OLAHRAGA
Sepak Bola
PSSI Murka! Suporter Rusuh di Jepara Dinilai Lupa Tragedi Kanjuruhan, Larangan Away Masih Berlaku
Tim Redaksi
06 Mar 2026 23:24
1,414 kali
Gambar Ilustrasi
"Ini suporternya lupa sama "Tragedi" Kanjuruhan dan lain-lain. Jadi, mereka lupa sepertinya. Itu yang membuat kami sedih juga," kata Arya dengan nada prihatin.
FolksInsight.com - Kericuhan yang melibatkan oknum suporter Persijap Jepara dan Persis Solo pada Kamis, 5 Maret 2026, mendapat respons keras dari PSSI. Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, menyayangkan insiden tersebut dan menilai para suporter seolah melupakan Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan lebih dari 130 orang pada 2022 lalu.
Arya mengungkapkan kekecewaannya saat ditemui awak media di Lapangan C Senayan, Jakarta, pada Jumat, 6 Maret 2026. Menurutnya, aksi anarkis yang terjadi di Jepara menunjukkan bahwa sebagian suporter masih belum belajar dari peristiwa kelam sepak bola Indonesia.
"Ini suporternya lupa sama [Tragedi] Kanjuruhan dan lain-lain. Jadi, mereka lupa sepertinya. Itu yang membuat kami sedih juga," kata Arya dengan nada prihatin.
Ia menegaskan bahwa PSSI sebenarnya sudah mengeluarkan larangan bagi suporter untuk melakukan perjalanan tandang (away) guna mencegah terjadinya bentrok antarkelompok. Namun, aturan tersebut masih saja dilanggar.
"Sebenarnya kami sudah bilang tidak boleh away [tandang], tapi tetap saja dilanggar. Kemarin juga ada itu satu pertandingan away, itu bagus antarsuporter," ujarnya.
Sebelumnya, hubungan antarsuporter sempat menunjukkan tren positif, sehingga muncul desakan agar PSSI membuka kembali izin suporter tandang. Namun, insiden di Jepara justru menjadi bukti bahwa potensi kerusuhan masih mengintai.
"Kami berharap teman-teman suporter bisa ingat janji kita ketika masuk stadion itu bajunya putih, keluar juga bajunya putih, jangan ada warna lain yang membuat kita celaka," pesan Arya.
Ia juga mempertanyakan esensi dari aksi kekerasan yang terjadi. "Buat apa kita harus ada korban-korban lagi, emosi yang ada di situ terus, buat apa. Itu jadi pertanyaan kita juga. Maka dari itu, sampai sekarang kami tetap membuat larangan away," tegasnya.
Akhir Musim yang Rawan
Arya mengakui bahwa situasi kompetisi pada akhir musim ini cukup rawan. Tidak hanya di kasta tertinggi Liga 1, tetapi juga di kasta kedua Liga 2 (Championship). Persaingan ketat di papan atas untuk memperebutkan gelar juara, serta perjuangan sengit di papan bawah untuk menghindari degradasi, berpotensi memicu friksi antarsuporter.
" Sekarang kami sedang diskusi. Kenapa diskusi? Di PSSI kami sedang diskusi, karena sekarang lagi menuju kondisi-kondisi yang rawan, kan ini menuju akhir [musim]," ucap Arya.
PSSI kini tengah berdiskusi untuk mencari langkah terbaik dalam menjaga kondusivitas pertandingan di sisa musim. Salah satu opsi yang terus dipertahankan adalah larangan suporter tandang, meskipun langkah ini kerap menuai protes dari pecinta sepak bola tanah air.
Dengan masih segarnya ingatan akan Tragedi Kanjuruhan, PSSI berharap semua pihak, terutama suporter, dapat lebih dewasa dalam menyikapi rivalitas. Keselamatan dan keamanan harus menjadi prioritas utama di atas segalanya.