FolksInsight.com - Pasangan ganda putra Indonesia, Raymond Indra/Kristian Nikolaus Joaquin, harus mengakui keunggulan wakil Korea Selatan, Kim Won Ho/Seo Seung Jae, di babak semifinal turnamen All England 2026. Duel ketat tersebut berlangsung pada Minggu (8 Maret 2026), dan Raymond/Joaquin kalah dengan skor 19-21, 13-21 setelah memberikan perlawanan sengit di gim pertama.
Pertandingan ini menjadi laga sulit bagi wakil Indonesia tersebut melawan pasangan peringkat satu dunia. Di gim pembuka, Raymond/Joaquin sempat beberapa kali memimpin permainan dan memiliki peluang untuk mengunci kemenangan. Namun, mereka mengaku kurang mampu menjaga ketenangan di momen-momen krusial, sehingga lawan berhasil membalikkan keadaan dan merebut gim pertama.
Raymond menjelaskan bahwa meskipun hasil akhir tidak berpihak kepada mereka, pertandingan berjalan dengan lancar secara keseluruhan. Menurutnya, kekuatan utama Kim/Seo terletak pada kemampuan tampil konsisten, terutama saat memasuki poin-poin akhir. Hal itu menjadi faktor penentu yang membuat pasangan Korea Selatan mampu mengendalikan jalannya laga.
Ia juga menyatakan bahwa pengalaman di All England 2026 sangat berharga bagi dirinya dan Joaquin. Sejak babak pertama, mereka tidak menemui lawan yang mudah. Semua pertandingan di level Super 1000 ini memiliki kualitas tinggi dan persaingan yang ketat, sehingga semakin tinggi level turnamen, semakin sulit pula untuk meraih kemenangan.
Sementara itu, Nikolaus Joaquin menilai perlawanan sengit yang mereka berikan kepada Kim/Seo berawal dari pola pikir yang sudah ditanamkan sejak awal. Keduanya memasuki lapangan dengan keyakinan bahwa setiap pasangan memiliki kesempatan yang sama untuk menang, tergantung pada siapa yang lebih siap secara mental dan teknis di hari itu.
Joaquin mengakui bahwa pada pertandingan tersebut, Kim/Seo tampil lebih siap. Pasangan Korea Selatan mampu mempertahankan performa stabil dari awal hingga akhir laga. Ia juga menyebut bahwa sejak sesi pemanasan, aura dan kualitas permainan lawan sudah terlihat berbeda, sehingga menjadi pelajaran berharga bagi mereka.
Menurut Joaquin, kekonsistenan Kim/Seo menjadi salah satu aspek yang patut dicontoh. Pasangan tersebut mampu menjaga ritme permainan tanpa banyak kesalahan di poin-poin penting. Ia berharap pengalaman ini dapat menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan, khususnya dalam hal menjaga stabilitas performa sepanjang pertandingan.
Raymond dan Joaquin menegaskan bahwa meski kalah, mereka merasa senang bisa bertemu dan berhadapan langsung dengan pasangan nomor satu dunia. Pertemuan ini memberi banyak pembelajaran, mulai dari cara mengelola tekanan hingga strategi menghadapi lawan yang sangat konsisten.
Kekalahan di semifinal All England 2026 ini menutup perjalanan Raymond/Joaquin di turnamen bergengsi tersebut. Meski demikian, keduanya menunjukkan semangat positif dengan menjadikan hasil ini sebagai bahan evaluasi dan peningkatan diri untuk turnamen-turnamen mendatang.



