidak ada dominasi, tidak ada gangguan. Kedua momentum berlangsung pada porsinya masing-masing, saling menghormati tanpa saling mengganggu.
Cap Go Meh di Singkawang memang bukan sekadar agenda budaya tahunan. Ia telah menjadi simbol kehidupan masyarakat yang majemuk. Di kota ini, etnis Tionghoa, Melayu, Dayak, dan berbagai etnis lainnya telah lama hidup berdampingan dalam keseharian. Tradisi dijaga, perbedaan dihormati.
Pengakuan atas iklim toleransi yang kuat ini juga tercermin dalam laporan SETARA Institute melalui Indeks Kota Toleran 2024. Singkawang berhasil menempati peringkat kedua sebagai kota paling toleran di Indonesia, hanya kalah dari Salatiga. Pencapaian ini diperoleh dari penilaian terhadap 94 kota secara nasional.
Bobon Santoso, kreator kuliner yang telah menjadi mualaf, turut memberikan pandangannya tentang keindahan akulturasi yang terjadi di Singkawang. Menurutnya, Cap Go Meh bukan hanya perayaan budaya, melainkan juga simbol pertemuan budaya Tionghoa dan Nusantara.
"Lontong Cap Go Meh misalnya, itu simbol akulturasi. Ada perpaduan budaya Tionghoa dan Nusantara di satu piring. Itu yang bikin Indonesia istimewa," ujar Bobon dalam siaran pers yang diterima, Kamis (5/3/2026).
Bobon menambahkan bahwa perayaan yang bertepatan dengan Ramadhan justru memperlihatkan praktik toleransi yang konkret dan nyata. Ia mengaku terkesan dengan pemandangan yang disaksikannya di Singkawang.
"Merayakan Cap Go Meh di tengah Ramadhan menurut saya indah sekali. Yang menjalankan ibadah tetap khusyuk, yang merayakan tetap penuh sukacita. Semua berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu. Ini contoh nyata bagaimana keberagaman bisa jadi kekuatan," ucap Bobon penuh kekaguman.
Sementara itu, Head of Marketing PT Bintang Toedjoe, Arwin Nugraha Hutasoit, yang turut hadir dalam perayaan tersebut, juga menyampaikan apresiasinya. Ia menilai Singkawang menunjukkan contoh konkret bagaimana keberagaman dirawat dalam kehidupan sehari-hari.
"Singkawang menunjukkan bagaimana keberagaman bisa dirawat dengan baik. Masyarakatnya tetap rukun, menjaga budaya, dan saling menghormati. Ini energi positif yang nyata," ujar Arwin.
Ia menjelaskan bahwa keterlibatan perusahaannya dalam perayaan Cap Go Meh merupakan bentuk partisipasi dalam kegiatan budaya masyarakat. Menurutnya, momen yang bertepatan dengan Ramadhan semakin menegaskan bahwa perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi penghalang untuk menciptakan ruang hidup bersama yang harmonis.
Pemandangan indah di Singkawang ini menjadi bukti bahwa Indonesia, dengan segala keberagamannya, mampu menjadi rumah bersama bagi semua golongan. Di tengah berbagai isu intoleransi yang kadang muncul di beberapa tempat, Singkawang hadir sebagai oase yang menyejukkan dan patut dicontoh oleh daerah-daerah lain di Nusantara.