00:00:00
-
-
Budaya

Merawat Identitas di Tengah Gelombang Globalisasi

Merawat Identitas di Tengah Gelombang Globalisasi

Data Badan Pusat Statistik (2024) menunjukkan bahwa lebih dari 68% penduduk urban usia 15–35 tahun kini mengonsumsi produk budaya asing secara rutin—mulai dari film, musik, hingga gaya hidup digital.

FolksInsight.com — Dalam beberapa tahun terakhir, dinamika budaya Indonesia menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding era sebelumnya. Globalisasi—yang dahulu dipahami sebatas pertukaran ekonomi dan teknologi—kini telah mengubah wajah interaksi sosial, nilai-nilai, hingga orientasi identitas masyarakat. Persoalannya bukan semata apakah budaya lokal mampu bertahan, tetapi bagaimana ia dapat beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Data Badan Pusat Statistik (2024) menunjukkan bahwa lebih dari 68% penduduk urban usia 15–35 tahun kini mengonsumsi produk budaya asing secara rutin—mulai dari film, musik, hingga gaya hidup digital. Sementara itu, riset Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mencatat bahwa keterlibatan generasi muda dalam kegiatan seni dan budaya tradisional menurun hampir 40% dalam satu dekade terakhir. Fenomena ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan transformasi kultural yang berjalan tanpa kontrol. Di satu sisi, keterbukaan budaya menciptakan kreativitas baru dan peluang ekonomi. Namun di sisi lain, ia berpotensi menggerus rasa memiliki terhadap warisan budaya bangsa. Pertanyaan mendasar muncul: apakah kita sedang menuju masyarakat multikultural yang matang, atau justru menjadi konsumen pasif budaya global? Tidak sedikit komunitas lokal yang justru bergerak sendiri dalam merawat tradisi—mulai dari pelestarian tari daerah, revitalisasi bahasa ibu, hingga penggunaan kain tradisional dalam busana modern. Namun upaya tersebut kerap berjalan tanpa dukungan struktural yang memadai. Kebijakan pelestarian budaya sering berhenti pada seremoni dan slogan, sementara ekosistem kreatif yang berpihak pada identitas lokal belum sepenuhnya terbentuk. Di tengah tantangan itu, negara seharusnya memainkan peran strategis. Bukan hanya sebagai regulator, melainkan fasilitator ekosistem budaya yang berkelanjutan. Pendidikan budaya perlu diperkuat, tidak sebatas hafalan sejarah, tetapi sebagai pengalaman hidup: dipraktikkan, dipentaskan, dan dirayakan. Budaya bukan artefak; ia adalah peradaban yang hidup. Jika kita membiarkannya berjalan sendiri tanpa arah, maka yang hilang bukan sekadar tradisi, tetapi karakter bangsa. Kini, tugas terbesar kita adalah memastikan bahwa modernitas dan tradisi tidak berdiri sebagai dua kutub yang saling meniadakan. Keduanya dapat berjalan berdampingan, selama kita menyadari bahwa identitas nasional bukan sekadar warisan masa lalu—melainkan investasi masa depan. Redaksi mengajak seluruh pemangku kepentingan, dari pemerintah, pelaku industri kreatif, akademisi, hingga masyarakat, untuk menempatkan budaya bukan sebagai ornamen, tetapi sebagai fondasi keberlanjutan bangsa. Sebab bangsa yang kehilangan identitas, lambat laun akan kehilangan masa depannya. EDITORIAL – BUDAYA
#BUDAYA #TRADISIONAL #TRADISI

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.