FolksInsight.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyatakan prospek ekonomi global pada 2026 masih suram. Kondisi ini dipicu oleh konflik geopolitik yang belum mereda, baik di Timur Tengah maupun perang Rusia-Ukraina. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks evaluasi perekonomian terkini.
Meski lingkungan eksternal penuh tantangan, BI tetap optimistis terhadap perekonomian domestik. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. Optimisme ini ditopang oleh pelaksanaan berbagai program stimulus pemerintah, membaiknya keyakinan pelaku ekonomi, serta optimalisasi sumber-sumber pertumbuhan.
Dari sisi eksternal, kinerja ekspor nonmigas menunjukkan peningkatan seiring naiknya permintaan dari sejumlah negara. Neraca perdagangan Juli 2026 mencatat surplus US$0,12 miliar, berbalik dari defisit US$0,45 miliar pada bulan sebelumnya. Selain itu, aliran investasi portofolio asing pada kuartal III-2026 hingga 21 September mencatat net inflow US$0,4 miliar, ditopang penerbitan global bond dan masuknya dana ke Surat Berharga Negara.
BI juga mencermati arah kebijakan moneter global yang semakin ketat. Suku bunga Fed Funds Rate (FFR) berada di kisaran 3,75-4,00 persen pada September 2026, sementara imbal hasil US Treasury meningkat seiring ekspektasi kenaikan FFR dan defisit anggaran AS. Ke depan, BI akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi dengan pemerintah.
Sumber: CNN Indonesia
Link Berita: CNN Indonesia

