FolksInsight.com - Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menyatakan bahwa Amerika Serikat beserta sekutunya telah gagal dalam upaya mereka untuk memecah belah negara Iran. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah wawancara yang dikutip oleh Tasnim News pada Sabtu (7 Maret 2026), di mana Larijani menekankan kegagalan rencana tersebut berkat solidaritas rakyat Iran dan pengelolaan negara selama masa konflik.
Menurut Larijani, tujuan pokok dari AS dan para sekutunya adalah disintegrasi Iran, bukan sekadar perubahan kecil di dalam negeri. Ia menjelaskan bahwa dari perspektif Israel terhadap Iran sebagai negara besar, modifikasi kecil tidak akan berdampak signifikan. Oleh karena itu, target utama mereka adalah pemecahan wilayah dan struktur negara Iran, karena kekhawatiran mendasar mereka tertuju pada keberadaan Iran itu sendiri.
Dalam wawancaranya, Larijani merujuk pada pernyataan terbuka dari Presiden AS Donald Trump, sekutu-sekutunya, serta pihak Zionis (Israel) dan beberapa aktor regional dalam pidato-pidato baru-baru ini. Ia menyebut bahwa dalam beberapa hari terakhir, mereka secara gamblang mengungkapkan niat utama untuk memecah belah Iran. Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal konflik, agenda mereka difokuskan pada penciptaan kondisi yang memungkinkan terjadinya disintegrasi di Iran.
Larijani juga menyoroti unggahan Trump di media sosial yang mengklaim bahwa Iran sedang mengalami perpecahan internal. Menurutnya, klaim tersebut justru membuktikan bahwa tujuan awal dari perang dan berbagai tekanan yang diterapkan adalah untuk mendorong kondisi disintegrasi. Namun, upaya ini tidak berhasil karena adanya kesatuan yang kuat di kalangan masyarakat Iran.
Solidaritas rakyat menjadi kunci utama dalam menggagalkan rencana tersebut, kata Larijani. Ia menambahkan bahwa selama masa perang, pengelolaan negara yang efektif telah memperkuat posisi Iran melawan berbagai upaya eksternal. Pernyataan ini mencerminkan keyakinan pemerintah Iran bahwa tekanan dari luar tidak akan mampu merusak integritas nasional mereka.
Lebih lanjut, Larijani menegaskan bahwa kekhawatiran utama musuh-musuh Iran adalah eksistensi negara itu sendiri, bukan isu-isu periferal. Dari sudut pandang Israel dan sekutu regional lainnya, Iran dipandang sebagai ancaman besar yang harus diatasi melalui strategi pemecahan belah. Namun, kegagalan ini menunjukkan ketidakakuratan perhitungan mereka terhadap kekuatan internal Iran.
Pernyataan Larijani ini muncul di tengah ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung antara Iran dengan AS dan sekutunya. Wawancara yang diterbitkan oleh Tasnim News memberikan gambaran jelas tentang perspektif Teheran terhadap agenda luar negeri yang dianggap sebagai upaya destabilisasi.
Dalam konteks yang lebih luas, pernyataan tersebut juga menyoroti dinamika konflik regional di mana Iran sering menjadi target berbagai sanksi dan tekanan internasional. Larijani menggarisbawahi bahwa pidato-pidato terbaru dari Trump dan pihak terkait semakin memperjelas niat mereka, yang pada akhirnya gagal terealisasi.
Akhirnya, kegagalan rencana memecah belah Iran ini, menurut Larijani, menjadi bukti ketahanan nasional. Solidaritas masyarakat dan strategi pengelolaan selama masa sulit telah membuktikan bahwa upaya eksternal seperti itu tidak akan berhasil. Pernyataan ini kemungkinan akan menjadi bagian dari narasi resmi Iran dalam menghadapi tantangan geopolitik mendatang.



