OLAHRAGA
Sepak Bola
Delapan Kali Luka karena Ulah Sendiri, Pelatih Persija Bongkar Biang Kerok Pemain Macan Kemayoran Gampang Meledak
Tim Redaksi
07 Apr 2026 23:21
4,031 kali
Gambar Ilustrasi
Contoh teranyar terjadi pada akhir pekan lalu. Dalam pertandingan tandang melawan Bhayangkara FC di Lampung, Sabtu (5/4), Persija harus pulang dengan tangan hampa setelah takluk dengan skor 2-3. Kekalahan tersebut terasa sangat menyakitkan karena Macan Kemayoran sejatinya sempat unggul terlebih dahulu sebelum akhirnya harus bermain dengan sepuluh pemain akibat kartu merah. Situasi serupa tampaknya menjadi pola yang berulang, di mana keunggulan jumlah pemain lawan sukses memanfaatkan kelengahan emosional skuad ibu kota.
FolksInsight.com - Ambisi Persija Jakarta untuk bersaing di papan atas klasemen Super League 2025/2026 kembali ternodai oleh problem klasik yang tak kunjung usai: ketidakdisiplinan pemain. Hingga pekan ke-26, tim berjuluk Macan Kemayoran tersebut telah mengoleksi delapan kartu merah, sebuah catatan yang menempatkan mereka sebagai salah satu klub paling beringas di kompetisi kasta tertinggi tanah air musim ini.
Berdasarkan data statistik liga, jumlah kartu merah yang dikantongi Persija hanya kalah dari Arema FC yang mencatatkan sembilan kartu merah. Persija harus berbagi posisi kedua sebagai tim dengan jumlah pengusiran pemain terbanyak bersama Persijap Jepara yang juga mengemas delapan kartu merah. Ironisnya, catatan minor ini berdampak langsung pada perolehan poin tim ibu kota. Dari delapan laga di mana mereka harus bermain dengan jumlah pemain yang tidak lengkap, Persija harus menelan tiga kekalahan, satu hasil imbang, dan hanya mampu meraih tiga kemenangan. Rasio kekalahan yang cukup tinggi ini menjadi sinyal bahaya bagi tim yang mengincar trofi juara.

Contoh teranyar terjadi pada akhir pekan lalu. Dalam pertandingan tandang melawan Bhayangkara FC di Lampung, Sabtu (5/4), Persija harus pulang dengan tangan hampa setelah takluk dengan skor 2-3. Kekalahan tersebut terasa sangat menyakitkan karena Macan Kemayoran sejatinya sempat unggul terlebih dahulu sebelum akhirnya harus bermain dengan sepuluh pemain akibat kartu merah. Situasi serupa tampaknya menjadi pola yang berulang, di mana keunggulan jumlah pemain lawan sukses memanfaatkan kelengahan emosional skuad ibu kota.
Pelatih Persija, Mauricio Souza, tidak bisa menyembunyikan rasa frustasinya terhadap masalah ini. Juru taktik asal Brasil tersebut menegaskan bahwa bermain dengan jumlah pemain yang pincang jelas sangat merugikan strategi dan peluang tim untuk memenangkan pertandingan. "Kami sudah beberapa pertandingan tanpa satu pemain, pasti tidak dapat keuntungan dalam laga. Jadi kami mau masuk dengan 11 pemain, dan menyelesaikan laga dengan 11 pemain," ujar Souza dengan nada tegas. Ia bahkan meyakini bahwa hasil pertandingan bisa berubah secara signifikan jika timnya tetap utuh di atas lapangan. "Saya tidak ragu, kalau kami punya 11 pemain, hasilnya pasti bisa berbeda," tambahnya.
Lantas, apa yang membuat para pemain Persija begitu rentan terhadap provokasi? Nama-nama seperti Jordi Amat dan Allano menjadi sorotan karena dianggap terlalu mudah terpancing oleh gaya bermain lawan yang cenderung mengulur waktu atau melakukan kontak fisik kecil. Lawan tampaknya sudah membaca kelemahan psikologis ini dan menjadikannya sebagai senjata ampuh untuk memancing kartu dari para pilar Persija. Souza mengakui bahwa ada banyak faktor teknis dan non-teknis di lapangan yang memicu emosi, namun ia menegaskan bahwa situasi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.
Lebih dalam dari sekadar provokasi lapangan, kondisi mental pemain Persija saat ini diyakini tengah berada di bawah tekanan yang luar biasa besar. Peluang untuk meraih gelar juara yang kian menipis ditambah dengan derasnya kritik serta tekanan dari basis suporter fanatik, The Jakmania, menciptakan lingkungan psikologis yang tidak sehat. Beban untuk segera bangkit justru berpotensi melahirkan frustrasi yang berujung pada tindakan indispliner di lapangan.

Dengan masih menyisakan delapan pertandingan penting musim ini, termasuk laga berat melawan Persebaya, pertanyaan besarnya adalah akankah Persija kembali menjadi bulan-bulanan emosi mereka sendiri? Jika Macan Kemayoran masih ingin menyelamatkan sisa musim dan menjaga marwah sebagai tim besar, tampaknya manajemen dan tim pelatih perlu segera memberikan intervensi psikologis yang lebih intensif. Tanpa terapi emosi dan pengendalian diri yang lebih baik, kartu merah bukan hanya mengusir satu pemain, tetapi juga mengusir mimpi juara dari pelukan tim ibu kota.