FolksInsight.com - Ramai di media sosial anggapan bahwa masuk desil 9 dan 10 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) berarti seseorang kaya raya atau sultan. Faktanya, secara statistik desil bukan label kelas kekayaan, melainkan posisi relatif rumah tangga dalam sepuluh kelompok kesejahteraan yang ditentukan lewat 39 variabel.
Dalam pemeringkatan DTSEN, desil 9 dan 10 memang menunjukkan kesejahteraan ekonomi tertinggi dibanding kelompok lain. Namun, tingkat kesejahteraan ini berdasarkan faktor sosial ekonomi, bukan hanya penghasilan atau kepemilikan aset. Keluarga diurutkan dari kondisi sosial ekonomi paling rendah (desil 1) hingga paling tinggi (desil 10), lalu dibagi menjadi sepuluh kelompok dengan jumlah keluarga relatif sama.
Artinya, masuk desil 9 atau 10 tidak serta-merta berarti keluarga tersebut memiliki penghasilan atau kekayaan setara sultan. Indikator yang digunakan mencakup berbagai aspek seperti pendidikan, kesehatan, kondisi perumahan, akses fasilitas, dan variabel sosial ekonomi lainnya. BPS menekankan bahwa semua ini adalah hasil pemeringkatan data, bukan label permanen.
Desil juga bisa berubah sewaktu-waktu. Ketika data sosial dan ekonomi keluarga diperbarui, posisi desil dapat bergeser. Masyarakat yang merasa datanya tidak sesuai dapat mengajukan pemutakhiran melalui desa/kelurahan, Dinas Sosial, atau aplikasi Cek Bansos. Dengan demikian, penting untuk memahami bahwa desil adalah alat ukur relatif, bukan penentu status kekayaan seseorang.
Sumber: CNN Indonesia
Link Berita: CNN Indonesia


