OLAHRAGA
Sepak Bola
Wasit Dipukul, Jurnalis Diintimidasi! PSSI Murka atas Ricuh Malut United vs PSM
Tim Redaksi
09 Mar 2026 08:08
568 kali
Gambar Ilustrasi
"PSSI sangat menyayangkan kejadian tersebut, dan tentu ini menjadi catatan penting bagi kami. Kami sangat tidak menginginkan hal-hal seperti ini terjadi, apalagi di I League [Super League]. Klub-klub strata pertama yang sebenarnya hal-hal seperti ini tidak bisa lagi terjadi," ujar Yunus.
FolksInsight.com - Liga Super Indonesia kembali tercoreng oleh insiden kekerasan dan intimidasi. Pertandingan antara Malut United melawan PSM Makassar di Stadion Kie Raha, Ternate, pada Sabtu, 7 Maret 2026, yang berakhir dengan skor dramatis 3-3, harus diakhiri dengan aksi tidak terpuji dari oknum suporter dan ofisial tuan rumah.
Pasca peluit panjang dibunyikan, wasit Thoriq Alkatiri menjadi sasaran kemarahan dan dilaporkan mendapat pukulan dari oknum suporter. Tak berhenti di situ, seorang ofisial Malut United juga diduga melakukan intimidasi terhadap jurnalis yang meliput pertandingan. Ofisial tersebut memaksa wartawan untuk menghapus video terkait insiden perlakuan terhadap wasit.
PSSI pun angkat bicara dan menyatakan kekecewaan mendalam atas insiden yang mencoreng wajah sepak bola nasional ini.
PSSI: Sangat Menyayangkan
Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, melalui rekaman suara yang diterima media, menegaskan bahwa pihaknya sangat menyayangkan kejadian tersebut. Ia menilai tindakan kekerasan dan intimidasi seharusnya tidak lagi terjadi, apalagi di kasta tertinggi kompetisi sepak bola Indonesia.
"PSSI sangat menyayangkan kejadian tersebut, dan tentu ini menjadi catatan penting bagi kami. Kami sangat tidak menginginkan hal-hal seperti ini terjadi, apalagi di I League [Super League]. Klub-klub strata pertama yang sebenarnya hal-hal seperti ini tidak bisa lagi terjadi," ujar Yunus.
Ia menekankan bahwa segala bentuk tindak kekerasan, baik terhadap wasit maupun media, tidak dapat ditoleransi. "Penting bagi kami, baik itu pemukulan terhadap wasit, pada media dan lain-lain. Kami berharap ini menjadi yang terakhir dan mohonlah kawan-kawan klub, apalagi di sana ada official yang ditengarai. Kita berharap apa pun yang terjadi, apalagi tidak ada kesalahan fatal yang dilakukan," tegasnya.
Bola di Tangan Komdis
Yunus menambahkan bahwa persoalan ini kini telah diserahkan sepenuhnya kepada Komite Disiplin (Komdis) PSSI untuk ditindaklanjuti. Komdis akan menyelidiki insiden dan memutuskan sanksi yang sesuai bagi pihak-pihak yang terbukti bersalah.
"Mengapa hal-hal ini dilakukan dan terulang-ulang. Tentu ini juga menjadi bahan dari komite disiplin untuk mengambil sebuah keputusan. Dan PSSI menyerahkan semuanya. Menyerahkan semuanya kepada komdis [Komite Disiplin], apapun keputusannya, semua pihak harus menerimanya," ucap Yunus menegaskan.
Seruan untuk Klub dan Suporter
PSSI berharap seluruh klub Super League dapat mengambil pelajaran dari insiden ini. Manajemen klub diminta lebih tegas dalam memberikan arahan kepada pelatih, ofisial, pemain, dan terutama suporter untuk selalu bersikap bijak dan tidak bertindak di luar batas.
"Sekali lagi kami berharap, hal-hal seperti ini jangan lagi terjadi karena ini juga tidak baik bagi atmosfer sepak bola Indonesia, kompetisi I-League kita dan kita jaga bersama-sama," pungkas Yunus.
Insiden di Ternate ini menjadi alarm keras bagi sepak bola Indonesia. Meski kompetisi berjalan sengit, sportivitas dan keamanan harus tetap menjadi prioritas utama. Kekerasan dan intimidasi hanya akan merusak citra dan kemajuan sepak bola Tanah Air.