NASIONAL
Peristiwa
Wamen Dikti Soroti Bias Rekrutmen: Foto di CV Dinilai Perkuat Diskriminasi Gender
Oleh: Tim Redaksi
Dipublikasi:
16 Nov 2025 21:31 WIB
Dilihat: 197 kali
Foto: ILUSTRASI
Di sejumlah negara maju, praktik mencantumkan foto dalam CV justru sudah mulai dihapus karena dinilai tidak relevan dengan kompetensi pelamar. Berbagai riset internasional juga menunjukkan bahwa foto dapat memicu penilaian subyektif—baik terkait gender, gaya rambut, warna kulit, hingga bentuk tubuh—yang tidak ada hubungannya dengan kualitas profesional seseorang.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menyoroti praktik pencantuman foto dalam curriculum vitae (CV) yang masih umum dilakukan di Indonesia. Ia menilai kebiasaan tersebut dapat memperkuat bias dan stereotip, terutama dalam proses rekrutmen di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan riset.
Menurut Stella, bias gender masih menjadi tantangan besar dalam pengembangan karier perempuan di dunia sains. Meski kemampuan akademik dan produktivitas riset perempuan tidak kalah dibandingkan laki-laki, proses penilaian yang tidak sepenuhnya objektif membuat perempuan sering dirugikan. Salah satu faktor yang memperkuat bias tersebut adalah penilaian berdasarkan penampilan visual.
Di sejumlah negara maju, praktik mencantumkan foto dalam CV justru sudah mulai dihapus karena dinilai tidak relevan dengan kompetensi pelamar. Berbagai riset internasional juga menunjukkan bahwa foto dapat memicu penilaian subyektif—baik terkait gender, gaya rambut, warna kulit, hingga bentuk tubuh—yang tidak ada hubungannya dengan kualitas profesional seseorang.
Isu ini disampaikan Stella dalam sebuah acara penghargaan sains internasional untuk perempuan yang digelar di Jakarta. Ia mendorong lembaga pendidikan dan sektor industri di Indonesia untuk mulai mengadopsi sistem rekrutmen berbasis merit, di mana penilaian hanya dilakukan berdasarkan kemampuan, rekam jejak profesional, dan integritas akademik.
Sejumlah studi akademik turut memperkuat pandangan tersebut. Penelitian yang dilakukan di Jepang, misalnya, menunjukkan bahwa CV dengan karakteristik visual tertentu—seperti obesitas, kebotakan, atau kerudung—cenderung memperoleh penilaian lebih rendah meski berisi kualifikasi yang sama. Temuan serupa juga muncul dalam eksperimen psikologi sosial yang membandingkan dua CV identik dengan nama laki-laki dan perempuan.
Dengan semakin masifnya penggunaan kecerdasan buatan dalam perekrutan digital, potensi bias justru bisa meningkat apabila data latih mesin masih mengandung stereotip gender. Karena itu, kebijakan penghapusan foto di CV dinilai bukan sekadar perubahan teknis, tetapi langkah strategis untuk menciptakan proses seleksi yang lebih adil dan setara.
Kebiasaan melampirkan foto dalam CV di Indonesia memang belum diatur secara formal. Namun, sejumlah perusahaan teknologi, organisasi internasional, hingga lembaga riset global telah meninggalkan praktik tersebut. Stella menilai, perubahan budaya rekrutmen seperti ini akan menjadi bagian dari upaya lebih besar untuk membuka akses bagi perempuan agar lebih berperan dalam bidang STEM.

Foto Ilustrasi