DUNIA
Internasional
Bukan Cuma di Timur Tengah, Warga AS Juga Geram Negaranya Bombardir Iran
Tim Redaksi
04 Mar 2026 04:43
3,905 kali
Ilustrasi
Aksi protes di New York merupakan bagian dari gelombang demonstrasi nasional yang melanda sekitar 50 kota di seluruh Amerika Serikat. Menurut koalisi pengunjuk rasa ANSWER Coalition, protes serupa juga berlangsung di Washington DC, Los Angeles, Chicago, San Francisco, San Jose, Atlanta, Boston, dan berbagai kota lainnya .
FolksInsight.com - Gelombang protes menolak operasi militer Amerika Serikat di Iran tidak hanya bergema di kawasan Timur Tengah, tetapi juga meletus di dalam negeri Paman Sam sendiri. Ribuan warga New York turun ke jalan untuk mengecam serangan udara gabungan AS dan Israel yang telah memicu perang terbuka di kawasan Timur Tengah .
Aksi unjuk rasa di New York berlangsung di sejumlah titik ikonik, termasuk Times Square dan Columbus Circle di Manhattan. Massa membawa spanduk bertuliskan "Hentikan Perang di Iran", "Tidak Ada Perang Penggantian Rezim", dan "Trump Harus Mundur Sekarang" . Slogan-slogan seperti "Jangan campuri urusan Timur Tengah" dan "Hidup pembebasan, hapuskan penjajahan" menggema sepanjang aksi, mencerminkan kemarahan publik terhadap apa yang mereka sebut sebagai intervensi imperialis .
Para pengunjuk rasa mengecam serangan tersebut sebagai agresi ilegal yang melanggar hukum internasional. Mereka menuntut pemerintah AS segera menghentikan keterlibatan militer di kawasan itu dan mengalihkan anggaran perang untuk kebutuhan domestik, seperti pendidikan, perumahan, dan layanan publik .
Aksi protes di New York merupakan bagian dari gelombang demonstrasi nasional yang melanda sekitar 50 kota di seluruh Amerika Serikat. Menurut koalisi pengunjuk rasa ANSWER Coalition, protes serupa juga berlangsung di Washington DC, Los Angeles, Chicago, San Francisco, San Jose, Atlanta, Boston, dan berbagai kota lainnya .
Di Washington DC, massa berkumpul di luar Gedung Putih pada Senin (2/3/2026) malam untuk memprotes serangan terhadap Iran. Para demonstran menyebut langkah Presiden Donald Trump sebagai pelanggaran konstitusi karena melancarkan serangan tanpa persetujuan Kongres, serta berpotensi menyeret AS ke perang panjang di Timur Tengah .
Yehuda Littmann, seorang pengunjuk rasa asal New York yang mengaku beragama Yahudi, menyatakan rasa malunya atas tindakan militer tersebut. "Kami muak dan lelah dengan pertumpahan darah akibat perang tanpa henti. Ini salah, ini tidak bermoral, dan ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan," ujarnya kepada Xinhua .
Lembaga hak sipil seperti American Civil Liberties Union bersama sejumlah anggota parlemen juga mendesak Kongres segera bertindak menghentikan penggunaan kekuatan militer yang dinilai inkonstitusional. Mereka menekankan bahwa Konstitusi AS mengharuskan persetujuan legislatif atas penggunaan kekuatan militer .
Sementara itu di Belfast, Irlandia Utara, situasi berbeda terjadi. Aksi unjuk rasa menolak serangan militer Amerika Serikat dan Israel justru mendapat perlawanan dari komunitas warga Iran setempat. Pada Minggu (1/3/2026), sekelompok warga Iran berkumpul di Belfast City Hall untuk merayakan kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dengan meneriakkan "Terima kasih Mr Trump dan Netanyahu" .
Namun sehari setelahnya, pada Senin (2/3/2026), gelombang protes berbeda muncul. Akademisi asal Iran yang kini mengajar di Queen's University Belfast, Azadeh Sobout, bersama politisi People Before Profit Gerry Carroll menggelar aksi "Stop Bombing Iran" di lokasi yang sama .
Azadeh Sobout membawa spanduk bertuliskan "Begin your regime change at home" dan menyampaikan orasi menyentuh. "Dalam 24 jam, lebih dari 1.200 bom dijatuhkan di Iran, menewaskan lebih dari 550 orang dan melukai ratusan lainnya. Tehran, kota asalku, telah dibom lebih dari 400 kali hari ini. Rumah sakit terkena, sekolah terkena, keluarga menguburkan jenazah mereka," ujarnya dengan suara bergetar .
Ia juga menegaskan bahwa rakyat Iran tidak ingin kebebasan datang melalui bom Amerika. "Kami terus-menerus diberitahu harus memilih antara diktator dan kampanye pengeboman. Ini adalah paksaan yang menghapus hak politik kami" .
Dua kubu yang berseberangan ini sempat terlibat aksi saling berhadapan di depan Belfast City Hall. Kelompok pro-Trump meneriakkan "Presiden Trump kami mencintaimu" sementara kelompok anti-perang membalas dengan teriakan "Malu padamu" . Aparat kepolisian terlihat berjaga dengan kehadiran minimal untuk mengamankan kedua kelompok .
Para pengunjuk rasa anti-perang di Belfast juga mengecam peran pemerintah Inggris, Prancis, dan Jerman yang dinilai justru menyiram bensin ke api dengan tidak mengkritik Trump dan Netanyahu .
Hingga berita ini diturunkan, aksi-aksi protes diperkirakan masih akan terus berlanjut. Para penyelenggara di AS telah menjadwalkan putaran protes nasional berikutnya pada 8 Maret 2026 . Di tengah meningkatnya ketegangan, aparat keamanan AS juga meningkatkan status siaga nasional . Namun bagi para demonstran, aksi ini menjadi simbol perlawanan terhadap perang dan pesan kuat bahwa rakyat Amerika tidak menginginkan konflik baru .