FolksInsight.com - China dilaporkan mulai memberikan dukungan kepada Iran di tengah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, termasuk bantuan finansial, suku cadang pengganti, serta komponen terkait rudal. Menurut laporan yang mengutip tiga sumber yang mengetahui informasi tersebut, Beijing selama ini menghindari keterlibatan langsung dalam perang tersebut, tetapi pejabat AS sedang memantau kemungkinan perubahan sikap China.
China merupakan pembeli utama minyak mentah dari Iran dan secara terpisah telah mendesak Teheran untuk menjamin keamanan navigasi melalui Selat Hormuz bagi kapal-kapal komersial. Seorang sumber intelijen menyatakan bahwa China sangat berhati-hati dalam memberikan dukungan karena konflik ini berpotensi mengancam ketahanan pasokan energi mereka.
Sementara itu, Rusia diduga telah membagikan citra satelit serta intelijen penargetan lainnya kepada Iran, termasuk data mengenai posisi dan pergerakan pasukan AS di kawasan tersebut. Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat drastis sejak serangan besar-besaran AS dan Israel terhadap Iran pada Sabtu lalu, yang menewaskan lebih dari 1.000 orang. Korban termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, lebih dari 150 siswi, serta sejumlah pejabat militer senior Iran.
Iran membalas dengan meluncurkan ribuan drone serang dan ratusan rudal yang menyasar fasilitas militer AS, kedutaan besar, serta sasaran sipil di berbagai wilayah. Serangan tersebut juga menargetkan pangkalan AS, fasilitas diplomatik, dan personel militer di seluruh kawasan, termasuk beberapa kota di Israel.
Pekan lalu, enam tentara AS tewas dan beberapa lainnya terluka dalam serangan drone Iran di Kuwait. Iran telah melakukan serangan berulang terhadap target-target tersebut, sementara balasan dari AS dan Israel telah menghantam lebih dari 2.000 lokasi di wilayah Iran.
Konflik ini menandai eskalasi signifikan di kawasan Timur Tengah, dengan keterlibatan pihak-pihak eksternal seperti China dan Rusia yang dipantau ketat oleh berbagai negara. China menekankan pentingnya menjaga stabilitas energi global, sementara Rusia memberikan bentuk dukungan intelijen yang dapat memengaruhi dinamika pertempuran.
Situasi saat ini menunjukkan bahwa meskipun China dan Rusia memberikan bentuk bantuan tertentu, keduanya masih menjaga jarak dari keterlibatan militer langsung. Pemantauan dari AS terus berlangsung untuk mendeteksi setiap perubahan sikap yang lebih signifikan dari Beijing dan Moskow di tengah perang yang sedang berlangsung.



