FolksInsight.com - China diperkirakan akan menolak keras ancaman sanksi sekunder dari Amerika Serikat (AS) yang menyasar negara-negara yang masih menjalin hubungan dagang dengan Iran. Juru bicara Kedutaan Besar China di AS menyebut kebijakan tarif 25% yang digagas Presiden Donald Trump sebagai sanksi sepihak yang ilegal. China merupakan importir minyak terbesar dunia dan selama ini menjadi pembeli utama minyak mentah Iran, bahkan menyerap sekitar 80% ekspor minyak negara tersebut.
Langkah Trump ini berpotensi mengguncang hubungan dagang AS-China yang baru mulai membaik. China diprediksi akan membalas dengan sanksi terhadap perusahaan AS yang menjual senjata ke Taiwan atau melakukan investigasi antimonopoli terhadap raksasa teknologi Amerika. Kebijakan ini juga mengancam kesepakatan dagang yang akan dibahas dalam kunjungan kenegaraan Trump ke Beijing pada April mendatang. Nasib kebijakan tarif ini kini bergantung pada keputusan Mahkamah Agung AS yang dijadwalkan keluar besok, Rabu (14/1/2026).
Di tengah ketegangan itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, Airlangga Hartarto, menyatakan kebijakan tarif Trump tidak akan berdampak signifikan terhadap Indonesia. Pasalnya, nilai transaksi perdagangan antara Indonesia dan Iran tidak besar. Pemerintah Indonesia justru tengah fokus memperkuat kerja sama dagang dengan Uni Eropa, Amerika Latin, dan Asia Timur untuk membuka akses pasar baru.
Ketegangan antara AS, China, dan Iran ini merupakan jaring konflik geopolitik yang rumit. Bagi China, Iran adalah mitra strategis dalam inisiatif Belt and Road dan pemasok energi yang tak terpengaruh kontrol Barat. Sementara itu, Trump terus meningkatkan tekanan terhadap Iran, termasuk dengan ancaman penggunaan kekuatan militer, di tengah gelombang protes terbesar yang melanda Iran dalam beberapa dekade terakhir.
Sumber: CNN Indonesia
Link Berita: CNN Indonesia



