BREAKING Selamat datang di FolksInsight.com I Informasi Berbasis Data, Perspektif Berbasis Fakta.
MARKET LIVE
Columbus | Sedikit berawan | 7°C

Bukan Cuma di Timur Tengah, Warga AS Juga Geram Negaranya Bombardir Iran

Bukan Cuma di Timur Tengah, Warga AS Juga Geram Negaranya Bombardir Iran
Aksi protes di New York merupakan bagian dari gelombang demonstrasi nasional yang melanda sekitar 50 kota di seluruh Amerika Serikat. Menurut koalisi pengunjuk rasa ANSWER Coalition, protes serupa juga berlangsung di Washington DC, Los Angeles, Chicago, San Francisco, San Jose, Atlanta, Boston, dan berbagai kota lainnya .
FolksInsight.com - Gelombang protes menolak operasi militer Amerika Serikat di Iran tidak hanya bergema di kawasan Timur Tengah, tetapi juga meletus di dalam negeri Paman Sam sendiri. Ribuan warga New York turun ke jalan untuk mengecam serangan udara gabungan AS dan Israel yang telah memicu perang terbuka di kawasan Timur Tengah .

Aksi unjuk rasa di New York berlangsung di sejumlah titik ikonik, termasuk Times Square dan Columbus Circle di Manhattan. Massa membawa spanduk bertuliskan "Hentikan Perang di Iran", "Tidak Ada Perang Penggantian Rezim", dan "Trump Harus Mundur Sekarang" . Slogan-slogan seperti "Jangan campuri urusan Timur Tengah" dan "Hidup pembebasan, hapuskan penjajahan" menggema sepanjang aksi, mencerminkan kemarahan publik terhadap apa yang mereka sebut sebagai intervensi imperialis .
Ads

Para pengunjuk rasa mengecam serangan tersebut sebagai agresi ilegal yang melanggar hukum internasional. Mereka menuntut pemerintah AS segera menghentikan keterlibatan militer di kawasan itu dan mengalihkan anggaran perang untuk kebutuhan domestik, seperti pendidikan, perumahan, dan layanan publik .

Aksi protes di New York merupakan bagian dari gelombang demonstrasi nasional yang melanda sekitar 50 kota di seluruh Amerika Serikat. Menurut koalisi pengunjuk rasa ANSWER Coalition, protes serupa juga berlangsung di Washington DC, Los Angeles, Chicago, San Francisco, San Jose, Atlanta, Boston, dan berbagai kota lainnya .

Di Washington DC, massa berkumpul di luar Gedung Putih pada Senin (2/3/2026) malam untuk memprotes serangan terhadap Iran. Para demonstran menyebut langkah Presiden Donald Trump sebagai pelanggaran konstitusi karena melancarkan serangan tanpa persetujuan Kongres, serta berpotensi menyeret AS ke perang panjang di Timur Tengah .

Yehuda Littmann, seorang pengunjuk rasa asal New York yang mengaku beragama Yahudi, menyatakan rasa malunya atas tindakan militer tersebut. "Kami muak dan lelah dengan pertumpahan darah akibat perang tanpa henti. Ini salah, ini tidak bermoral, dan ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan," ujarnya kepada Xinhua .
Ads

Lembaga hak sipil seperti American Civil Liberties Union bersama sejumlah anggota parlemen juga mendesak Kongres segera bertindak menghentikan penggunaan kekuatan militer yang dinilai inkonstitusional. Mereka menekankan bahwa Konstitusi AS mengharuskan persetujuan legislatif atas penggunaan kekuatan militer .

Sementara itu di Belfast, Irlandia Utara, situasi berbeda terjadi. Aksi unjuk rasa menolak serangan militer Amerika Serikat dan Israel justru mendapat perlawanan dari komunitas warga Iran setempat. Pada Minggu (1/3/2026), sekelompok warga Iran berkumpul di Belfast City Hall untuk merayakan kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dengan meneriakkan "Terima kasih Mr Trump dan Netanyahu" .
Ads

Namun sehari setelahnya, pada Senin (2/3/2026), gelombang protes berbeda muncul. Akademisi asal Iran yang kini mengajar di Queen's University Belfast, Azadeh Sobout, bersama politisi People Before Profit Gerry Carroll menggelar aksi "Stop Bombing Iran" di lokasi yang sama .

Azadeh Sobout membawa spanduk bertuliskan "Begin your regime change at home" dan menyampaikan orasi menyentuh. "Dalam 24 jam, lebih dari 1.200 bom dijatuhkan di Iran, menewaskan lebih dari 550 orang dan melukai ratusan lainnya. Tehran, kota asalku, telah dibom lebih dari 400 kali hari ini. Rumah sakit terkena, sekolah terkena, keluarga menguburkan jenazah mereka," ujarnya dengan suara bergetar .

Ia juga menegaskan bahwa rakyat Iran tidak ingin kebebasan datang melalui bom Amerika. "Kami terus-menerus diberitahu harus memilih antara diktator dan kampanye pengeboman. Ini adalah paksaan yang menghapus hak politik kami" .

Dua kubu yang berseberangan ini sempat terlibat aksi saling berhadapan di depan Belfast City Hall. Kelompok pro-Trump meneriakkan "Presiden Trump kami mencintaimu" sementara kelompok anti-perang membalas dengan teriakan "Malu padamu" . Aparat kepolisian terlihat berjaga dengan kehadiran minimal untuk mengamankan kedua kelompok .

Para pengunjuk rasa anti-perang di Belfast juga mengecam peran pemerintah Inggris, Prancis, dan Jerman yang dinilai justru menyiram bensin ke api dengan tidak mengkritik Trump dan Netanyahu .

Hingga berita ini diturunkan, aksi-aksi protes diperkirakan masih akan terus berlanjut. Para penyelenggara di AS telah menjadwalkan putaran protes nasional berikutnya pada 8 Maret 2026 . Di tengah meningkatnya ketegangan, aparat keamanan AS juga meningkatkan status siaga nasional . Namun bagi para demonstran, aksi ini menjadi simbol perlawanan terhadap perang dan pesan kuat bahwa rakyat Amerika tidak menginginkan konflik baru .

FolksVoice

Lihat Semua
Sony Novian

Sony Novian

Co-Founder of Katagonia Language Solutions

Eksklusif 06 Mar 2026

Di Balik Mikrofon: Hal-Hal yang Tidak Pernah Didengar Publik dari Seorang Interpreter

Tapi tahukah Anda? Semua itu terbayar lunas ketika dua pihak yang berbeda bahasa bisa berjabat tangan dengan hangat, ketika kontrak senilai miliaran rupiah ditandatangani, atau ketika misi kemanusiaan berhasil dijalankan. Di balik mikrofon, saya tidak mencari tepuk tangan. Saya hanya ingin dunia ini sedikit lebih terhubung.

Sony Novian

Sony Novian

Co-Founder of Katagonia Language Solutions

Eksklusif 06 Mar 2026

Ketika Bahasa Menjadi Jembatan, Bukan Sekadar Kata

Dalam banyak pertemuan internasional yang saya hadiri, saya sering menyaksikan bagaimana satu kata yang diterjemahkan dengan nuansa yang sedikit berbeda dapat mengubah suasana sebuah diskusi. Bahasa tidak hanya membawa makna, tetapi juga emosi, konteks, dan kadang juga strategi.

Berita Terkait

Komentar 0 Komentar

Tulis Komentar

Anda harus login untuk berkomentar.

Login / Daftar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!