DUNIA
Internasional
Darurat Perang! Israel Hujani Iran dengan Gelombang Serangan Baru, Garda Revolusi Balas Tanker AS Dibakar
Tim Redaksi
05 Mar 2026 20:04
1,669 kali
Gambar Ilustrasi
Tidak tinggal diam, Garda Revolusi Iran (IRGC) langsung merespons dengan aksi balasan yang tidak kalah keras. Dalam pernyataan resmi yang dilaporkan oleh media semi-resmi Fars, IRGC mengklaim telah menghantam sebuah kapal tanker minyak milik Amerika Serikat di bagian utara Teluk Persia. Rudal yang diluncurkan pasukan angkatan laut IRGC berhasil mengenai sasaran dan dilaporkan membakar kapal tersebut . Serangan ini menjadi bukti bahwa Iran masih memiliki kapasitas untuk menyerang kepentingan AS di kawasan, meskipun mengalami pukulan telak di dalam negeri.
FolksInsight.com - Situasi di Timur Tengah semakin memanas dan memasuki babak baru yang lebih mengerikan. Militer Israel mengumumkan telah memulai gelombang serangan baru terhadap Iran pada Kamis (5/3/2026), yang langsung memicu kepanikan di ibu kota Teheran. Saksi mata melaporkan kepulan asap tebal membumbung tinggi di langit kota, menandai eskalasi dramatis dalam konflik yang telah berlangsung hampir sepekan terakhir .
Serangan terbaru ini merupakan bagian dari kampanye militer gabungan AS-Israel yang dilancarkan sejak Sabtu (28/2) lalu. Sebelumnya, serangan gabungan tersebut telah menewaskan sejumlah petinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei . Militer Israel menyebut serangan gelombang baru ini menargetkan "infrastruktur" di Teheran, meskipun belum merinci secara spesifik sasaran yang dihantam .
Tidak tinggal diam, Garda Revolusi Iran (IRGC) langsung merespons dengan aksi balasan yang tidak kalah keras. Dalam pernyataan resmi yang dilaporkan oleh media semi-resmi Fars, IRGC mengklaim telah menghantam sebuah kapal tanker minyak milik Amerika Serikat di bagian utara Teluk Persia. Rudal yang diluncurkan pasukan angkatan laut IRGC berhasil mengenai sasaran dan dilaporkan membakar kapal tersebut . Serangan ini menjadi bukti bahwa Iran masih memiliki kapasitas untuk menyerang kepentingan AS di kawasan, meskipun mengalami pukulan telak di dalam negeri.
IRGC juga mengeluarkan peringatan keras bahwa mereka akan mengontrol penuh lalu lintas maritim di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi dunia. Mereka menegaskan bahwa kapal-kapal komersial maupun milik militer dari Amerika Serikat, Israel, negara-negara Eropa, serta pendukung mereka tidak akan diizinkan melintas dan dapat diserang jika nekat .
Konflik yang kini memasuki hari keenam ini telah menimbulkan korban jiwa yang sangat besar. Hingga berita ini diturunkan, dilaporkan lebih dari 1.000 warga sipil Iran tewas akibat rentetan serangan gabungan Israel dan AS sejak Sabtu pekan lalu . Angka ini menunjukkan betapa dahsyatnya dampak perang terhadap penduduk sipil.
Selain serangan ke Iran, militer Israel juga melancarkan serangan baru terhadap kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon. Serangan dilaporkan menghantam pinggiran selatan Beirut, basis utama Hizbullah, setelah Israel mengeluarkan peringatan evakuasi kepada warga . Serangan di Lebanon dalam empat hari terakhir telah menewaskan lebih dari 70 orang dan melukai 430 lainnya, termasuk anak-anak .
Dampak konflik juga meluas ke jalur penerbangan internasional. Qatar Airways mengumumkan akan mengoperasikan "penerbangan darurat" terbatas dari Muskat, Oman, ke sejumlah kota Eropa untuk membantu warga asing yang terlantar akibat penutupan wilayah udara di sejumlah negara Teluk. Sementara itu, ribuan penumpang di Bali terpaksa mendapatkan perpanjangan izin tinggal darurat setelah penerbangan mereka ke Doha, Dubai, dan Abu Dhabi dibatalkan .
Di tengah eskalasi ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kembali mengeluarkan peringatan keras. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat akan "sangat menyesali preseden yang telah mereka tetapkan," merujuk pada tenggelamnya kapal fregat Iran IRIS Dena oleh torpedo kapal selam AS di lepas pantai Sri Lanka sehari sebelumnya yang menewaskan puluhan awak kapal .