BUDAYA
Sejarah
Bukan Kue Asli Indonesia! Ternyata Nastar Warisan Belanda yang 'Dijnidonesiakan'
Tim Redaksi
07 Mar 2026 03:29
1,020 kali
Gambar Ilustrasi
Seiring waktu, nastar tidak hanya bertahan, tetapi juga bertransformasi mengikuti selera lokal. Jika tart Eropa biasanya berukuran besar, nastar di Indonesia dibuat lebih kecil, pas untuk sekali gigit. Bentuknya yang bulat atau lonjong dengan permukaan mengilap dari olesan kuning telur menjadi ciri khas yang mudah dikenali.
FolksInsight.com - Setiap Lebaran, toples-toples kaca berisi kue kering selalu menghiasi meja ruang tamu. Salah satu yang paling dinanti dan kerap menjadi rebutan adalah nastar, kue bulat kecil dengan isian selai nanas yang manis-asam dan tekstur lembut lumer di mulut. Tapi tahukah Anda, kue yang begitu lekat dengan tradisi Idulfitri ini ternyata bukanlah resep asli Indonesia, melainkan hasil akulturasi budaya Eropa dan Nusantara yang berlangsung berabad-abad lalu.
Mengutip The Pie Journal, nama nastar sendiri berasal dari bahasa Belanda, yaitu ananas tart yang berarti tart nanas. Pada abad ke-17, bangsa Eropa membawa tradisi membuat pai dan tart ke tanah koloni. Kue-kue ini biasanya dibuat dengan adonan berbahan dasar mentega dan diisi dengan selai buah-buahan khas Eropa seperti apel atau aprikot.
Namun, tantangan muncul ketika para pendatang Eropa menyadari bahwa buah-buah favorit mereka tidak mudah didapat di wilayah tropis Nusantara. Di sinilah proses kreatif terjadi. Mereka mencari pengganti bahan lokal yang melimpah, dan pilihan jatuh pada nanas—buah tropis yang mudah tumbuh di mana-mana.
Dari sinilah lahir adaptasi unik yang menjadi cikal bakal nastar. Teknik pembuatan pastry khas Eropa dipadukan dengan bahan lokal nanas menghasilkan kue tart kecil berisi selai buah tropis yang kemudian dikenal sebagai nastar.
Transformasi Bentuk dan Rasa
Seiring waktu, nastar tidak hanya bertahan, tetapi juga bertransformasi mengikuti selera lokal. Jika tart Eropa biasanya berukuran besar, nastar di Indonesia dibuat lebih kecil, pas untuk sekali gigit. Bentuknya yang bulat atau lonjong dengan permukaan mengilap dari olesan kuning telur menjadi ciri khas yang mudah dikenali.
Teksturnya pun mengalami penyesuaian. Nastar dibuat lebih lembut dan rapuh, berbeda dengan pai Eropa yang cenderung lebih padat. Sementara selai nanasnya dimasak lama hingga kental dengan warna cokelat keemasan dan rasa karamel yang khas, menciptakan perpaduan sempurna antara manis dan sedikit asam.
Di berbagai daerah, nastar bahkan memiliki variasi tersendiri. Ada yang menambahkan keju parut ke dalam adonan untuk menghadirkan rasa gurih yang kontras. Ada pula yang membentuknya menyerupai buah nanas lengkap dengan hiasan daun kecil di bagian atas, menambah nilai estetika kue ini.
Dari Meja Kelas Atas ke Toples Lebaran
Pada awalnya, kue-kue bergaya Eropa seperti nastar hanya bisa dinikmati di kalangan keluarga berada atau komunitas peranakan yang memiliki akses terhadap bahan-bahan mahal seperti mentega dan gula. Namun, seiring berkembangnya industri bahan pangan dan meningkatnya daya beli masyarakat, nastar semakin mudah dibuat di rumah.
Lambat laun, kue ini pun menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi menyambut hari raya, khususnya Lebaran. Tradisi membuat kue kering menjelang Idulfitri berkaitan erat dengan budaya menjamu tamu. Saat Lebaran, rumah-rumah terbuka bagi sanak saudara dan tetangga yang datang bersilaturahmi.
Toples-toples nastar yang tersusun rapi di meja menjadi simbol keramahan sekaligus suguhan manis setelah menyantap hidangan utama seperti ketupat dan opor. Rasanya yang ringan membuat nastar cocok dinikmati bersama teh atau kopi hangat di sela-sela perbincangan hangat dalam kunjungan Lebaran yang panjang.
Dari tart Eropa yang dingin, nastar telah bertransformasi menjadi kue tropis yang hangat dalam tradisi. Ia bukan sekadar kue, melainkan simbol akulturasi yang manis—perpaduan dua dunia yang berpadu dalam satu gigitan.