BREAKING Selamat datang di FolksInsight.com I Informasi Berbasis Data, Perspektif Berbasis Fakta.
MARKET LIVE
Columbus | Sedikit berawan | 5°C

Bukan Sekadar Pulang Kampung! Ternyata Begini Sejarah Panjang Tradisi Mudik Lebaran di Indonesia

Bukan Sekadar Pulang Kampung! Ternyata Begini Sejarah Panjang Tradisi Mudik Lebaran di Indonesia
Ada pula pandangan dari sejarawan Betawi, Ridwan Saidi, yang mengartikan mudik sebagai "menuju udik" atau menuju kampung. Hal ini berkaitan dengan kebiasaan orang Betawi zaman dulu yang membuka usaha di pesisir utara, sementara rumah mereka berada di pesisir selatan yang lebih sepi .
FolksInsight.com - Mudik telah menjadi tradisi yang tak terpisahkan dari perayaan Hari Raya Idul Fitri bagi masyarakat Indonesia. Setiap tahunnya, jutaan orang berbondong-bondong melakukan perjalanan jauh menuju kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga besar. Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya dari mana sebenarnya asal-usul tradisi tahunan ini? Ternyata, sejarah mudik memiliki akar yang panjang, jauh sebelum istilah ini populer seperti sekarang.

Secara bahasa, kata "mudik" memiliki beberapa versi asal-usul. Dalam bahasa Jawa, mudik merupakan singkatan dari "mulih dilik" yang berarti pulang sebentar . Sementara itu, antropolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Heddy Shri Ahimsa Putra, menjelaskan bahwa mudik berasal dari bahasa Melayu "udik" yang artinya hulu atau ujung . Pada masa lampau, masyarakat Melayu yang tinggal di hulu sungai sering bepergian ke hilir menggunakan perahu. Setelah urusan mereka selesai, mereka kembali pulang ke hulu pada sore hari. Kebiasaan inilah yang kemudian disebut sebagai mudik .
Ads

Ada pula pandangan dari sejarawan Betawi, Ridwan Saidi, yang mengartikan mudik sebagai "menuju udik" atau menuju kampung. Hal ini berkaitan dengan kebiasaan orang Betawi zaman dulu yang membuka usaha di pesisir utara, sementara rumah mereka berada di pesisir selatan yang lebih sepi .

Menariknya, tradisi pulang kampung ini ternyata sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit, meskipun dengan tujuan yang berbeda. Pada masa itu, para pejabat kerajaan yang ditempatkan di berbagai wilayah kekuasaan akan kembali ke pusat kerajaan untuk menghadap raja dan mengunjungi kampung halaman . Sementara itu, para petani Jawa yang merantau juga memiliki kebiasaan pulang untuk membersihkan makam leluhur dan berdoa memohon keselamatan dalam mencari rezeki . Tradisi serupa juga dilakukan oleh Kerajaan Mataram Islam, di mana para pejabat pulang secara khusus ketika Idulfitri tiba .

Istilah mudik baru mulai dikenal luas dan dikaitkan dengan Lebaran pada era 1970-an . Pada masa Orde Baru, pembangunan terpusat di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan. Hal ini memicu arus urbanisasi besar-besaran, di mana banyak orang dari desa berbondong-bondong ke kota untuk mengadu nasib dan mencari pekerjaan . Mereka yang bekerja dan hidup di kota lama terpisah dari keluarga dan kerabat di kampung. Kerinduan pun muncul, dan mereka menunggu momen libur panjang untuk bisa berkumpul kembali. Karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, maka Hari Raya Idul Fitri menjadi pilihan utama untuk pulang kampung .

Seiring waktu, tujuan mudik pun berkembang. Selain untuk bersilaturahmi dengan orang tua dan sanak saudara, mudik juga menjadi ajang untuk saling memaafkan setelah sebulan berpuasa, berbagi rezeki melalui tradisi THR, bahkan bagi sebagian orang, menjadi kesempatan untuk menunjukkan keberhasilan di tanah perantauan .
Ads

Dari tradisi berjalan kaki di zaman Majapahit, kini mudik dilakukan dengan berbagai moda transportasi modern, dari kereta api, bus, kapal, hingga pesawat terbang. Namun esensinya tetap sama: sebuah perjalanan suci untuk kembali ke akar, mempererat tali keluarga, dan merayakan kemenangan bersama orang-orang tercinta.

FolksVoice

Lihat Semua
Sony Novian

Sony Novian

Co-Founder of Katagonia Language Solutions

Eksklusif 06 Mar 2026

Di Balik Mikrofon: Hal-Hal yang Tidak Pernah Didengar Publik dari Seorang Interpreter

Tapi tahukah Anda? Semua itu terbayar lunas ketika dua pihak yang berbeda bahasa bisa berjabat tangan dengan hangat, ketika kontrak senilai miliaran rupiah ditandatangani, atau ketika misi kemanusiaan berhasil dijalankan. Di balik mikrofon, saya tidak mencari tepuk tangan. Saya hanya ingin dunia ini sedikit lebih terhubung.

Sony Novian

Sony Novian

Co-Founder of Katagonia Language Solutions

Eksklusif 06 Mar 2026

Ketika Bahasa Menjadi Jembatan, Bukan Sekadar Kata

Dalam banyak pertemuan internasional yang saya hadiri, saya sering menyaksikan bagaimana satu kata yang diterjemahkan dengan nuansa yang sedikit berbeda dapat mengubah suasana sebuah diskusi. Bahasa tidak hanya membawa makna, tetapi juga emosi, konteks, dan kadang juga strategi.

Berita Terkait

Komentar 0 Komentar

Tulis Komentar

Anda harus login untuk berkomentar.

Login / Daftar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!